Oleh: Letkol (Purn) Firdaus
Delapan puluh satu tahun bukan waktu yang pendek bagi sebuah institusi. Di dalam rentang waktu itu ada sejarah perjuangan, pengorbanan, pergantian generasi, perubahan zaman, serta berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia.
Tentara Nasional Indonesia (TNI) lahir dari rakyat dan tumbuh dalam denyut perjuangan rakyat. Karena itu, ketika TNI memperingati hari jadinya yang ke-81, ada satu hal mendasar yang tidak boleh dilupakan: kekuatan TNI pada hakikatnya tidak hanya berada pada senjata, teknologi dan kemampuan tempur, tetapi juga pada kepercayaan rakyat.
Tema HUT ke-81 TNI, “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, menurut saya memiliki makna yang sangat dalam.
Tema tersebut bukan hanya menggambarkan hubungan antara TNI dan rakyat, tetapi juga mengingatkan bahwa kekuatan pertahanan negara pada akhirnya harus bermuara pada cita-cita kemerdekaan: Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur.
Sebagai seorang purnawirawan, saya melihat tema ini bukan sekadar kalimat seremonial. Ia merupakan sebuah pesan moral sekaligus refleksi perjalanan panjang TNI.
TNI kuat karena rakyat. Tetapi kekuatan TNI juga harus kembali untuk kepentingan rakyat.
Di sinilah hubungan antara TNI dan rakyat menjadi penting.
Sejarah telah membuktikan bahwa TNI dan rakyat pernah berada dalam satu barisan ketika mempertahankan kemerdekaan. Pada masa itu, kekuatan persenjataan sangat terbatas. Namun, para pejuang memiliki sesuatu yang tidak ternilai: keberanian dan dukungan rakyat.
Rakyat memberikan informasi, perlindungan, makanan, tempat berlindung dan berbagai bentuk dukungan lainnya. Sementara prajurit berdiri di garis depan mempertaruhkan jiwa dan raganya.
Hubungan seperti itulah yang membuat TNI tidak pernah dapat dipisahkan dari rakyat.
Hari ini zaman telah berubah.
Indonesia tidak lagi berada dalam situasi perang mempertahankan kemerdekaan seperti masa lalu. TNI menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Ancaman dapat datang dalam bentuk militer maupun nonmiliter. Perkembangan teknologi, perang informasi, disinformasi, konflik sosial, intoleransi dan berbagai bentuk ancaman terhadap persatuan bangsa merupakan persoalan yang harus dihadapi bersama.
Karena itu, makna TNI kuat bersama rakyat juga harus diterjemahkan sesuai perkembangan zaman.
Kekuatan TNI tidak boleh hanya dilihat dari seberapa modern alutsista yang dimiliki. Modernisasi pertahanan tentu penting. Negara yang berdaulat membutuhkan kekuatan pertahanan yang tangguh dan profesional.
Namun, ada kekuatan lain yang tidak kalah penting, yaitu kepercayaan rakyat.
Senjata dapat dibeli.
Teknologi dapat diperbarui.
Tetapi kepercayaan rakyat tidak dapat dibeli.
Kepercayaan dibangun melalui pengabdian, keteladanan, profesionalisme, integritas dan kehadiran nyata ketika rakyat membutuhkan.
Karena itu, kehadiran prajurit dalam membantu masyarakat yang tertimpa bencana, membangun fasilitas umum, mendukung kegiatan sosial, menjaga wilayah perbatasan maupun menjalankan tugas kemanusiaan sesungguhnya merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan TNI dengan rakyat.
TNI tidak boleh berjarak dengan rakyat.
Namun, dekat dengan rakyat juga bukan berarti kehilangan profesionalisme. Justru kedekatan tersebut harus dibangun dalam kerangka tugas, hukum dan konstitusi.
Begitu pula dengan rakyat. Dukungan kepada TNI tidak berarti memberikan cek kosong kepada institusi.
Dalam negara demokrasi, kritik tetap diperlukan.
Mencintai TNI tidak berarti harus membenarkan semua tindakan TNI. Kritik terhadap TNI juga tidak berarti membenci TNI.
Kritik yang disampaikan berdasarkan fakta dan niat memperbaiki justru dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat institusi.
TNI yang kuat bukan TNI yang kebal terhadap kritik.
TNI yang kuat adalah TNI yang profesional, disiplin, berintegritas, taat kepada konstitusi dan mampu melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri.
Begitu pula dengan pemerintah dan institusi negara lainnya.
Kita harus mampu membedakan antara loyalitas kepada negara dengan loyalitas kepada individu.
Bagi seorang prajurit, sumpah dan pengabdian ditujukan kepada bangsa dan negara, bukan kepada kepentingan pribadi atau kelompok.
Karena itu, ketika berbicara tentang Indonesia berdaulat, kita tidak boleh hanya memaknainya sebagai kemampuan mempertahankan wilayah dari ancaman luar.
Kedaulatan juga berarti negara mampu menentukan masa depannya sendiri, menjaga persatuan, melindungi rakyat dan memastikan hukum berjalan.
