MENABUR BUNGA, MENGINGAT SEJARAH: PELAJARAN 30 SEPTEMBER UNTUK GENERASI BANGSA Ziarah Nasional HUT ke-81 TNI di TMP Satria Bhakti Jambi, PEPABRI Tegaskan Semangat Pengabdian Tak Pernah Berakhir Doa Bersama, Keluarga Besar Korem 042/Gapu Panjatkan Syukur dan Mohon Kelancaran Pengabdian Penerangan Korem di Era Informasi: Dari Publikasi Menuju Kepercayaan 128 Tim Adu Strategi, Tim Mabes 05 Juara Turnamen Domino 101 Piala Panglima TNI di Jambi

Home / Opini

Rabu, 30 September 2026 - 19:06 WIB

MENABUR BUNGA, MENGINGAT SEJARAH: PELAJARAN 30 SEPTEMBER UNTUK GENERASI BANGSA

Ada saatnya bunga bukan sekadar bunga. Ia menjadi simbol penghormatan, keheningan, sekaligus pengingat bahwa sebuah bangsa pernah melewati jalan sejarah yang penuh darah dan air mata.

Setiap 30 September, ingatan bangsa Indonesia kembali tertuju kepada sebuah episode yang hingga kini menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah nasional. Pada penghujung September hingga awal Oktober 1965, terjadi penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat. Tujuh perwira kemudian dikenang sebagai Pahlawan Revolusi. Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik balik penting dalam perjalanan politik Indonesia.

Namun, sejarah tidak seharusnya berhenti pada hafalan tentang tanggal, nama dan kronologi. Sejarah harus menjadi cermin. Di dalamnya kita melihat keberanian, pengorbanan, kesalahan, kekerasan, kehilangan dan luka yang pernah dialami bangsa.

Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah mengalami tragedi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu belajar dari tragedi tanpa menjadikannya alasan untuk mengulangi permusuhan.

Di situlah makna sesungguhnya dari mengenang.

Kita mengenang bukan untuk membangkitkan dendam. Kita mengingat bukan untuk mempertajam perpecahan. Kita menabur bunga bukan hanya di atas pusara para pahlawan, tetapi juga menaburkan kesadaran di dalam diri kita bahwa persatuan bangsa memiliki harga yang sangat mahal.

Peristiwa 1965 sendiri merupakan bagian dari sejarah yang kompleks. Sampai sekarang terdapat berbagai kajian dan perbedaan penafsiran mengenai aktor, latar belakang serta dinamika politik yang melingkupinya. Karena itu, membicarakannya membutuhkan kehati-hatian, keterbukaan terhadap sumber sejarah dan kesediaan membedakan antara fakta, tafsir dan kepentingan politik pada zamannya.

Namun, satu hal tidak boleh kita abaikan: periode 1965–1966 juga meninggalkan korban kekerasan dan penderitaan kemanusiaan yang panjang. Berbagai penyelidikan dan kajian mengenai pelanggaran HAM berat masa lalu menunjukkan bahwa tragedi tersebut tidak hanya meninggalkan persoalan politik, tetapi juga luka kemanusiaan bagi korban dan keluarga mereka.

Karena itu, sejarah harus dipandang dengan mata yang jernih dan hati yang dewasa.

Kita tidak boleh menghapus luka dari ingatan bangsa. Tetapi kita juga tidak boleh menjadikan luka sebagai bahan bakar untuk menciptakan luka baru.

Jangan lupakan sejarah, tetapi jangan wariskan kebencian.

Inilah barangkali pelajaran paling penting yang dapat kita tarik dari 30 September.

Lebih dari enam dekade setelah peristiwa tersebut, Indonesia menghadapi medan perjuangan yang berbeda. Kita tidak sedang berada dalam situasi politik seperti 1965. Kita hidup dalam era demokrasi, keterbukaan informasi dan kemajuan teknologi.

Tetapi perubahan zaman tidak berarti hilangnya tantangan terhadap persatuan.

Dulu propaganda dapat disebarkan melalui surat kabar, radio, pamflet dan pertemuan-pertemuan politik. Hari ini, sebuah informasi dapat menyebar dalam hitungan detik melalui telepon genggam.

Dulu masyarakat membutuhkan waktu untuk menerima sebuah kabar dari daerah lain. Sekarang sebuah video, potongan pernyataan atau berita yang belum tentu benar dapat beredar kepada jutaan orang sebelum kebenarannya sempat diperiksa.

