Musda X LVRI Jambi, PEPABRI Dorong Pewarisan Semangat Juang ’45 kepada Generasi Penerus SBC Soroti SOP dan Peran Askrindo-Jamkrindo dalam Sidang Kasus Semen Baturaja Danrem 042/Gapu dan Gubernur Jambi Tinjau Langsung Penanganan Karhutla di Londerang Pangdam XXII/TB Turun Langsung Pantau Penanganan Karhutla di Kalteng Turun Langsung ke Titik Api, Brigjen TNI Debok dan Kasdam Tambun Bungai Tangani Karhutla di Tjilik Riwut

Home / Opini

Sabtu, 21 Juni 2025 - 14:58 WIB

“Manifesto Kebangsaan Seri Ketiga: Kedaulatan SDA untuk Kesejahteraan Rakyat — Bukan untuk Segelintir Elite”

Oleh : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.

Indonesia tidak miskin. Rakyatnya yang dimiskinkan.

Kalimat ini bukan tuduhan kosong, melainkan potret menyakitkan yang telah lama dirasakan oleh jutaan rakyat Indonesia di pedalaman, di pesisir, di gunung-gunung, di pasar-pasar tradisional, hingga di lorong-lorong kota besar yang bising dan penuh polusi.

“Manifesto Kebangsaan Seri Ketiga” hadir sebagai suara lantang yang menyuarakan kebenaran yang sudah lama dikubur: bahwa kekayaan alam Indonesia — dari tambang, hutan, laut, hingga energi — tidak sedang dikelola untuk rakyat, tetapi untuk segelintir elite dan kepentingan asing yang terselubung.

Sementara negeri ini kaya dengan batu bara, nikel, emas, gas alam, dan hasil bumi lainnya, jutaan anak bangsa masih kesulitan makan, pendidikan mahal, dan hidup dari utang ke utang.

Baca :  HUT Polri ke-80: Menjaga Kepercayaan Publik di Tengah Dinamika Zaman

Ini adalah kegagalan sistemik. Dan ini harus diakhiri.

Oleh karena itu, Manifesto ini menyuarakan dengan jelas dan lugas :

“Sudah saatnya Sumber Daya Alam (SDA) dikelola secara konstitusional, berbasis keadilan sosial, dan diarahkan langsung untuk peningkatan kualitas hidup rakyat — bukan untuk pertumbuhan angka statistik yang menipu.”

Manifesto Seri Ketiga ini bukan sekadar retorika. Ia menawarkan kerangka operasional dan solusi konkret, antara lain :

Revisi total Undang-Undang tentang Minerba, Energi, dan Kehutanan agar kembali sesuai Pasal 33 UUD 1945.

Pemanfaatan Dana Bagi Hasil (DBH), Dana CSR, dan Pajak SDA untuk :

• Pendidikan vokasi berbasis lokalitas

Baca :  Jurnal Senja: Catatan Pengabdian

• Koperasi rakyat

• Riset dan teknologi anak bangsa

Pelibatan masyarakat lokal sebagai pemilik saham mayoritas dalam investasi SDA.

Audit menyeluruh terhadap seluruh perizinan tambang, HGU, dan konsesi yang cacat hukum dan bertentangan dengan kepentingan nasional.

Pembangunan kawasan industri berbasis bahan baku lokal, bukan ekspor mentah. 

Lebih dari itu, Manifesto ini menyampaikan pesan moral dan konstitusional :

“Negara tidak boleh netral ketika rakyat berhadapan dengan korporasi raksasa. Negara harus memihak kepada rakyat.

Karena sesungguhnya, kedaulatan tidak berarti apa-apa jika kekayaan negeri ini tidak bisa dinikmati oleh mereka yang hidup dan mati di atas tanah air ini.

Ini bukan sekadar gagasan — ini adalah panggilan sejarah.

Baca :  Belajar Menerima dan Melepaskan, Agar Hidup Tak Selalu Menjadi Peperangan

Kepada para kepala daerah, ini adalah arah baru pembangunan yang berpihak pada rakyat.

Kepada para legislator, ini adalah cermin kejujuran di tengah perumusan undang-undang.

Kepada para pemuda, ini adalah ajakan untuk bangkit, belajar, dan bersuara.

Karena masa depan Indonesia tidak akan dibangun oleh mereka yang diam.
Masa depan Indonesia dibangun oleh mereka yang berani berpikir dan bertindak.

Dan “Manifesto Kebangsaan Seri Ketiga” adalah bekal kita untuk itu.

Kedaulatan SDA = Kesejahteraan Rakyat.

Tanpa itu, kita bukan negara merdeka — kita hanya menjadi ladang eksploitasi.

Mari kita tutup bab sejarah ketimpangan, dan kita buka lembaran baru Indonesia yang berdaulat, adil, dan sejahtera untuk semua.

Share :

Baca Juga

Opini

SEJARAH, VISI, MISI, TUJUAN, DAN BIDANG KEGIATAN PEPABRI

Opini

Ini Budi, Balai Perjuangan dan Spirit Kemenangan Budi Setiawan Bersama Rakyat Jambi (1)

Opini

Membangun Kepemimpinan Militer yang Berintegritas: Menjadi Teladan di Tengah Dinamika Tugas

Opini

“Konflik Iran–Israel: Jalan Menuju Armageddon Dunia dan Kejatuhan Hegemoni Global”

Opini

Belajar Menerima dan Melepaskan, Agar Hidup Tak Selalu Menjadi Peperangan

Opini

Aspek Terlupakan dari Puasa Ramadhan: Revolusi Pikiran, Energi Kosmik, dan Kesadaran Spiritual

Opini

Reuni Akmil 1989 di Pussenif Bandung: Merajut Kebersamaan dan Memperkuat Silaturahmi

Opini

Kekuasaan Tidak Ada yang Abadi