Kedaulatan tanpa keadilan akan kehilangan makna.
Dan kemajuan tanpa kesejahteraan rakyat juga belum dapat disebut sebagai keberhasilan pembangunan.
Itulah sebabnya tema HUT ke-81 TNI tidak berhenti pada kata berdaulat, tetapi dilanjutkan dengan adil dan makmur.
Ada hubungan yang sangat kuat antara pertahanan, kedaulatan, keadilan dan kesejahteraan.
Negara yang kuat membutuhkan rakyat yang sejahtera.
Rakyat yang sejahtera membutuhkan negara yang aman.
Negara yang aman membutuhkan pertahanan yang kuat.
Dan pertahanan yang kuat membutuhkan dukungan serta kepercayaan rakyat.
Semuanya merupakan satu kesatuan.
Dalam konteks inilah saya memandang kegiatan ziarah kepada para pahlawan memiliki makna penting.
Ketika kita berdiri di depan makam para pahlawan, kita diingatkan bahwa mereka berjuang bukan untuk menikmati hasil perjuangan bagi dirinya sendiri. Mereka berjuang agar generasi setelahnya dapat hidup dalam sebuah negara merdeka.
Mereka mewariskan Indonesia kepada kita.
Maka, tugas generasi sekarang bukan hanya menjaga kemerdekaan, tetapi juga memastikan cita-cita kemerdekaan itu semakin dekat dengan kenyataan.
Berdaulat, adil dan makmur.
Begitu pula perhatian kepada warakawuri dan purnawirawan.
Anjangsana, tali asih dan kepedulian kepada keluarga besar TNI bukan sekadar kegiatan sosial. Di dalamnya terdapat pesan bahwa pengabdian seorang prajurit tidak pernah berdiri sendiri.
Ada keluarga yang ikut berkorban.
Ada istri yang menunggu.
Ada anak yang tumbuh dengan kerinduan.
Ada orang tua yang selalu berdoa.
Dan ada keluarga yang harus menerima segala risiko dari tugas seorang prajurit.
Karena itu, menghormati warakawuri dan purnawirawan berarti menghormati sejarah pengabdian TNI itu sendiri.
Bagi purnawirawan, pengabdian juga tidak berakhir ketika seragam dilepas.
Seragam memang telah disimpan.
Pangkat tidak lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Tetapi nilai-nilai pengabdian tetap dapat diteruskan melalui pemikiran, tulisan, pendidikan, kegiatan sosial dan keteladanan.
Saya percaya, pensiun dari dinas bukan berarti pensiun dari pengabdian.
Justru pada masa purnabakti, seorang mantan prajurit memiliki kesempatan untuk memberikan perspektif yang lebih luas kepada masyarakat.
Kita dapat menjadi jembatan antara pengalaman masa lalu dengan tantangan masa kini.
Kita dapat mengingatkan generasi muda bahwa Indonesia tidak dibangun dalam satu malam.
Republik ini dibangun melalui pengorbanan.
Karena itu, jangan sampai perbedaan pilihan politik membuat kita kehilangan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.
Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi kebencian.
Jangan sampai informasi yang belum terverifikasi memecah persatuan.
Dan jangan sampai kepentingan kelompok lebih besar daripada kepentingan Indonesia.
Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat juga membutuhkan kedewasaan.
Wartawan memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi berdasarkan fakta. Pemerintah harus terbuka terhadap kritik. Masyarakat harus membangun budaya tabayun sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.
Sementara TNI harus terus menjaga profesionalisme dan kepercayaan publik.
Semua memiliki peran.
Sebab menjaga Indonesia bukan hanya tugas TNI.
Menjaga Indonesia adalah tugas seluruh rakyat Indonesia.
Pada akhirnya, setelah 81 tahun perjalanan TNI, saya kembali pada sebuah keyakinan sederhana.
TNI kuat bukan karena berdiri jauh dari rakyat, tetapi karena berdiri bersama rakyat.
Dan kekuatan itu harus digunakan untuk menjaga kedaulatan negara, melindungi seluruh rakyat serta mendukung tercapainya cita-cita Indonesia yang adil dan makmur.
Tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur” karena itu bukan sekadar tema HUT.
Ia adalah sebuah harapan.
Ia adalah sebuah tanggung jawab.
Dan bagi saya sebagai purnawirawan, ia juga merupakan pengingat bahwa perjuangan untuk Indonesia belum selesai.
Dulu kami mengabdi dengan seragam.
Hari ini kami mengabdi dengan pengalaman dan pemikiran.
Besok, generasi berikutnya yang akan melanjutkan.
Yang harus kita wariskan bukan hanya sebuah negara bernama Indonesia, tetapi Indonesia yang tetap bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Karena pada akhirnya, kekuatan TNI akan semakin berarti ketika rakyat merasa aman, negara tetap berdaulat, keadilan semakin nyata, dan kesejahteraan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Dirgahayu ke-81 Tentara Nasional Indonesia.
TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.**










