Cegah Karhutla Sejak Dini, Babinsa Koramil Muara Bulian Gencarkan Patroli dan Sosialisasi kepada Warga Babinsa Kenali Asam Bawah Hadiri Safari Subuh Berjamaah, Pererat Silaturahmi dan Tingkatkan Keimanan Umat Babinsa Koramil Muara Tembesi Berikan Pembekalan Persyaratan Administrasi Pendaftaran TNI kepada Siswi MAN 2 Batanghari Babinsa Koramil Sebapo Pantau Perbaikan Jalan Desa, Serap Aspirasi Warga di Suka Makmur Melalui Komsos, Babinsa Koramil Mersam Perkuat Semangat Persatuan dan Kedekatan dengan Warga

Home / Opini

Sabtu, 23 Agustus 2025 - 01:05 WIB

OTT Jadi Tontonan, Korupsi Tak Pernah Selesai

OPERASI tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menjadi sorotan. Seorang wakil menteri tertangkap menerima suap. Publik heboh, media ramai, dan linimasa penuh komentar sinis. Sayangnya, berita seperti ini bukan lagi kejutan, melainkan pengulangan yang terus berulang: pejabat ditangkap, diborgol, dipajang ke publik, lalu masuk penjara. Sementara itu, akar korupsi tetap dibiarkan tumbuh. OTT hanya menebang batang, bukan mencabut akar.

Pertanyaan mendasar pun muncul: mengapa korupsi di negeri ini tak pernah surut, meski puluhan tahun perang melawannya telah dikumandangkan? Jawabannya sederhana tapi menyakitkan: pemberantasan korupsi kita masih berkutat pada penindakan, bukan pencegahan. Dramatisasi OTT memang memuaskan dahaga publik, tetapi tidak pernah menyentuh sumber masalah. Korupsi ibarat rumput liar: dipotong berkali-kali, ia tetap tumbuh karena akarnya dibiarkan.

Baca :  Lebaran di Tengah Perbedaan: Memaknai Kedewasaan dan Persatuan

Kasus Noel, wakil menteri yang ditangkap KPK karena pemerasan, menegaskan ironi itu. Skandal ini bukan sekadar noda pribadi, melainkan goresan pada citra kabinet sekaligus wajah Prabowo. Presiden ingin tampil sebagai pemimpin kuat dan bersih, tetapi ulah seorang pembantunya justru menghadirkan sarkasme politik. Publik melihatnya sebagai “wajah Prabowo” yang tercoreng, seolah-olah sebuah tamparan yang menyakitkan. Inilah paradoks kekuasaan: reputasi seorang kepala negara bisa runtuh bukan oleh lawan politik, melainkan oleh anak buahnya sendiri.

Ada banyak alasan mengapa korupsi begitu sulit diberantas. Sistem politik kita terlalu mahal. Biaya mencalonkan diri sebagai pejabat publik sangat tinggi. Akibatnya, begitu berkuasa, banyak pejabat merasa perlu “balik modal”. Birokrasi pun masih sarat celah. Meski digitalisasi layanan berjalan, praktik “uang pelicin” tetap dianggap biasa. Hukum juga tidak menimbulkan efek jera. Penjara bagi koruptor sering menyerupai rumah singgah nyaman, bahkan sebagian masih bisa mengendalikan bisnis dari balik jeruji. Lebih berbahaya lagi, budaya permisif membuat praktik korupsi kerap dianggap lumrah, dari gratifikasi kecil hingga permainan proyek raksasa.

Baca :  Babinsa dan Lurah Pakuan Baru Patroli Malam, Perkuat Keamanan Lingkungan

Untuk menutup celah ini, langkah mendesak yang perlu dilakukan adalah memperkuat hukuman. Aset hasil korupsi harus disita total, koruptor dilarang kembali ke jabatan publik, dan fasilitas mewah di penjara dihentikan. Digitalisasi layanan publik juga harus diperluas agar pungli dapat diminimalkan, sementara pengawasan dana politik diperketat untuk menghentikan praktik politik uang yang menjadi hulu korupsi. Namun, langkah-langkah jangka pendek saja tidak cukup. Kita butuh perubahan yang lebih mendasar: reformasi politik agar biaya demokrasi tidak lagi mencekik, revolusi birokrasi berbasis merit system, pendidikan integritas sejak dini, dan terutama keteladanan pemimpin. Jika elite bersih, bawahan akan segan untuk bermain kotor.

Baca :  Pgs Kasdim 0415/Jambi Hadiri Upacara Hari Lahir Pancasila di Muaro Jambi, Teguhkan Komitmen Kebangsaan

Perang melawan korupsi tidak boleh berhenti di ruang sidang KPK atau sekadar menjadi tontonan di televisi. Ia harus menjelma sebagai gerakan kolektif bangsa. Tanpa kesadaran bersama, korupsi akan terus menjadi penyakit kronis yang melumpuhkan pembangunan dan merampas masa depan generasi mendatang. Jika kita hanya puas dengan drama OTT, jangan heran bila suatu hari korupsi tak lagi dianggap aib, melainkan rutinitas politik yang biasa. Korupsi hanya akan berhenti tumbuh jika kita berani mencabut akarnya. (JT54)

Penulis: Letkol (Purn) Firdaus

Share :

Baca Juga

Opini

Iran Balas Serangan: Pangkalan Militer AS di Qatar Dihantam Rudal, Wilayah Israel Dilanda Hujan Drone dan Roket Presisi Tinggi

Opini

Dendam Tiongkok terhadap Nusantara: Dari Konflik Majapahit hingga Infiltrasi Modern

Opini

TERUSAN KRA: PELUANG EMAS INDONESIA UNTUK MEMULIHKAN KEJAYAAN MARITIM

Opini

Loreng di Ladang: Babinsa Menjaga Negeri dari Desa, Mengabdi Tanpa Batas

Opini

Silaturahmi Tak Terduga: Jurnalis Rosyid Temukan Sahabat Lama di Tengah Liburan Keluarga ke Batam

Opini

Seleksi Penerimaan Cata PK TNI AD di Korem 042 Gapu Dipantau Ketat Tim Wasgiat Mabesad

Opini

Manfaat Puasa bagi Tubuh Kita

Opini

Langkah Menuju Neraka Dunia: Kunjungan Menlu Iran ke Moskow Picu Konsolidasi Blok Timur Hadapi AS – Perang Dunia Ketiga Semakin Nyata