Lewat Pendekatan Humanis, TNI AD Antar Dua Eks Anggota OPM Kembali ke Pangkuan NKRI Danramil 415-07/Pelayangan Hadiri Pembukaan MTQ, Tegaskan Komitmen Dukung Generasi Qurani Babinsa Koramil 415-13/Sebapo Pererat Silaturahmi dengan Warga Tempino Melalui Komsos Babinsa Koramil 415-10/Jambi Selatan Hadiri Forum Ketua RT, Perkuat Sinergi Membangun Lingkungan Perkuat Sinergi dengan Pelaku Usaha, Tiga Pilar Kunjungi Hotel di Wilayah Sungai Asam

Home / Opini

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:36 WIB

Lebaran di Tengah Perbedaan: Memaknai Kedewasaan dan Persatuan

Oleh: Firdaus

Setiap tahun, Idul Fitri selalu menjadi momen yang istimewa. Namun, tahun ini, kita diingatkan kembali bahwa tanggal Lebaran tidak selalu sama bagi seluruh umat Islam. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, sementara sebagian kalangan, termasuk Muhammadiyah, telah menentukan Lebaran sehari lebih awal, pada Jumat, 20 Maret 2026.

Perbedaan ini bukan sekadar soal kalender. Ia adalah cermin dari kekayaan ijtihad dalam Islam, ruang bagi perbedaan metode yang sah, baik melalui hisab (perhitungan astronomi) maupun rukyat (pengamatan hilal). Pemerintah mengacu pada kriteria MABIMS, forum kerja sama antar Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, yang menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Tahun ini, meski hilal sudah muncul secara astronomi, salah satu syarat tersebut belum terpenuhi, sehingga bulan Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari.

Baca :  Ketika Bonus Demografi Belum Menjadi Bonus Kecerdasan

Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan Lebaran lebih awal dengan prinsip wujudul hilal: selama bulan sudah berada di atas ufuk, bulan baru dianggap masuk. Pendekatan berbeda ini pun terlihat di tingkat internasional, misalnya Arab Saudi yang menggunakan laporan rukyat lokal. Dari sinilah kita belajar: perbedaan penetapan Lebaran bukan hal yang salah, melainkan bagian dari dinamika keagamaan yang menghargai perbedaan metode.

Baca :  Danramil Jambi Selatan Hadiri Pembukaan Pekan Inovasi Lokal Kecamatan Paal Merah

Yang penting adalah sikap kita. Kedewasaan umat diuji bukan ketika tanggalnya sama, melainkan ketika perbedaan tidak menjadi perpecahan. Persatuan, ukhuwah Islamiyah, dan saling menghormati harus tetap dijaga. Lebaran adalah momen untuk kembali fitri, memperkuat silaturahmi, dan menyambut kemenangan dengan hati bersih.

Baca :  Inovasi Batik Tapis, Upaya Menjaga Tradisi Lampung Tetap Relevan

Jadi, Jumat atau Sabtu, yang utama adalah kita tetap menyambut Idul Fitri dengan penuh syukur, menjaga persaudaraan, dan menguatkan kebersamaan. Perbedaan adalah keniscayaan, namun persatuan adalah pilihan. Dan pilihan itu, di tangan kita semua.

Share :

Baca Juga

Opini

Diamnya Orang Baik: Sebuah Renungan Tentang Kezaliman

Opini

“Manifesto Kebangsaan”: Sebuah Jalan Terang Menuju Indonesia Adil, Makmur, dan Berdaulat

Opini

MEGA KORUPSI PERTAMINA: GAJI SELANGIT, PENGA-WASAN BOBROK, RAKYAT TERJERAT

Opini

Senja Solidaritas: Kisah Pengabdian Tak Berujung dalam Keluarga Besar Pepabri

Opini

Kekuasaan Tidak Ada yang Abadi

Opini

DAMPAK POSITIF BAGI INDONESIA ATAS RENCANA DIOPERASIONALKANNYA TERUSAN KRA

Opini

HAKIKAT AKAL, KEHIDUPAN, DAN KEMATIAN: MENGUNGKAP RAHASIA AZAB KUBUR DENGAN LOGIKA, SAINS, DAN WAHYU

Opini

PEPABRI: Jejak Juang yang Tak Pernah Purna