Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Babinsa Beliung Hadiri Ceramah Agama di Masjid Al Ikhlas Babinsa Koramil Mersam Gotong Royong Bantu Pembangunan Rumah Warga Safari Dakwah di Prabumulih, Ustaz Jarir dan Ustaz Rofiq Fatah Ajak Jamaah Perkuat Bekal Akhirat Irwansyah Kembali Pimpin PWI Kota Jambi, Tegaskan Komitmen pada Etika dan Profesionalisme Pers Ketum PWI Pusat Ajak Keluarga Besar PWI Provinsi Jambi Jaga Kekompakan

Home / Opini

Senin, 27 Januari 2025 - 19:59 WIB

Mengungkap Fakta Ilmiah: Jakarta Tenggelam karena Penurunan Tanah, Bukan Abrasi..!

Oleh : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.

(Sorveyor Class “A” Hydro Iswanografi — By: IHO)

Jakarta, 2025 – Isu abrasi di Teluk Jakarta kembali mencuat seiring dengan proyek reklamasi yang kontroversial. Sejumlah pihak mengklaim bahwa wilayah pesisir Jakarta mengalami abrasi sejak tahun 1982, yang mengharuskan adanya reklamasi untuk mengembalikan daratan yang hilang. Namun, fakta ilmiah berbicara lain: bukan abrasi yang terjadi, melainkan penurunan permukaan tanah yang terus berlanjut akibat eksploitasi sumber daya alam dan pembangunan masif.

Letkol Laut (P) Jaya Darmawan, ketika itu selaku Ketua Tim Penelitian yang tergabung dalam proyek kajian hidro-oseanografi pada tahun 2012 bersama Pusat Pendidikan Hidro Oseanografi (Pusdikhidros), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan tim ahli dari Korea, menjelaskan bahwa klaim abrasi di Teluk Jakarta tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat*. Penelitian tersebut menggunakan teknologi “LiDAR” (Laser and Radar Integration System), sebuah sistem pemetaan geospasial canggih yang mampu mengukur perubahan elevasi tanah dengan akurasi tinggi.

Penemuan Mengejutkan: Jakarta Turun hingga 20 cm per Tahun..!

Baca :  Lebaran di Tengah Perbedaan: Memaknai Kedewasaan dan Persatuan

Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa wilayah pesisir Jakarta, terutama *Ancol, Pluit, dan Muara Baru*, mengalami *penurunan permukaan tanah (land subsidence) hingga 20 cm per tahun*. Fenomena ini jauh lebih berbahaya daripada abrasi, karena tidak hanya mengancam infrastruktur, tetapi juga mempercepat potensi tenggelamnya Jakarta akibat kenaikan air laut.

*“Laut Jawa adalah laut tertutup dengan kedalaman rata-rata hanya 100 meter. Tidak ada energi gelombang yang cukup kuat untuk menyebabkan abrasi besar-besaran seperti yang diklaim oleh pihak tertentu. Justru, yang terjadi adalah land subsidence akibat eksploitasi air tanah dan beban infrastruktur berat,”* tegas Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan.

Menurutnya, ada *tiga faktor utama* yang menyebabkan penurunan tanah di Jakarta :

1. *Penyedotan Air Tanah Berlebihan*

• Penggunaan air tanah dalam jumlah besar menyebabkan tanah kehilangan daya dukungnya dan mengalami pemadatan.

• Seiring waktu, tanah terus turun dan memperparah banjir rob di pesisir Jakarta.

2. *Dampak Pemanasan Global*

Baca :  Inovasi Batik Tapis, Upaya Menjaga Tradisi Lampung Tetap Relevan

• Pemanasan global telah menyebabkan mencairnya es di kutub, yang mengakibatkan kenaikan permukaan air laut.

• Kombinasi antara naiknya air laut dan turunnya tanah membuat Jakarta semakin rentan terhadap banjir.

3. *Beban Infrastruktur yang Berat di Atas Tanah yang Labil*

• Jakarta dibangun di atas tanah aluvial dan rawa yang tidak stabil.

• Dengan banyaknya gedung pencakar langit dan pembangunan masif, tekanan terhadap tanah semakin besar, mempercepat proses penurunan permukaan tanah.

Rekayasa Narasi untuk Justifikasi Reklamasi..?

Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan juga menyoroti bahwa klaim *“abrasi sejak 1982”* yang digunakan untuk membenarkan reklamasi di PIK 2 *tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat*.

*“Jika memang terjadi abrasi sejak 1982, seharusnya ada bukti perubahan garis pantai yang signifikan. Namun, data satelit menunjukkan bahwa garis pantai Jakarta justru mengalami sedimentasi di beberapa titik, bukan abrasi,”* ujarnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa *PIK 2 bukanlah tanah alami yang hilang akibat abrasi, melainkan hasil reklamasi yang dilakukan secara sistematis*. Pembangunan di atas wilayah yang secara geologi labil ini justru berpotensi memperburuk permasalahan lingkungan di masa depan.

Baca :  Rosyid Jurnalis, Sosok Multitalenta yang Menginspirasi di Jambi

Fakta Ilmiah Melawan Hoaks dan Kepentingan Bisnis

Hasil penelitian ini memberikan peringatan keras kepada semua pihak untuk tidak menggunakan narasi yang menyesatkan demi kepentingan bisnis semata. Penurunan tanah di Jakarta adalah *fakta ilmiah yang harus diatasi dengan kebijakan yang tepat*, bukan justru dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu yang berpotensi merugikan masyarakat luas.

Dengan semakin cepatnya penurunan tanah dan naiknya permukaan air laut, Jakarta menghadapi ancaman nyata yang memerlukan *solusi berbasis sains dan teknologi*. Penelitian yang dilakukan oleh Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan dan tim menjadi bukti bahwa *keputusan strategis harus didasarkan pada data yang valid, bukan sekadar narasi yang direkayasa untuk kepentingan segelintir pihak*.

_Saatnya masyarakat lebih kritis terhadap informasi yang beredar. Masa depan Jakarta bukan hanya soal reklamasi, tetapi bagaimana mengelola lingkungan dengan kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan berlandaskan ilmu pengetahuan..!_

Share :

Baca Juga

Opini

PANCASILA SEBAGAI KOMPAS MORAL BANGSA: MENGAWAL NEGARA, MENJAGA RAKYAT

Opini

PANEMBAHAN PALEMBANG: JEJAK SANG PENGUASA MARITIM YANG TERLUPAKAN, BANGKITKAN KEBANGGAAN MELAYU NUSANTARA

Opini

“Hari Juang Infanteri ke-76”: Semangat Pantang Menyerah untuk NKRI yang Berdaulat

Opini

Membaca Lansekap Jambi: Mengurai Kompleksitas, Menata Konektivitas

Opini

Menjaga Kesempurnaan Ibadah: Zakat Fitrah, Waktu, dan Ketepatan Penyalurannya

Opini

Abraham Samad dan Mantan Pimpinan KPK Laporkan Dugaan Korupsi Agung Sedayu Group terkait Pemagaran Laut PIK 2

Opini

Menjawab Polemik TNI di Kampus dengan Narasi Damai dan Kolaboratif

Opini

Kebangkitan Nasional: Menyalakan Obor Perjuangan Menuju Indonesia Emas