SUYUDI ARIO SETO DAN HARAPAN BARU REFORMASI POLRI Kapolri Suyudi Mutasi 88 Pati dan Pamen Polri, 19 Kapolda Berganti Rocky Gerung Masuk Wantimpres Prabowo, Pengamat Kritis Kini Berada di Lingkar Istana Indonesia Hancurkan Bangladesh 9-2, Garuda Melaju ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Prabowo Lantik Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri, Sejumlah Menteri Bergeser

Home / Opini

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:04 WIB

JANGAN WARISKAN DIAM

Oleh: Letkol (Purn) Firdaus

Diamnya orang pintar adalah bencana. Diamnya orang alim adalah racun._Jangan wariskan diam kepada anak cucu. Wariskan keberanian untuk jujur.

Ada dua jenis diam yang menurut saya paling berbahaya bagi kehidupan sebuah bangsa: diamnya orang pintar dan diamnya orang alim.

Keduanya berbeda latar belakang, berbeda peran, bahkan berbeda jalan pengabdiannya. Tetapi ketika keduanya memilih diam pada saat kebenaran membutuhkan suara, dampaknya bisa sama: ketidakadilan mendapat ruang, kebohongan memperoleh tempat, dan kesalahan perlahan dianggap sebagai kebenaran.

Orang pintar memiliki ilmu. Ia memahami data, membaca keadaan, mampu membedakan fakta dan opini. Ia tahu ketika sebuah kebijakan keliru, ketika sebuah informasi tidak benar, atau ketika sebuah keputusan berpotensi merugikan masyarakat.

Namun persoalannya, tidak semua orang pintar berani menyampaikan apa yang diketahuinya. Ada yang memilih diam karena takut kehilangan jabatan. Ada yang khawatir proyeknya terganggu. Ada yang takut kehilangan kedekatan dengan penguasa. Ada pula yang memilih aman karena tidak ingin berhadapan dengan kelompok yang lebih kuat.

Pada titik inilah ilmu kehilangan keberaniannya. Ilmu tanpa keberanian moral hanya akan menjadi pengetahuan yang tersimpan di kepala, tetapi tidak memberi manfaat bagi masyarakat.

Baca :  Penerangan Korem di Era Informasi: Dari Publikasi Menuju Kepercayaan

Ketika orang pintar memilih diam, kebodohan dapat tampil sebagai kebenaran. Data dapat dikalahkan oleh kepentingan. Fakta dapat ditenggelamkan oleh propaganda.

Itulah mengapa diamnya orang pintar bisa menjadi bencana.

Tetapi ada diam lain yang tidak kalah berbahaya: diamnya orang alim. Orang alim memahami nilai-nilai agama. Ia mengetahui batas antara halal dan haram, antara keadilan dan kezaliman.

Namun ketika ia melihat ketidakadilan, ia justru memilih diam. Ketika melihat orang kecil diperlakukan tidak adil, ia mengatakan, “Sabar.” Ketika melihat kekuasaan disalahgunakan, ia berkata, “Jangan membuat gaduh.”

Tentu, menjaga ukhuwah adalah sesuatu yang baik. Menjaga persatuan juga merupakan kewajiban moral. Tetapi persatuan tidak boleh dibangun di atas kebohongan, dan ukhuwah tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan kezaliman.

Kritik yang disampaikan dengan adab bukanlah permusuhan. Mengatakan yang benar bukan berarti membenci. Justru masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang masih memiliki ruang untuk saling mengingatkan.

Sebagai seorang prajurit yang telah menyelesaikan masa dinas, saya belajar bahwa pertahanan bangsa bukan hanya persoalan senjata dan strategi. Ada pertahanan yang jauh lebih penting, yaitu pertahanan moral dan ketahanan nurani.

