Danrem 042/Gapu Salurkan 25 Ribu Masker Bantuan Presiden, Lindungi Warga Jambi dari Dampak Kabut Asap Karhutla Musda X LVRI Jambi, PEPABRI Dorong Pewarisan Semangat Juang ’45 kepada Generasi Penerus SBC Soroti SOP dan Peran Askrindo-Jamkrindo dalam Sidang Kasus Semen Baturaja Danrem 042/Gapu dan Gubernur Jambi Tinjau Langsung Penanganan Karhutla di Londerang Pangdam XXII/TB Turun Langsung Pantau Penanganan Karhutla di Kalteng

Home / Opini

Senin, 16 Februari 2026 - 07:59 WIB

Menunggu Hadirnya Negarawan Sejati

Foto Ilustrasi AI

Foto Ilustrasi AI

Di tengah dinamika zaman dan riuhnya kepentingan, Indonesia merindukan pemimpin yang berintegritas, tegas, dan setia pada konstitusi serta kepentingan rakyat.

Oleh: Firdaus (Purnawirawan TNI AD)

Indonesia adalah bangsa yang besar bukan hanya karena luas wilayah dan jumlah penduduknya, tetapi karena keragaman dan kompleksitas tantangan yang dihadapinya. Dalam setiap fase sejarah, pertanyaan tentang kepemimpinan selalu kembali mengemuka: sosok seperti apa yang paling tepat memimpin negeri ini?

Sebagai seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat, penulis memandang kepemimpinan bukan semata-mata sebagai jabatan politik, melainkan sebagai amanah yang menyangkut nasib negara dan keselamatan rakyat. Dalam tradisi keprajuritan, kepemimpinan bertumpu pada keteladanan, disiplin moral, serta keberanian mengambil tanggung jawab—nilai yang relevan dalam konteks apa pun, termasuk dalam tata kelola negara.

Baca :  Selamat Jalan Saudaraku, Engkau Tetap Hidup dalam Kenangan

Sejarah Indonesia menghadirkan pelajaran penting. Soekarno meletakkan dasar identitas kebangsaan dan membangun kepercayaan diri bangsa di awal kemerdekaan. Sementara Soeharto menekankan stabilitas politik dan pembangunan ekonomi dalam periode panjang pemerintahannya. Kedua era tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan selalu berkelindan dengan kebutuhan zamannya.

Namun, konteks hari ini jauh berbeda. Indonesia menghadapi tekanan globalisasi, transformasi digital, ketidakpastian ekonomi dunia, serta polarisasi sosial yang kian terasa. Demokrasi telah memberi ruang partisipasi yang luas, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan kompetisi politik yang kerap terjebak pada pragmatisme jangka pendek.

Dalam situasi demikian, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pemimpin yang populer atau komunikatif. Bangsa ini memerlukan negarawan—sosok yang mampu berpikir melampaui horizon elektoral dan menempatkan kepentingan jangka panjang di atas kalkulasi sesaat.

Baca :  Babinsa Koramil 415-12/Pasar Bersama Aparat Gabungan Gelar Patroli Malam, Jaga Kondusivitas Wilayah

Negarawan adalah pemimpin yang memahami bahwa stabilitas dan kebebasan harus berjalan beriringan. Ia tegas dalam menegakkan hukum, namun tetap menghormati prinsip demokrasi dan hak warga negara. Ia menyadari bahwa bantuan sosial penting sebagai jaring pengaman, tetapi kemandirian ekonomi hanya dapat dicapai melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan sektor produktif, dan tata kelola yang bersih.

Integritas menjadi fondasi utama. Tanpa kepercayaan publik, kebijakan yang baik sekalipun akan kehilangan legitimasi. Dalam pengalaman keprajuritan, kepercayaan dibangun melalui konsistensi antara kata dan tindakan. Prinsip tersebut berlaku pula dalam kepemimpinan nasional.

Indonesia juga merupakan negara yang majemuk. Kepemimpinan yang ideal adalah kepemimpinan yang inklusif—mampu merangkul perbedaan dan menjadikannya kekuatan, bukan sumber perpecahan. Di tengah arus informasi yang cepat dan sering kali memecah, pemimpin dituntut menjadi penenang, bukan pemantik polarisasi.

Baca :  MEMOAR HERY FR: MENINGGAL SEBELUM KEMATIAN

Pada akhirnya, menunggu hadirnya negarawan sejati bukanlah sekadar wacana tentang figur tertentu. Ia adalah refleksi kolektif tentang kualitas kepemimpinan yang kita cita-citakan. Bangsa yang besar membutuhkan visi yang besar pula—visi yang tidak berhenti pada satu periode kekuasaan, melainkan membangun fondasi bagi generasi mendatang.

Indonesia terlalu berharga untuk dipimpin oleh kepentingan sempit. Ia memerlukan pemimpin yang berpijak pada konstitusi, menjunjung integritas, serta berani mengambil keputusan demi masa depan bersama. Dalam keyakinan penulis, hanya dengan karakter seperti itulah Indonesia dapat melangkah mantap menghadapi tantangan zaman.

Share :

Baca Juga

Opini

Presiden Prabowo Subianto Tegas Pangkas Anggaran Demi Rakyat: Rp500 Triliun untuk Infrastruktur dan Kesejahteraan..!

Opini

Menambah Menteri Potensi Melemahkan Otonomi Daerah

Opini

Api Pancasila Tak Pernah Padam: Menolak Lupa, Menjaga Bangsa

Opini

Di Balik Batu Domino: Pelajaran Kehidupan dari Sebuah Permainan

Opini

DIRGAHAYU PEPABRI KE 67: “MENGUATKAN API PERJUANGAN DAN PERSATUAN BANGSA”

Opini

Dari Danrem 042/Gapu ke Tenaga Ahli Lemhannas: Karier Mayjen Rachmad

Opini

Membaca Lansekap Jambi: Mengurai Kompleksitas, Menata Konektivitas

Opini

Ruang Publik di Kota Jambi ‘Melupakan’ [atau] Bahasa Indonesia Tidak Indah Untuk Diucapkan?