Babinsa dan Manggala Agni Perkuat Strategi Sosialisasi Cegah Karhutla Babinsa Gelar Komsos di Desa Pelempang, Perkuat Kedekatan dengan Warga Babinsa Ma Bulian Ikut Gerakan Tanam Nasional, Dorong Ketahanan Pangan di Batanghari Babinsa Lakukan Anjangsana, Ajak Warga Jaga Keamanan dan Kebersihan Lingkungan Babinsa Bantu Warga Pasang Plafon, Perkuat Semangat Gotong Royong di Jambi

Home / Artikel

Jumat, 19 Desember 2025 - 21:03 WIB

Sombong yang Tak Perlu dalam Bahasa Kekuasaan

Ucapan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian tentang bantuan Malaysia yang “terlalu kecil” dan “tidak dibutuhkan karena Indonesia masih mampu” lebih dari sekadar salah ucap. Ia mencerminkan cara pandang kekuasaan yang keliru dalam membaca makna solidaritas kemanusiaan. Dalam urusan bencana, ukuran bantuan tidak pernah semata soal angka. Ia soal empati, etika, dan kesadaran bahwa penderitaan manusia tak mengenal batas negara.

Pernyataan itu terasa pongah, bahkan ketika dibungkus dengan dalih kemampuan negara. Seolah-olah negara harus selalu tampil perkasa, tak boleh tampak membutuhkan, dan harus menakar empati dengan neraca fiskal. Logika seperti ini berbahaya. Ia menempatkan gengsi negara di atas perasaan korban, dan kebanggaan birokrasi di atas etika kemanusiaan.

Baca :  Babinsa Hadiri Rapat Kampung Bahagia, Perkuat Sinergi Pembangunan Berbasis Komunitas di Thehok

Malaysia tidak sedang berlomba menunjukkan siapa paling kaya atau paling mampu. Bantuan yang mereka kirim—sekecil apa pun nilainya di mata pejabat—adalah simbol persaudaraan serumpun dan kepedulian sesama manusia. Dalam tradisi kemanusiaan, yang utama bukan jumlahnya, melainkan niat dan kecepatan tangan yang terulur saat musibah datang. Mengomentari “kecilnya” bantuan sama artinya dengan merendahkan niat baik.

Dalih bahwa Indonesia “masih mampu” juga patut dipertanyakan. Jika memang negara begitu sigap dan cukup, mengapa keluhan soal lambannya distribusi bantuan, minimnya logistik di lokasi bencana, dan tumpang tindih kewenangan selalu berulang? Kemampuan negara seharusnya diukur dari cepatnya korban tertolong, bukan dari pernyataan percaya diri di ruang publik.

Baca :  Sejarah Batik Jambi Mengangkat Ekonomi dengan Warisan Budaya

Klarifikasi dan permintaan maaf Tito datang belakangan, setelah kritik membesar dan relasi diplomatik tersentil. Tapi masalahnya bukan semata soal salah tafsir publik. Masalahnya ada pada cara berpikir yang sejak awal menganggap bantuan asing sebagai ukuran prestise, bukan sebagai wujud solidaritas. Ini bukan pertama kali pejabat negeri ini terjebak pada narasi “kita mampu sendiri” sambil menutup mata pada fakta di lapangan.

Seorang menteri—terlebih Mendagri—semestinya paham bahwa kata-kata adalah bagian dari kebijakan. Ucapan yang meremehkan, meski tanpa niat buruk, tetap berdampak buruk. Ia melukai rasa kemanusiaan, mencederai etika diplomasi, dan memberi contoh keliru tentang bagaimana negara seharusnya bersikap di hadapan musibah.

Baca :  Senkom Kota Jambi Pererat Silaturahmi Lebaran di Kediaman Pembina

Negara tidak menjadi kecil karena mengucapkan terima kasih. Negara justru tampak dewasa ketika mampu merendahkan ego, menghargai niat baik, dan menempatkan kemanusiaan di atas kebanggaan semu. Dalam bencana, yang dibutuhkan bukan pamer kemampuan, melainkan ketulusan menerima dan menyalurkan bantuan—dari siapa pun datangnya.

Jika para pejabat terus memandang solidaritas dengan kacamata angka dan gengsi, maka yang sesungguhnya “kecil” bukanlah bantuan itu, melainkan kepekaan penguasa terhadap makna kemanusiaan.**

Oleh: Panji93

Share :

Baca Juga

Artikel

Forkopimda Muara Enim Perkuat Komunikasi Dua Arah dengan Masyarakat

Artikel

Ruang Publik di Kota Jambi ‘Melupakan’ [atau] Bahasa Indonesia Tidak Indah Untuk Diucapkan?

Artikel

Loreng di Ladang: Babinsa Menjaga Negeri dari Desa, Mengabdi Tanpa Batas

Artikel

Meluruskan Paradigma Tentang Ideologi Pancasila

Artikel

Abraham Samad dan Mantan Pimpinan KPK Laporkan Dugaan Korupsi Agung Sedayu Group terkait Pemagaran Laut PIK 2

Artikel

Perang Bukan Milik Kita, Tapi Dampaknya Nyata: Strategi Indonesia di Era Krisis Global

Artikel

UU TNI 2025 Bukan Dwifungsi Gaya Baru: Ini Penjelasan Lengkap dan Landasan Hukumnya

Artikel

Menjaga Api Perjuangan, Merawat Masa Depan Bangsa