Baca :  MENJAGA MARWAH PERS, MERAWAT DEMOKRASI

Kita menghadapi banjir informasi, berita palsu, manipulasi opini, penyalahgunaan kekuasaan, politik kepentingan, dan berbagai bentuk pembusukan moral yang kadang berlangsung secara perlahan.

Musuh tidak selalu datang dengan seragam dan senjata. Kadang musuh hadir dalam bentuk ketidakpedulian. Kadang ia hadir dalam bentuk ketakutan untuk berkata benar. Dan yang paling mengkhawatirkan, kadang ia hadir melalui orang-orang baik yang memilih diam.

Karena itu, saya tidak ingin generasi setelah kita mewarisi kebiasaan tersebut.

Jangan wariskan diam kepada anak cucu kita.

Ajarkan mereka untuk berpikir sebelum percaya. Ajarkan mereka untuk memeriksa fakta sebelum menyebarkan berita. Ajarkan mereka untuk berani bertanya ketika menemukan sesuatu yang tidak masuk akal.

Dan yang paling penting, ajarkan mereka bahwa kejujuran tidak boleh bergantung kepada siapa yang sedang kita hadapi. Kalau yang salah adalah teman, kita tetap mengatakan salah. Kalau yang salah adalah kelompok kita, kita harus lebih berani mengingatkan.

Saya percaya, warisan terbesar orang tua kepada anak cucunya bukan semata-mata rumah, tanah, kendaraan, jabatan atau harta. Semua itu bisa habis.

Tetapi keteladanan akan hidup jauh lebih lama.

Baca :  PPAD, Jasamu Abadi: Pengabdian yang Tak Pernah Pensiun

Kalau kita ingin meninggalkan warisan yang bernilai, wariskanlah keberanian untuk berkata benar. Wariskan keberanian untuk meminta maaf ketika salah. Wariskan kebiasaan melakukan tabayun sebelum percaya.

“Saya boleh berbeda pendapat dengan Anda, tetapi saya tidak boleh memutarbalikkan kebenaran hanya karena Anda berbeda dengan saya.”

Negeri ini tidak membutuhkan masyarakat yang semuanya pandai berbicara. Yang kita butuhkan adalah masyarakat yang berani mengatakan sesuatu yang benar pada saat kebenaran sedang terancam.

Kita boleh berbeda pilihan politik. Kita boleh berbeda pandangan. Namun semuanya harus dilakukan dengan akal sehat, data, adab dan tanggung jawab.

Sebab kritik bukan kebencian. Kritik adalah salah satu bentuk kepedulian. Dan diam bukan selalu berarti bijaksana. Ada saatnya diam adalah kebijaksanaan. Tetapi ada pula saatnya diam justru menjadi bentuk pembiaran. Di situlah hati nurani diuji.

Jangan wariskan diam. Wariskan kejujuran. Wariskan keberanian. Wariskan adab. Wariskan kepedulian.

Karena pada akhirnya, yang akan ditanyakan sejarah bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang kita biarkan terjadi ketika kita sebenarnya tahu bahwa itu salah.

Jambi, 3 Oktober 2026.

Share :

Baca Juga

Opini

80 Tahun Merdeka, Rakyat Masih Menunggu Kemerdekaan Sejati

Opini

PPAD, Jasamu Abadi: Pengabdian yang Tak Pernah Pensiun

Opini

Budi dan Fadhil Bertemu…

Opini

Menghargai Setiap Profesi: Sebuah Pelajaran tentang Adab dalam Berkomunikasi

Opini

Pengamat Militer Khairul Fahmi : Kejanggalan Dibalik Drama Penyanderaan Pilot Susi Air

Nasional

ATOM: Viralitas yang Mengguncang Peta Politik Indonesia Menuju Pilpres 2029

Opini

Hijrah adalah Perjalanan yang Tak Terlihat oleh Mata, Tapi Dirasakan oleh Jiwa

Opini

Mengenang Tragedi 30 September: Sejarah Kelam, Pelajaran Abadi