Babinsa Desa Awin Bantu Warga Turunkan Material Bangunan, Wujud Nyata Kepedulian TNI Babinsa Kelurahan Selamat Dampingi BPN dan PN Jambi Lakukan Pencocokan Lahan Sengketa, Pastikan Berjalan Aman dan Tertib Babinsa Paal Merah Bersama Warga Gotong Royong Cor Jalan Lingkungan, Wujudkan Akses yang Aman dan Nyaman Pererat Silaturahmi, Babinsa Koramil 415-13/Sebapo Komsos Bersama Warga Desa Bukit Subur Babinsa Payo Selincah Ajak Warga Gotong Royong Bersihkan Parit, Wujudkan Lingkungan Bersih dan Sehat

Home / Opini

Selasa, 28 Januari 2025 - 22:26 WIB

Selat Malaka: Harta Karun Maritim yang Tidak Dinikmati Indonesia

Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla. 

Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla. 

Oleh : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.

Jakarta, 2025 – Indonesia sering menggembar-gemborkan visi “Poros Maritim Dunia”, tetapi ironisnya, potensi strategis Selat Malaka—jalur pelayaran tersibuk di dunia—tidak memberikan keuntungan maksimal bagi bangsa ini. Justru, negara tetangga seperti Singapura yang paling menikmati manfaat ekonomi dari jalur laut vital ini.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi geografis yang mutlak strategis, diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik). Namun, keunggulan ini belum diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi dan geopolitik yang nyata.

Singapura Kaya, Indonesia Hanya Jadi Penonton

Setiap tahun, lebih dari 100.000 kapal melintas di Selat Malaka, membawa perdagangan dunia yang bernilai triliunan dolar. Namun, Singapura mengontrol sebagian besar lalu lintas dan layanan maritim di jalur ini, termasuk :

Baca :  Jaga Kondusivitas Wilayah, Tiga Pilar Kelurahan Lingkar Selatan Gelar Komsos dan Monitoring Malam Hari

• Pelayanan bunkering (pengisian bahan bakar kapal)

• Pemanduan navigasi dan sistem lalu lintas laut

• Pelabuhan transshipment terbesar di dunia

Sementara itu, Indonesia yang memiliki wilayah perairan di Selat Malaka hanya mendapatkan sedikit keuntungan. Banyak kapal lebih memilih berlabuh di Singapura dibandingkan pelabuhan-pelabuhan di Sumatra karena infrastruktur kita yang kurang memadai dan kebijakan maritim yang belum proaktif dalam mengoptimalkan potensi ini.

Mengapa Indonesia Tidak Menikmati Selat Malaka..?

1. Kurangnya Infrastruktur Pelabuhan yang Kompetitif

• Pelabuhan di Sumatra seperti Belawan dan Dumai belum mampu bersaing dengan Singapura.

• Fasilitas logistik, kecepatan pelayanan, dan konektivitas hinterland masih jauh tertinggal.

2. Regulasi yang Tidak Proaktif

Baca :  PANCASILA SEBAGAI KOMPAS MORAL BANGSA: MENGAWAL NEGARA, MENJAGA RAKYAT

• Indonesia tidak memiliki kebijakan agresif untuk menarik kapal agar lebih memilih layanan di pelabuhan domestik.

• Biaya operasional dan birokrasi di Indonesia masih lebih mahal dan rumit dibandingkan Singapura.

3. Minimnya Kontrol atas Lalu Lintas Kapal

• Meskipun Selat Malaka berada di perairan Indonesia, pengaturan lalu lintas kapal didominasi oleh Singapura dan Malaysia.

• Indonesia tidak memiliki peran dominan dalam Vessel Traffic System (VTS) di Selat Malaka, sehingga tidak bisa memaksimalkan pendapatan dari jalur pelayaran ini.

Poros Maritim Dunia: Visi Tanpa Implementasi..?

Sejak Presiden Joko Widodo mencanangkan visi “Poros Maritim Dunia”, konsep ini masih lebih banyak menjadi slogan daripada implementasi nyata. Indonesia belum mampu memanfaatkan posisi strategisnya untuk mendominasi perdagangan maritim internasional.

Baca :  Purnatugas Bukan Akhir Pengabdian, PEPABRI Kota Jambi Terus Merawat Kebersamaan

Jika benar-benar ingin menjadi Poros Maritim Dunia, maka :

✅ Pelabuhan di Sumatra harus ditingkatkan agar bisa bersaing dengan Singapura

✅ Regulasi dan insentif harus dibuat agar kapal lebih memilih Indonesia daripada Singapura

✅ Indonesia harus memperkuat kontrol terhadap lalu lintas kapal di Selat Malaka

Saatnya Bangkit dan Bela Negara..!

Kita tidak boleh terus-menerus menjadi penonton di jalur laut kita sendiri. Selat Malaka adalah “harta karun” maritim yang seharusnya menguntungkan rakyat Indonesia, bukan hanya negara lain.

Jika kita serius dalam visi maritim, maka bangsa ini harus mulai bertindak—bukan hanya bicara. Saatnya membangun kekuatan maritim sejati dan memastikan bahwa potensi emas ini tidak lagi berlalu begitu saja.

Indonesia harus bangkit, dan ini adalah bagian dari semangat Bela Negara..!

Share :

Baca Juga

Opini

Mengenang Tragedi 30 September: Sejarah Kelam, Pelajaran Abadi

Opini

“Prabowo dan Purbaya: Membangun Indonesia Berdaulat Berdasarkan Konstitusi Asli UUD 1945 — Revolusi Ekonomi untuk Keadilan Rakyat”

Opini

Ramadhan dan Pengabdian Tanpa Akhir

Opini

Menyusuri Jejak KH. Kemas Abdussomad, Menyemai Ketahanan Sosial Menuju Kota Jambi Bahagia

Opini

MEGA KORUPSI PERTAMINA: GAJI FANTASTIS, TANG-GUNG JAWAB DIPERTANYAKAN..!

Opini

Secercah Asa Diujung Penantian Panjang Warga Pakpak Bharat Terwujud Lewat TMMD

Opini

KRISIS REKLAMASI SURABAYA: PROYEK WATERFRONT LAND DAN ANCAMAN TERHADAP MASYARAKAT PESISIR

Opini

Presiden Prabowo Subianto Tegas Pangkas Anggaran Demi Rakyat: Rp500 Triliun untuk Infrastruktur dan Kesejahteraan..!