Timnas Indonesia Takluk 0-3 dari Vietnam, Laga Kontra Singapura Jadi Penentuan Nasib Garuda Babinsa Desa Awin Bantu Warga Turunkan Material Bangunan, Wujud Nyata Kepedulian TNI Babinsa Kelurahan Selamat Dampingi BPN dan PN Jambi Lakukan Pencocokan Lahan Sengketa, Pastikan Berjalan Aman dan Tertib Babinsa Paal Merah Bersama Warga Gotong Royong Cor Jalan Lingkungan, Wujudkan Akses yang Aman dan Nyaman Pererat Silaturahmi, Babinsa Koramil 415-13/Sebapo Komsos Bersama Warga Desa Bukit Subur

Home / Opini

Senin, 27 Januari 2025 - 19:59 WIB

Mengungkap Fakta Ilmiah: Jakarta Tenggelam karena Penurunan Tanah, Bukan Abrasi..!

Oleh : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.

(Sorveyor Class “A” Hydro Iswanografi — By: IHO)

Jakarta, 2025 – Isu abrasi di Teluk Jakarta kembali mencuat seiring dengan proyek reklamasi yang kontroversial. Sejumlah pihak mengklaim bahwa wilayah pesisir Jakarta mengalami abrasi sejak tahun 1982, yang mengharuskan adanya reklamasi untuk mengembalikan daratan yang hilang. Namun, fakta ilmiah berbicara lain: bukan abrasi yang terjadi, melainkan penurunan permukaan tanah yang terus berlanjut akibat eksploitasi sumber daya alam dan pembangunan masif.

Letkol Laut (P) Jaya Darmawan, ketika itu selaku Ketua Tim Penelitian yang tergabung dalam proyek kajian hidro-oseanografi pada tahun 2012 bersama Pusat Pendidikan Hidro Oseanografi (Pusdikhidros), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan tim ahli dari Korea, menjelaskan bahwa klaim abrasi di Teluk Jakarta tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat*. Penelitian tersebut menggunakan teknologi “LiDAR” (Laser and Radar Integration System), sebuah sistem pemetaan geospasial canggih yang mampu mengukur perubahan elevasi tanah dengan akurasi tinggi.

Penemuan Mengejutkan: Jakarta Turun hingga 20 cm per Tahun..!

Baca :  Di Balik Batu Domino: Pelajaran Kehidupan dari Sebuah Permainan

Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa wilayah pesisir Jakarta, terutama *Ancol, Pluit, dan Muara Baru*, mengalami *penurunan permukaan tanah (land subsidence) hingga 20 cm per tahun*. Fenomena ini jauh lebih berbahaya daripada abrasi, karena tidak hanya mengancam infrastruktur, tetapi juga mempercepat potensi tenggelamnya Jakarta akibat kenaikan air laut.

*“Laut Jawa adalah laut tertutup dengan kedalaman rata-rata hanya 100 meter. Tidak ada energi gelombang yang cukup kuat untuk menyebabkan abrasi besar-besaran seperti yang diklaim oleh pihak tertentu. Justru, yang terjadi adalah land subsidence akibat eksploitasi air tanah dan beban infrastruktur berat,”* tegas Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan.

Menurutnya, ada *tiga faktor utama* yang menyebabkan penurunan tanah di Jakarta :

1. *Penyedotan Air Tanah Berlebihan*

• Penggunaan air tanah dalam jumlah besar menyebabkan tanah kehilangan daya dukungnya dan mengalami pemadatan.

• Seiring waktu, tanah terus turun dan memperparah banjir rob di pesisir Jakarta.

2. *Dampak Pemanasan Global*

Baca :  Rosyid Jurnalis, Sosok Multitalenta yang Menginspirasi di Jambi

• Pemanasan global telah menyebabkan mencairnya es di kutub, yang mengakibatkan kenaikan permukaan air laut.

• Kombinasi antara naiknya air laut dan turunnya tanah membuat Jakarta semakin rentan terhadap banjir.

3. *Beban Infrastruktur yang Berat di Atas Tanah yang Labil*

• Jakarta dibangun di atas tanah aluvial dan rawa yang tidak stabil.

• Dengan banyaknya gedung pencakar langit dan pembangunan masif, tekanan terhadap tanah semakin besar, mempercepat proses penurunan permukaan tanah.

Rekayasa Narasi untuk Justifikasi Reklamasi..?

Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan juga menyoroti bahwa klaim *“abrasi sejak 1982”* yang digunakan untuk membenarkan reklamasi di PIK 2 *tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat*.

*“Jika memang terjadi abrasi sejak 1982, seharusnya ada bukti perubahan garis pantai yang signifikan. Namun, data satelit menunjukkan bahwa garis pantai Jakarta justru mengalami sedimentasi di beberapa titik, bukan abrasi,”* ujarnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa *PIK 2 bukanlah tanah alami yang hilang akibat abrasi, melainkan hasil reklamasi yang dilakukan secara sistematis*. Pembangunan di atas wilayah yang secara geologi labil ini justru berpotensi memperburuk permasalahan lingkungan di masa depan.

Baca :  Inovasi Batik Tapis, Upaya Menjaga Tradisi Lampung Tetap Relevan

Fakta Ilmiah Melawan Hoaks dan Kepentingan Bisnis

Hasil penelitian ini memberikan peringatan keras kepada semua pihak untuk tidak menggunakan narasi yang menyesatkan demi kepentingan bisnis semata. Penurunan tanah di Jakarta adalah *fakta ilmiah yang harus diatasi dengan kebijakan yang tepat*, bukan justru dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu yang berpotensi merugikan masyarakat luas.

Dengan semakin cepatnya penurunan tanah dan naiknya permukaan air laut, Jakarta menghadapi ancaman nyata yang memerlukan *solusi berbasis sains dan teknologi*. Penelitian yang dilakukan oleh Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan dan tim menjadi bukti bahwa *keputusan strategis harus didasarkan pada data yang valid, bukan sekadar narasi yang direkayasa untuk kepentingan segelintir pihak*.

_Saatnya masyarakat lebih kritis terhadap informasi yang beredar. Masa depan Jakarta bukan hanya soal reklamasi, tetapi bagaimana mengelola lingkungan dengan kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan berlandaskan ilmu pengetahuan..!_

Share :

Baca Juga

Opini

Satgas TMMD Rehabilitasi Madrasah di Desa Teluk Kuali, Bantu Akses Pendidikan Berkualitas

Opini

Pers di Ujung Pedang Digital: Hoaks, AI, dan Krisis yang Menguji Jiwa Demokrasi Indonesia

Opini

Aklamasi, Legitimasi, dan Ujian Kepemimpinan H. Budi Setiawan

Opini

Belajar dari Pohon: Daun Tidak Harus Indah, Akar Harus Kuat

Opini

SKANDAL PEMAGARAN LAUT 30,16 KM DI TANGERANG: KEJAHATAN TERSTRUKTUR DAN PERAMPOKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT!

Opini

Sejarah PEPABRI: Konsistensi Pengabdian dari Masa ke Masa

Opini

Dilema Polri, Politik, dan Arah Reformasi Kelembagaan

Opini

“Tertampar” Wartawan Muda, Kopi Makin Pahit