ENAM puluh enam tahun sudah PEPABRI (Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri) berdiri sejak diresmikan pada 12 September 1959. Waktu yang panjang ini menjadi bukti perjalanan sebuah organisasi yang lahir dari tekad para purnawirawan TNI dan Polri untuk tetap setia mengabdi meski telah menanggalkan seragam dinas.
Setiap 12 September diperingati sebagai Hari Purnawirawan sekaligus Hari Lahir PEPABRI. Penetapan ini lahir dari sejarah panjang organisasi purnawirawan. Pada 1 September 1953 di Solo berdiri organisasi Persatuan Pensiunan Angkatan Perang Republik Indonesia (PPAPRI). Kemudian pada 1957, organisasi serupa bernama Persatuan Pensiunan Angkatan Perang Republik Indonesia (PERPAPRI) berdiri di Jakarta.
Melalui Kongres Nasional pertama di Kaliurang tahun 1959, berbagai organisasi pensiunan dan keluarga besar TNI/Polri menyatu di bawah nama PERPAPRI. Puncaknya terjadi pada Kongres III PEPABRI di Lembang, Bandung, yang menetapkan tanggal 12 September sebagai Hari Purnawirawan Nasional, sekaligus hari lahir PEPABRI.
Di dalam tubuh PEPABRI, semangat kebersamaan dan kekeluargaan menjadi fondasi utama. Anggotanya terdiri dari para purnawirawan TNI-Polri serta warakawuri yang senantiasa menjaga nilai perjuangan. Kehadiran mereka bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan pengingat bahwa pengabdian kepada bangsa tidak pernah berakhir.
Sejak awal berdiri, PEPABRI memikul misi menjaga persatuan, memperkokoh jiwa nasionalisme, sekaligus menjadi wadah silaturahmi. Dalam perjalanan bangsa, PEPABRI turut memberi masukan kepada pemerintah demi menjaga stabilitas negara. Kini, di era modern, peran itu tetap berlanjut, antara lain melalui pembinaan generasi muda lewat FKPPI dan GM FKPPI.
“Menjadi purnawirawan bukan berarti selesai mengabdi. Justru di sinilah letak pengabdian yang sesungguhnya, karena pengalaman yang dimiliki harus diwariskan untuk generasi penerus.”
Keseharian PEPABRI diwarnai dengan aktivitas sosial dan kebangsaan, mulai dari anjangsana kepada anggota yang sakit, memperingati hari besar nasional, hingga terlibat dalam forum-forum kebangsaan. Semua menjadi ikhtiar agar tetap relevan di tengah arus perubahan zaman.
Namun perjalanan 66 tahun tentu tidak lepas dari tantangan. PEPABRI harus menghadapi dinamika internal berupa regenerasi kepemimpinan, menjaga kekompakan anggota yang semakin menua, sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi. Tantangan eksternal pun tidak ringan, terutama bagaimana tetap memberi kontribusi nyata di tengah masyarakat yang semakin kompleks.
Meski demikian, satu hal yang tidak pernah berubah adalah nilai dasar yang dipegang teguh: Sapta Marga dan Tribrata. Nilai-nilai inilah yang menjaga PEPABRI tetap kokoh sebagai rumah besar para pejuang yang kini berperan dalam jalur sipil.
“Generasi muda boleh maju dengan teknologi dan modernisasi, tapi semangat kebangsaan jangan sampai luntur. Di sinilah PEPABRI hadir, untuk mengingatkan bahwa cinta tanah air adalah warisan yang tak boleh putus.”
Peringatan Hari Purnawirawan memiliki makna penting, yakni:
1. Menghormati Jasa Purnawirawan, yang telah berjuang mempertahankan kedaulatan dan keamanan negara.
2. Mempererat Silaturahmi, sebagai wadah memperkuat kebersamaan antar sesama purnawirawan.
3. Meningkatkan Kesadaran Generasi Muda, untuk meneladani semangat nasionalisme dan pengorbanan para pendahulu.
4. Melanjutkan Pengabdian kepada Negara, karena meski purna tugas, banyak purnawirawan tetap aktif berkontribusi dalam kehidupan sosial, politik, maupun pembangunan masyarakat.
Memasuki usia ke-66, PEPABRI dihadapkan pada refleksi besar: bagaimana melanjutkan pengabdian dengan cara yang sesuai zaman. Organisasi ini tidak lagi sekadar menjadi penjaga kenangan masa lalu, tetapi juga menjadi penjaga api perjuangan yang harus tetap menyala bagi bangsa dan negara.
Sebagai penutup refleksi ini, kita panjatkan syukur kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, dan kesempatan untuk terus berbuat bagi bangsa. Semoga PEPABRI senantiasa diberi keberkahan, para anggotanya dimuliakan, dan generasi muda selalu terinspirasi untuk melanjutkan perjuangan.
“Ya Allah, jadikanlah setiap langkah pengabdian kami bernilai ibadah, kuatkan persatuan kami, dan bimbinglah bangsa ini menuju kejayaan yang Engkau ridhoi.”
“JAGAT TANIWARA54”










