Oleh: Firdaus
Setiap tahun, Idul Fitri selalu menjadi momen yang istimewa. Namun, tahun ini, kita diingatkan kembali bahwa tanggal Lebaran tidak selalu sama bagi seluruh umat Islam. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, sementara sebagian kalangan, termasuk Muhammadiyah, telah menentukan Lebaran sehari lebih awal, pada Jumat, 20 Maret 2026.
Perbedaan ini bukan sekadar soal kalender. Ia adalah cermin dari kekayaan ijtihad dalam Islam, ruang bagi perbedaan metode yang sah, baik melalui hisab (perhitungan astronomi) maupun rukyat (pengamatan hilal). Pemerintah mengacu pada kriteria MABIMS, forum kerja sama antar Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, yang menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Tahun ini, meski hilal sudah muncul secara astronomi, salah satu syarat tersebut belum terpenuhi, sehingga bulan Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari.
Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan Lebaran lebih awal dengan prinsip wujudul hilal: selama bulan sudah berada di atas ufuk, bulan baru dianggap masuk. Pendekatan berbeda ini pun terlihat di tingkat internasional, misalnya Arab Saudi yang menggunakan laporan rukyat lokal. Dari sinilah kita belajar: perbedaan penetapan Lebaran bukan hal yang salah, melainkan bagian dari dinamika keagamaan yang menghargai perbedaan metode.
Yang penting adalah sikap kita. Kedewasaan umat diuji bukan ketika tanggalnya sama, melainkan ketika perbedaan tidak menjadi perpecahan. Persatuan, ukhuwah Islamiyah, dan saling menghormati harus tetap dijaga. Lebaran adalah momen untuk kembali fitri, memperkuat silaturahmi, dan menyambut kemenangan dengan hati bersih.
Jadi, Jumat atau Sabtu, yang utama adalah kita tetap menyambut Idul Fitri dengan penuh syukur, menjaga persaudaraan, dan menguatkan kebersamaan. Perbedaan adalah keniscayaan, namun persatuan adalah pilihan. Dan pilihan itu, di tangan kita semua.