Inilah tantangan baru bangsa Indonesia.

Hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, provokasi dan fanatisme kelompok dapat menjadi bahan bakar perpecahan. Yang lebih mengkhawatirkan, terkadang kita sendiri menjadi bagian dari rantai penyebarannya.

Kita meneruskan sebuah pesan hanya karena isinya sesuai dengan keyakinan kita.

Kita mempercayai sebuah informasi hanya karena dikirim oleh orang yang kita kenal.

Kita membagikan sebuah video hanya karena video tersebut menyerang pihak yang tidak kita sukai.

Padahal kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang kita dukung dan siapa yang kita tidak sukai.

Kebenaran harus diuji dengan fakta.

Karena itu, tabayun adalah patriotisme.

Berhenti sejenak sebelum membagikan informasi adalah patriotisme.

Memeriksa sumber berita adalah patriotisme.

Tidak ikut menyebarkan fitnah adalah patriotisme.

Menghormati orang yang berbeda pandangan adalah patriotisme.

Dan menolak provokasi yang dapat memecah persaudaraan adalah patriotisme.

Patriotisme hari ini tidak selalu berbentuk perjuangan bersenjata. Medan pengabdian telah berubah. Perjuangan dapat berlangsung di ruang kelas, rumah sakit, sawah, pasar, kantor pemerintahan, ruang redaksi, organisasi masyarakat, tempat kerja dan bahkan di ruang digital.

Baca :  Merawat Indonesia: Saat Rasa, Paham, dan Semangat Kebangsaan Diuji

Seorang guru yang mendidik dengan tulus sedang membangun Indonesia.

Seorang dokter yang melayani pasien dengan penuh tanggung jawab sedang mengabdi kepada Indonesia.

Seorang petani yang menjaga ketahanan pangan sedang berjuang untuk Indonesia.

Seorang pekerja yang mencari nafkah dengan jujur sedang membangun Indonesia.

Seorang prajurit yang menjalankan tugas dengan disiplin sedang menjaga Indonesia.

Seorang wartawan yang menyampaikan informasi berdasarkan fakta sedang menjaga kualitas ruang publik.

Dan seorang warga yang menghormati tetangganya meskipun berbeda agama, suku, pilihan politik maupun latar belakang sedang merawat Indonesia.

Maka cinta tanah air tidak cukup diucapkan.

Ia harus dibuktikan.

Tidak melakukan korupsi adalah patriotisme.

Menaati hukum adalah patriotisme.

Menjaga fasilitas umum adalah patriotisme.

Menjaga lingkungan adalah patriotisme.

Menghormati perbedaan adalah patriotisme.

Menolong sesama adalah patriotisme.

Dan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan adalah salah satu bentuk patriotisme yang paling penting.

Demokrasi memberikan ruang bagi perbedaan. Kita tidak harus memiliki pandangan yang sama. Kita tidak harus memilih tokoh yang sama. Kita tidak harus memiliki preferensi politik yang sama.

Bahkan kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari kehidupan demokrasi sepanjang disampaikan secara bertanggung jawab.

Tetapi kritik harus dibedakan dari kebencian.

Kritik bukan nyinyir. Perbedaan bukan permusuhan.

Kita boleh keras terhadap persoalan, tetapi tetap santun terhadap manusia.

Kita boleh berbeda pilihan, tetapi tidak harus saling merendahkan.

Kita boleh berbeda pandangan, tetapi tetap duduk dalam rumah kebangsaan yang sama.

Sebab pemimpin dapat berganti. Pemerintahan dapat berganti. Partai politik dapat berganti. Kebijakan dapat berubah.

Tetapi Indonesia harus tetap menjadi rumah bersama.

Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya.

Pancasila tidak boleh berhenti sebagai lima sila yang dihafalkan pada saat upacara. Pancasila harus menjadi nilai yang hidup dalam perilaku.

Ketuhanan mengajarkan penghormatan terhadap keyakinan.

Kemanusiaan mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia.

Persatuan mengingatkan bahwa kepentingan bangsa lebih besar daripada kepentingan kelompok.

Kerakyatan mengajarkan pentingnya musyawarah.

Keadilan sosial mengingatkan bahwa pembangunan harus dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat.

