Musda X LVRI Jambi, PEPABRI Dorong Pewarisan Semangat Juang ’45 kepada Generasi Penerus SBC Soroti SOP dan Peran Askrindo-Jamkrindo dalam Sidang Kasus Semen Baturaja Danrem 042/Gapu dan Gubernur Jambi Tinjau Langsung Penanganan Karhutla di Londerang Pangdam XXII/TB Turun Langsung Pantau Penanganan Karhutla di Kalteng Turun Langsung ke Titik Api, Brigjen TNI Debok dan Kasdam Tambun Bungai Tangani Karhutla di Tjilik Riwut

Home / Opini

Sabtu, 28 Juni 2025 - 09:30 WIB

Ledakan Hoaks di Medsos: Tantangan Literasi Digital di Era Banjir Informasi

Maraknya penyebaran hoaks di media sosial Indonesia menjadi ancaman serius di era digital. Kemudahan mengakses informasi seolah menjadi pedang bermata dua: di satu sisi memberi kebebasan berekspresi, di sisi lain membuka peluang luas bagi kebohongan digital untuk menyebar tanpa kendali.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menunjukkan ribuan konten hoaks muncul setiap tahun, terutama terkait isu-isu sensitif seperti politik, kesehatan, dan SARA. Banyak dari informasi menyesatkan ini justru diviralkan sendiri oleh masyarakat yang kurang memiliki kemampuan verifikasi.

“Hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Ini bukan sekadar masalah teknologi, tapi budaya informasi kita yang belum matang,” ujar Dr. Naufal Dimas Azizan, dosen literasi digital dari Binus University.

Menurutnya, hoaks kerap dirancang untuk membangkitkan emosi seperti kemarahan atau ketakutan. Di tengah derasnya arus digital, pengguna media sosial sering kali langsung menyebarkan informasi yang belum tentu benar hanya karena tersulut emosi sesaat.

Baca :  Jurnal Senja: Catatan Pengabdian

Senada dengan itu, Iris Wullur—seorang edukator digital dan influencer—mengingatkan pentingnya sikap kritis. “Cek sumber dulu sebelum sebar. Jangan mudah percaya hanya karena narasi viral,” katanya.

Rendahnya kemampuan memilah informasi diperparah oleh hasil studi PISA 2022 yang menempatkan skor literasi baca Indonesia di angka 359—masih tergolong rendah. Ini menandakan banyak masyarakat belum mampu menganalisis informasi secara kritis.

Platform digital seperti WhatsApp, Facebook, hingga X (dulu Twitter), yang menyediakan ruang publik tanpa filter redaksi, membuat informasi bisa menyebar tanpa pengawasan. Tanpa bekal literasi digital dan etika berbagi, ruang digital justru menjadi ladang subur bagi hoaks.

Baca :  PWI Kehilangan Sosok Panutan, Dunia Pers Jambi Kehilangan Sahabat

Heriyanto, S.Sos., M.IM., Ph.D., Kaprodi Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro, menegaskan bahwa literasi informasi bukan sekadar bisa baca-tulis. “Harus ada kemampuan mengevaluasi informasi dan memahami dampaknya terhadap individu dan masyarakat.”

Untuk menanggulangi masalah ini, pemerintah dan berbagai pihak telah menggalakkan edukasi digital. Kominfo lewat program Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi mendorong pelatihan yang mengajarkan etika, keamanan, dan kecakapan teknologi. Di sisi lain, akademisi dan media seperti Tirto.id bersama UGM juga menggagas program literasi kolaboratif melalui Inception.

Namun tantangan ke depan kian kompleks. Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala BPSDM Kominfo, menyebut bahwa ancaman tidak lagi sekadar hoaks sederhana, melainkan juga disinformasi berbasis teknologi canggih seperti deepfake dan AI generatif.

Baca :  Babinsa Ampelu Mudo Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat Lewat Komsos Bersama Warga

“Solusinya adalah membangun daya tahan sejak dini lewat pendidikan digital di sekolah. Kurikulum harus membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, etis, dan bertanggung jawab dalam bermedia,” ujar Bonifasius.

Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor: tokoh masyarakat, komunitas, pendidik, dan media harus bahu-membahu menggaungkan kampanye literasi dan etika digital. Di saat bersamaan, platform digital didorong meningkatkan sistem deteksi hoaks dan memperluas kanal pelaporan pengguna.

“Hoaks bukan hanya soal teknologi. Ini soal cara berpikir dan budaya informasi masyarakat,” tutup Dr. Naufal. “Di era digital, menjaga nalar sama pentingnya dengan menjaga akun.”

Penulis: Jagat Taniwara54

Share :

Baca Juga

Opini

Menjaga Prinsip Kebersamaan dalam Pemilihan Ketua PPAD Provinsi Jambi

Opini

Hakikat Puasa yang Hakiki: Puasa Rasa Sejati

Opini

66 Tahun PEPABRI: Menjaga Api Perjuangan, Membangun Masa Depan Bangsa

Opini

Polemik Pagar Laut: Hiro Taime dan Soleman Ponto Minta Ketegasan Penegakan Hukum

Opini

Aspek Terlupakan dari Puasa Ramadhan: Revolusi Pikiran, Energi Kosmik, dan Kesadaran Spiritual

Opini

Bangkitkan Indonesia dari Salah Urus: Saatnya Prabowo Memimpin Revolusi Tata Kelola Negara Berdasarkan Konstitusi Asli UUD 1945

Opini

Menyalahkan Kopi, Menyelamatkan Izin

Daerah

Selamat HUT Kota Sejuk Yang Penuh Tumpukan Sampah