Lewat Pendekatan Humanis, TNI AD Antar Dua Eks Anggota OPM Kembali ke Pangkuan NKRI Danramil 415-07/Pelayangan Hadiri Pembukaan MTQ, Tegaskan Komitmen Dukung Generasi Qurani Babinsa Koramil 415-13/Sebapo Pererat Silaturahmi dengan Warga Tempino Melalui Komsos Babinsa Koramil 415-10/Jambi Selatan Hadiri Forum Ketua RT, Perkuat Sinergi Membangun Lingkungan Perkuat Sinergi dengan Pelaku Usaha, Tiga Pilar Kunjungi Hotel di Wilayah Sungai Asam

Home / Opini

Rabu, 1 April 2026 - 16:55 WIB

Gizi Anak Bangsa dan Ujian Integritas Kebijakan Publik

PROGRAM bantuan sosial kerap lahir dari niat baik negara untuk melindungi warganya. Di antaranya, pemenuhan gizi anak yang menjadi fondasi masa depan bangsa. Namun, sebagaimana kebijakan publik lainnya, niat baik tidak selalu berbanding lurus dengan hasil di lapangan. Di sinilah integritas menjadi faktor penentu: apakah program benar-benar menjangkau yang membutuhkan, atau justru tersendat dalam tata kelola yang rapuh.

Gagasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadirkan harapan sekaligus kekhawatiran. Harapan bahwa anak-anak, terutama dari keluarga kurang mampu, dapat memperoleh asupan nutrisi yang layak. Namun dalam pelaksanaannya, muncul persoalan klasik: rantai birokrasi yang panjang membuka peluang terjadinya penyimpangan.

Yang lebih mengundang tanda tanya, program ini tidak hanya menyasar anak-anak dari keluarga miskin, tetapi juga menjangkau seluruh kalangan—termasuk anak dari keluarga mampu hingga sekolah-sekolah berkelas eksklusif. Dalam kondisi anggaran terbatas, kebijakan yang tidak terfokus berisiko mengaburkan prioritas. Mereka yang paling membutuhkan justru berpotensi tidak menjadi yang utama.

Baca :  SEJARAH, VISI, MISI, TUJUAN, DAN BIDANG KEGIATAN PEPABRI

Padahal, skala anggaran program ini tidak kecil. Pada tahun 2026, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 335 triliun untuk program MBG—sebuah angka yang sangat besar dalam struktur APBN. Dengan anggaran sebesar itu, tuntutan terhadap ketepatan sasaran, efisiensi, dan transparansi menjadi semakin tinggi. Setiap potensi kebocoran bukan lagi sekadar masalah administratif, melainkan kerugian besar bagi keuangan negara.

Masalah ini bukan sekadar teknis, melainkan menyangkut arah kebijakan. Ketika program sosial kehilangan fokus, ia berisiko berubah dari instrumen perlindungan menjadi sekadar proyek populis. Dalam situasi tata kelola yang lemah, skema berskala besar seperti ini juga membuka peluang penyimpangan yang lebih luas.

Di sisi lain, publik juga tidak sepenuhnya bebas dari tanggung jawab. Sikap apatis, enggan mengawasi, atau memilih diam ketika melihat kejanggalan, secara tidak langsung memperlebar ruang bagi penyalahgunaan kekuasaan. Terbentuklah lingkaran yang saling menguatkan: kebijakan yang rentan bertemu dengan masyarakat yang kurang kritis.

Baca :  Inovasi Batik Tapis, Upaya Menjaga Tradisi Lampung Tetap Relevan

Di tengah persoalan domestik itu, tekanan eksternal justru semakin nyata. Konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu ketegangan global, termasuk ancaman terhadap jalur vital energi dunia seperti Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini berdampak langsung pada distribusi minyak global, termasuk bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.

Konsekuensinya berantai: potensi kenaikan harga minyak, beban subsidi yang meningkat, hingga tekanan terhadap daya beli masyarakat. Dalam situasi seperti ini, setiap rupiah anggaran negara menjadi sangat berharga dan harus digunakan secara tepat sasaran.

Di sinilah relevansi kritik terhadap program seperti MBG menjadi semakin penting. Ketika negara menghadapi tekanan ekonomi global, kebijakan sosial tidak lagi cukup hanya “baik secara niat”, tetapi harus presisi, efisien, dan bebas dari kebocoran. Program yang tidak tepat sasaran justru berpotensi menjadi beban tambahan di tengah krisis.

Sejumlah gagasan alternatif pun mengemuka. Penyaluran bantuan langsung kepada masyarakat miskin dinilai dapat memotong rantai birokrasi sekaligus mengurangi potensi penyimpangan. Namun, pendekatan ini tetap membutuhkan pengawasan dan edukasi agar tepat guna.

Baca :  Dukung Energi Terbarukan, Kasad Tinjau Pengelolaan Sampah Terpadu di Bali

Lebih jauh, persoalan gizi tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan kemiskinan dan keterbatasan lapangan kerja. Selama masyarakat masih menghadapi tekanan ekonomi—baik dari dalam negeri maupun akibat gejolak global—program bantuan hanya akan menjadi solusi sementara.

Pada akhirnya, ujian terbesar kebijakan publik bukan pada besarnya anggaran, melainkan pada ketepatan sasaran dan integritas pelaksanaannya. Negara dituntut hadir dengan kebijakan yang adil dan akuntabel. Sementara masyarakat dituntut untuk tidak abai—berani bersikap, kritis, dan peduli.

Sebab, di tengah tekanan global dan tantangan domestik, masa depan anak bangsa tidak hanya ditentukan oleh program yang dirancang, tetapi oleh keberanian untuk memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar berpihak kepada mereka yang paling membutuhkan.

Penulis: Firdaus Baharuddin

Share :

Baca Juga

Opini

PWI Provinsi Jambi Harus Menjadi Rumah Besar Wartawan

Opini

DAMPAK POSITIF BAGI INDONESIA ATAS RENCANA DIOPERASIONALKANNYA TERUSAN KRA

Opini

“Netralitas Strategis Indonesia di Tengah Krisis Iran-Israel: Menghindari Polarisasi Global dan Menjaga Ketahanan Nasional”

Opini

Perencanaan Strategis Jangka Panjang Provinsi Jambi Berbasis Teknologi GIS

Opini

Ruang Publik di Kota Jambi ‘Melupakan’ [atau] Bahasa Indonesia Tidak Indah Untuk Diucapkan?

Olahraga

Gubernur Jambi Incar Ketua Umum KONI, Pengamat: Rakyat Butuh Pemimpin yang Fokus

Opini

Sombong Itu Warisan Iblis, Rendah Hati Itu Jalan Nabi

Opini

Ini Budi, Balai Perjuangan dan Spirit Kemenangan Budi Setiawan Bersama Rakyat Jambi (1)