Jika nilai-nilai tersebut benar-benar hidup, perbedaan tidak perlu menjadi alasan untuk bermusuhan.

Sebagai seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat, saya memandang persoalan ini bukan semata-mata dari halaman buku sejarah.

Saya pernah menjadi bagian dari institusi yang mengemban tugas mempertahankan kedaulatan negara. Selama menjadi prajurit, saya belajar bahwa sumpah, disiplin, loyalitas dan tanggung jawab bukan sekadar kata-kata yang diucapkan dalam upacara. Semua itu harus diwujudkan dalam tindakan.

Saya pernah mengenakan seragam.

Saya pernah menjalankan tugas.

Saya pernah merasakan bagaimana sebuah organisasi membutuhkan disiplin dan kepercayaan untuk dapat menjalankan amanah.

Kini seragam itu telah saya lepas.

Pangkat dan jabatan kedinasan telah menjadi bagian dari masa lalu.

Tetapi kecintaan kepada tanah air tidak ikut pensiun.

Pengabdian hanya berubah bentuk.

Jika dahulu pengabdian dilakukan melalui tugas kedinasan, hari ini pengabdian dapat dilakukan melalui tulisan, pemikiran, organisasi, kegiatan sosial dan keteladanan di tengah masyarakat.

Bagi saya, menjadi purnawirawan bukan berarti selesai dari kehidupan kebangsaan. Justru pengalaman selama menjadi prajurit harus dapat diterjemahkan menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat.

Purnawirawan tidak semestinya hanya berbicara tentang kejayaan masa lalu. Purnawirawan harus mampu menjadi jembatan antara pengalaman generasi sebelumnya dan tantangan generasi berikutnya.

Kami pernah menghadapi medan perjuangan dengan seragam, latihan, penugasan dan disiplin militer.

Generasi muda hari ini menghadapi medan yang berbeda.

Mereka menghadapi dunia digital, persaingan global, perubahan teknologi, tantangan ekonomi dan derasnya arus informasi.

Tetapi nilai dasarnya tetap sama:

disiplin, kejujuran, tanggung jawab, persatuan dan kecintaan kepada tanah air.

Karena itulah sejarah harus diwariskan dengan cara yang bijaksana.

Baca :  MENJAGA MARWAH PERS, MERAWAT DEMOKRASI

Generasi muda tidak cukup hanya diperintahkan untuk mencintai Indonesia. Mereka harus memahami mengapa Indonesia harus dijaga.

Mereka harus memahami bahwa keberagaman bukan kelemahan.

Bahwa perbedaan bukan ancaman.

Bahwa kebebasan memiliki batas tanggung jawab.

Bahwa demokrasi membutuhkan kedewasaan.

Dan bahwa kemajuan teknologi harus diikuti dengan kemajuan etika.

Generasi tua memiliki pengalaman.

Generasi muda memiliki energi dan kreativitas.

Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan.

Generasi tua harus bersedia mendengar.

Generasi muda harus bersedia belajar.

Dari pertemuan keduanya, Indonesia dapat membangun masa depan yang lebih kuat.

Kepada pemuda negeri, saya ingin menitipkan harapan yang sederhana, tetapi sangat penting: jangan pernah kehilangan arah di tengah perubahan zaman.

Kalian adalah generasi yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Indonesia yang kami wariskan bukanlah Indonesia yang sempurna. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Masih ada ketimpangan, kemiskinan, korupsi, persoalan lingkungan, tantangan teknologi dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Tetapi jangan melihat semua itu hanya sebagai masalah. Lihatlah sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa generasi kalian mampu melakukan sesuatu yang lebih baik.

Jangan menjadi generasi yang hanya pandai mengkritik, tetapi tidak mau berbuat. Jangan menjadi generasi yang mudah marah karena perbedaan. Jangan pula menjadi generasi yang mudah percaya pada informasi yang belum teruji kebenarannya.

Jadilah pemuda yang berpikir kritis, tetapi tetap beradab. Berani menyampaikan pendapat, tetapi tidak kehilangan rasa hormat. Berani mengoreksi kekuasaan, tetapi tidak terjebak dalam kebencian. Berani berbeda, tetapi tetap menjaga persaudaraan.

Gunakan teknologi untuk mencerdaskan, bukan untuk memecah belah.

Gunakan media sosial untuk menyebarkan gagasan, bukan kebencian.

