Musda X LVRI Jambi, PEPABRI Dorong Pewarisan Semangat Juang ’45 kepada Generasi Penerus SBC Soroti SOP dan Peran Askrindo-Jamkrindo dalam Sidang Kasus Semen Baturaja Danrem 042/Gapu dan Gubernur Jambi Tinjau Langsung Penanganan Karhutla di Londerang Pangdam XXII/TB Turun Langsung Pantau Penanganan Karhutla di Kalteng Turun Langsung ke Titik Api, Brigjen TNI Debok dan Kasdam Tambun Bungai Tangani Karhutla di Tjilik Riwut

Home / Opini

Selasa, 28 Januari 2025 - 22:26 WIB

Selat Malaka: Harta Karun Maritim yang Tidak Dinikmati Indonesia

Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla. 

Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla. 

Oleh : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.

Jakarta, 2025 – Indonesia sering menggembar-gemborkan visi “Poros Maritim Dunia”, tetapi ironisnya, potensi strategis Selat Malaka—jalur pelayaran tersibuk di dunia—tidak memberikan keuntungan maksimal bagi bangsa ini. Justru, negara tetangga seperti Singapura yang paling menikmati manfaat ekonomi dari jalur laut vital ini.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi geografis yang mutlak strategis, diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik). Namun, keunggulan ini belum diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi dan geopolitik yang nyata.

Singapura Kaya, Indonesia Hanya Jadi Penonton

Setiap tahun, lebih dari 100.000 kapal melintas di Selat Malaka, membawa perdagangan dunia yang bernilai triliunan dolar. Namun, Singapura mengontrol sebagian besar lalu lintas dan layanan maritim di jalur ini, termasuk :

Baca :  Merawat Indonesia: Saat Rasa, Paham, dan Semangat Kebangsaan Diuji

• Pelayanan bunkering (pengisian bahan bakar kapal)

• Pemanduan navigasi dan sistem lalu lintas laut

• Pelabuhan transshipment terbesar di dunia

Sementara itu, Indonesia yang memiliki wilayah perairan di Selat Malaka hanya mendapatkan sedikit keuntungan. Banyak kapal lebih memilih berlabuh di Singapura dibandingkan pelabuhan-pelabuhan di Sumatra karena infrastruktur kita yang kurang memadai dan kebijakan maritim yang belum proaktif dalam mengoptimalkan potensi ini.

Mengapa Indonesia Tidak Menikmati Selat Malaka..?

1. Kurangnya Infrastruktur Pelabuhan yang Kompetitif

• Pelabuhan di Sumatra seperti Belawan dan Dumai belum mampu bersaing dengan Singapura.

• Fasilitas logistik, kecepatan pelayanan, dan konektivitas hinterland masih jauh tertinggal.

2. Regulasi yang Tidak Proaktif

Baca :  Saatnya Indonesia Memiliki Armada Pemadam dari Udara

• Indonesia tidak memiliki kebijakan agresif untuk menarik kapal agar lebih memilih layanan di pelabuhan domestik.

• Biaya operasional dan birokrasi di Indonesia masih lebih mahal dan rumit dibandingkan Singapura.

3. Minimnya Kontrol atas Lalu Lintas Kapal

• Meskipun Selat Malaka berada di perairan Indonesia, pengaturan lalu lintas kapal didominasi oleh Singapura dan Malaysia.

• Indonesia tidak memiliki peran dominan dalam Vessel Traffic System (VTS) di Selat Malaka, sehingga tidak bisa memaksimalkan pendapatan dari jalur pelayaran ini.

Poros Maritim Dunia: Visi Tanpa Implementasi..?

Sejak Presiden Joko Widodo mencanangkan visi “Poros Maritim Dunia”, konsep ini masih lebih banyak menjadi slogan daripada implementasi nyata. Indonesia belum mampu memanfaatkan posisi strategisnya untuk mendominasi perdagangan maritim internasional.

Baca :  Babinsa Muara Bulian Dampingi Normalisasi Irigasi Sawah, Dukung Ketahanan Pangan di Desa Malapari

Jika benar-benar ingin menjadi Poros Maritim Dunia, maka :

✅ Pelabuhan di Sumatra harus ditingkatkan agar bisa bersaing dengan Singapura

✅ Regulasi dan insentif harus dibuat agar kapal lebih memilih Indonesia daripada Singapura

✅ Indonesia harus memperkuat kontrol terhadap lalu lintas kapal di Selat Malaka

Saatnya Bangkit dan Bela Negara..!

Kita tidak boleh terus-menerus menjadi penonton di jalur laut kita sendiri. Selat Malaka adalah “harta karun” maritim yang seharusnya menguntungkan rakyat Indonesia, bukan hanya negara lain.

Jika kita serius dalam visi maritim, maka bangsa ini harus mulai bertindak—bukan hanya bicara. Saatnya membangun kekuatan maritim sejati dan memastikan bahwa potensi emas ini tidak lagi berlalu begitu saja.

Indonesia harus bangkit, dan ini adalah bagian dari semangat Bela Negara..!

Share :

Baca Juga

Olahraga

Gubernur Jambi Incar Ketua Umum KONI, Pengamat: Rakyat Butuh Pemimpin yang Fokus

Opini

Puasa dan Ketajaman Fokus serta Intuisi: Rahasia Pencerahan Para Nabi dan Ilmuwan

Opini

Budi Setiawan, Milenial dan Kota Jambi BerBudi 2024

Nasional

Catatan Ketua MPR RI : Menuju Endemi, Ikhtiar Merdeka dari COVID-19

Opini

RPJMD dan Pembangunan yang Berakar pada Kebutuhan Rakyat

Opini

Asa Dibalik Berkah Hari Bhayangkara

Opini

Forkopimda Muara Enim Perkuat Komunikasi Dua Arah dengan Masyarakat

Opini

Bangkitkan Indonesia dari Salah Urus: Saatnya Prabowo Memimpin Revolusi Tata Kelola Negara Berdasarkan Konstitusi Asli UUD 1945