Di Tengah Kabut Asap Karhutla, PEPABRI Jambi Tetap Semarakkan HUT ke-67 Danrem 042/Gapu dan Gubernur Jambi Kembali Turun ke Lapangan, Perkuat Penanganan Karhutla di Pulau Mentaro Menhut dan Kepala BNPB Pimpin Rakor Teknis Karhutla di Jambi, Sinergi TNI-Polri dan Pemda Diperkuat Karhutla Tahura Batanghari Kembali Terjadi, Kasiops Korem 042/Gapu Dampingi Gubernur Jambi Tinjau Lokasi Korem 042/Gapu dan BWS Sumatera VI Gerak Cepat Salurkan Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan

Home / Opini

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:36 WIB

Lebaran di Tengah Perbedaan: Memaknai Kedewasaan dan Persatuan

Oleh: Firdaus

Setiap tahun, Idul Fitri selalu menjadi momen yang istimewa. Namun, tahun ini, kita diingatkan kembali bahwa tanggal Lebaran tidak selalu sama bagi seluruh umat Islam. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, sementara sebagian kalangan, termasuk Muhammadiyah, telah menentukan Lebaran sehari lebih awal, pada Jumat, 20 Maret 2026.

Perbedaan ini bukan sekadar soal kalender. Ia adalah cermin dari kekayaan ijtihad dalam Islam, ruang bagi perbedaan metode yang sah, baik melalui hisab (perhitungan astronomi) maupun rukyat (pengamatan hilal). Pemerintah mengacu pada kriteria MABIMS, forum kerja sama antar Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, yang menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Tahun ini, meski hilal sudah muncul secara astronomi, salah satu syarat tersebut belum terpenuhi, sehingga bulan Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari.

Baca :  Silaturahmi dengan PPAD, Kasad Paparkan Inovasi TNI AD untuk Prajurit dan Masyarakat

Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan Lebaran lebih awal dengan prinsip wujudul hilal: selama bulan sudah berada di atas ufuk, bulan baru dianggap masuk. Pendekatan berbeda ini pun terlihat di tingkat internasional, misalnya Arab Saudi yang menggunakan laporan rukyat lokal. Dari sinilah kita belajar: perbedaan penetapan Lebaran bukan hal yang salah, melainkan bagian dari dinamika keagamaan yang menghargai perbedaan metode.

Baca :  Dukung Ketahanan Pangan, Babinsa Pasir Panjang Dampingi Poktan Abadi Rawat Tanaman Cabai

Yang penting adalah sikap kita. Kedewasaan umat diuji bukan ketika tanggalnya sama, melainkan ketika perbedaan tidak menjadi perpecahan. Persatuan, ukhuwah Islamiyah, dan saling menghormati harus tetap dijaga. Lebaran adalah momen untuk kembali fitri, memperkuat silaturahmi, dan menyambut kemenangan dengan hati bersih.

Baca :  HUT Polri ke-80: Menjaga Kepercayaan Publik di Tengah Dinamika Zaman

Jadi, Jumat atau Sabtu, yang utama adalah kita tetap menyambut Idul Fitri dengan penuh syukur, menjaga persaudaraan, dan menguatkan kebersamaan. Perbedaan adalah keniscayaan, namun persatuan adalah pilihan. Dan pilihan itu, di tangan kita semua.

Share :

Baca Juga

Opini

Membaca Lansekap Jambi: Mengurai Kompleksitas, Menata Konektivitas

Opini

Api Pancasila Tak Pernah Padam: Menolak Lupa, Menjaga Bangsa

Opini

Pahala Puasa Ramadhan dalam Al-Qur’an dan Hadits

Opini

Teori Bohlam Listrik: Sebuah Cermin bagi Pejabat Publik tentang Arti Jabatan, Kehormatan, dan Kehidupan Pasca Kekuasaan

Opini

Pers di Ujung Pedang Digital: Hoaks, AI, dan Krisis yang Menguji Jiwa Demokrasi Indonesia

Olahraga

Gubernur Jambi Incar Ketua Umum KONI, Pengamat: Rakyat Butuh Pemimpin yang Fokus

Opini

Di Balik Batu Domino: Pelajaran Kehidupan dari Sebuah Permainan

Opini

Kebangkrutan Demokrasi: Generasi Menjadi Taruhan