Gunakan pendidikan untuk membangun masa depan, bukan sekadar mengejar gelar.

Dan gunakan kebebasan yang kalian miliki untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.

Pemuda negeri harus memiliki mimpi yang besar, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan. Jadilah generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tidak kehilangan jati diri. Jadilah generasi yang mampu bersaing secara global, tetapi tetap mencintai tanah air.

Kalian tidak harus menjadi tentara untuk menjadi patriot.

Kalian tidak harus menjadi pejabat untuk mengabdi.

Kalian tidak harus menjadi tokoh besar untuk memberikan arti bagi Indonesia.

Jadilah dokter yang jujur, guru yang tulus, insinyur yang bertanggung jawab, pengusaha yang berintegritas, petani yang inovatif, pekerja yang disiplin, wartawan yang independen, seniman yang mencerdaskan, akademisi yang kritis, atau apa pun profesi kalian kelak.

Di mana pun kalian berada, jadilah manusia yang membawa manfaat.

Dan satu pesan yang sangat penting: jangan biarkan perbedaan pilihan politik merusak persahabatan, persaudaraan dan masa depan kalian.

Politik adalah bagian dari demokrasi, tetapi Indonesia jauh lebih besar daripada politik lima tahunan.

Kalian boleh berbeda pilihan.

Kalian boleh berbeda pendapat.

Kalian boleh mengkritik siapa pun.

Tetapi jangan pernah membenci sesama anak bangsa hanya karena berbeda pilihan.

Sebab setelah pesta demokrasi selesai, kita tetap tinggal di rumah yang sama:

Indonesia.

Kepada pemuda negeri, saya titip Merah Putih.

Rawatlah dengan ilmu.

Jaga dengan kejujuran.

Kuatkan dengan persatuan.

Dan kibarkan dengan prestasi.

Jangan hanya bertanya, “Apa yang dapat diberikan negara kepada saya?”

Biasakan bertanya, “Apa yang dapat saya berikan kepada negara?”

Pertanyaan sederhana itu dapat mengubah cara kita memandang pengabdian.

Kami, generasi yang lebih dahulu melewati berbagai zaman, pada akhirnya akan sampai pada batas pengabdian kami. Tetapi kalianlah yang akan melanjutkan perjalanan panjang Republik ini.

Karena itu, jangan warisi ketakutan kami. Warisilah semangat kami.

Jangan hanya mengingat luka sejarah. Ambillah pelajarannya.

Jangan hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Bangunlah masa depan dengan keberanian, ilmu pengetahuan, integritas dan persaudaraan.

Kami mungkin tidak dapat memberikan kepada kalian Indonesia yang sempurna.

Tetapi kami berharap kalian mampu mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Baca :  Babinsa Jambi Timur Monitoring Pasar Murah, Pastikan Kegiatan Berjalan Aman dan Tertib

Kepada pemuda negeri, lanjutkan perjuangan.

Jadilah generasi yang tidak mudah dipecah, tidak mudah diprovokasi, tidak mudah menyerah dan tidak mudah kehilangan harapan.

Sebab masa depan Indonesia bukan milik generasi kami.

Masa depan Indonesia adalah milik kalian.

Kita juga harus berani mengakui bahwa persoalan masa lalu belum seluruhnya selesai dalam ingatan bangsa. Peristiwa 1965–1966 masih menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang menyisakan perdebatan, penelitian dan persoalan kemanusiaan. Berbagai korban dan keluarga korban membawa dampak panjang dari kekerasan yang terjadi.

Fakta tersebut semestinya mendorong kita untuk semakin menghargai kehidupan manusia.

Bukan untuk mempertentangkan korban dengan korban.

Bukan untuk membangun kebencian antargenerasi.

Tetapi untuk memastikan bahwa bangsa ini memiliki mekanisme yang lebih baik dalam menyelesaikan perbedaan: melalui hukum, dialog, demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Sebab sejarah akan menjadi tidak berguna jika hanya menghasilkan hafalan tanpa kebijaksanaan.

Kita harus mampu mengatakan kepada generasi muda bahwa tragedi tidak boleh terulang.

Jika ada perbedaan, selesaikan melalui dialog.

Jika ada masalah, selesaikan melalui hukum.

Jika ada kritik, jawab dengan argumentasi.

Jika ada informasi, periksa kebenarannya.

Jika ada perbedaan pilihan, hormati hak masing-masing.

Jika ada kesalahan, berani mengakuinya.

Jika ada luka sejarah, rawat dengan kebijaksanaan, bukan dengan kebencian.

Itulah cara sebuah bangsa belajar menjadi dewasa.

Pada akhirnya, menghormati sejarah bukan berarti hidup di masa lalu.

Justru dengan memahami masa lalu, kita belajar melangkah lebih hati-hati menuju masa depan.

Bunga yang ditaburkan di pusara para pahlawan suatu hari akan layu.

Karangan bunga akan mengering.

Upacara akan selesai.

Para peserta akan kembali ke rumah masing-masing.

Tetapi pesan sejarah tidak boleh ikut selesai ketika upacara berakhir.

Pesan itu harus dibawa pulang.

Dibawa ke rumah.

Dibawa ke sekolah.

Dibawa ke kantor.

Dibawa ke organisasi.

Dibawa ke ruang publik.

Dan terutama, dibawa ke dalam hati setiap anak bangsa.

Sebab menghormati pahlawan bukan hanya dengan menabur bunga di makam mereka.

Penghormatan yang paling tinggi adalah menjaga Indonesia yang dahulu mereka perjuangkan.

Kita tidak dapat mengubah sejarah.

Tetapi kita dapat menentukan apa yang kita lakukan setelah mempelajarinya.

Kita tidak dapat menghidupkan kembali mereka yang telah gugur.

Tetapi kita dapat memastikan pengorbanan mereka tidak kehilangan makna.

Kita tidak dapat menghapus seluruh luka masa lalu.

Tetapi kita dapat mencegah lahirnya luka baru.

Inilah tugas kita.

Inilah tanggung jawab kita.

Dan inilah bentuk patriotisme yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Seragam boleh dilepas.

Pangkat boleh berakhir.

Jabatan boleh ditinggalkan.

Tetapi pengabdian kepada bangsa dan negara tidak mengenal kata pensiun.

Selama masih ada anak bangsa yang bersedia menjaga persatuan, menghormati perbedaan, menjunjung Pancasila, menaati konstitusi dan mengutamakan kepentingan Indonesia, selama itu pula api patriotisme akan tetap menyala.

Maka pada setiap 30 September, marilah kita menundukkan kepala sejenak.

Bukan hanya untuk mengenang mereka yang gugur.

Tetapi juga untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga Indonesia?

Sebab pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh mereka yang memegang jabatan.

Masa depan bangsa ditentukan oleh jutaan rakyat yang setiap hari memilih antara kebencian atau persaudaraan, antara kebohongan atau kebenaran, antara kepentingan diri sendiri atau kepentingan bersama.

Pilihan-pilihan kecil itulah yang sesungguhnya menentukan arah perjalanan sebuah bangsa.

Jangan lupakan sejarah.

Jangan wariskan kebencian.

Rawat persaudaraan.

Jaga persatuan.

Lanjutkan pengabdian.

Bunga boleh layu.

Waktu boleh berlalu.

Generasi boleh berganti.

Tetapi sejarah harus tetap hidup sebagai pelita.

Dan selama pelita itu tetap menyala, kita akan selalu tahu ke mana bangsa ini harus melangkah.

MERAH PUTIH TAK BOLEH PADAM.

Jambi, 30 September 2026

Oleh: Letkol (Purn) Firdaus

Share :

Baca Juga

Opini

SKANDAL PEMAGARAN LAUT 30,16 KM DI TANGERANG: KEJAHATAN TERSTRUKTUR DAN PERAMPOKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT!

Opini

Ramadhan dan Pengabdian Tanpa Akhir

Opini

Indonesia di Ambang Kebangkitan Maritim: Strategi Menghadang Dominasi Singapura dan Malaysia dengan Hub Port Malahayati dan Kijing

Opini

Antara Pragmatisme dan Ideologi: Strategi PDIP dalam Pilkada Jambi 2024

Opini

Rakyat Menggugat: Rentetan Blunder Pemerintahan Prabowo dan Ledakan Amarah Publik

Opini

Gizi Anak Bangsa dan Ujian Integritas Kebijakan Publik

Opini

Paradoks PIK 2: Antara Pengingkaran dan Kenyataan, Siapa yang Bermain di Balik Pagar Laut..?

Opini

KEPEMIMPINAN EFEKTIF DI ERA DIGITAL