Oleh: Firdaus
Hujan yang mengguyur Kota Jambi sejak pagi tak menyurutkan langkah para purnawirawan yang tergabung dalam Pepabri. Jalanan basah dan langit kelabu justru menjadi latar yang menegaskan keteguhan mereka untuk tetap hadir. Bagi para purnawirawan, hujan hanyalah cuaca; persaudaraan adalah janji yang tak mengenal musim.
Di kantin Rumah Sakit Dokter Bratanata, secangkir kopi hangat menjadi pengantar obrolan ringan. Tak ada diskusi politik atau romantisme berlebihan tentang masa lalu. Yang mengalir justru kisah-kisah sederhana: kesehatan yang menurun, keluarga di rumah, dan tawa kecil untuk menjaga hati tetap lapang. Tempat itu menjadi ruang jeda sebelum mereka membesuk Ketua DPC Pepabri Kota Jambi, Peltu (Purn) Haji Mujiono, yang tengah menjalani perawatan.
Membesuk bukan sekadar rutinitas organisasi. Ia adalah refleksi nilai yang terus dirawat Pepabri: setia kawan. Dalam ruang-ruang sempit rumah sakit, hierarki luluh. Pangkat dan jabatan ditanggalkan, berganti kepedulian yang setara. Hadir, duduk, dan mendoakan—itulah bentuk pengabdian paling manusiawi.
Di Pepabri Kota Jambi, kepedulian itu dijalankan secara lebih terstruktur melalui Bantuan Sosial Peduli Purnawirawan (BSPP). Program ini menjadi denyut sosial organisasi, di mana setiap bulan dibentuk kelompok khusus untuk membesuk sekaligus menyalurkan bantuan kepada purnawirawan yang sakit atau membutuhkan perhatian. Dalam kegiatan ini, sekat pangkat tak lagi relevan—senior dan yunior berjalan beriringan, menyatukan empati.
Pada bulan ini, kelompok besuk BSPP dipimpin oleh AKP (Purn) Efendi, dengan didampingi para senior serta jajaran pengurus DPC Pepabri Kota Jambi.
“Bagi kami, membesuk kawan yang sakit itu bukan kewajiban organisasi semata, tapi panggilan hati. Dulu kami bersama dalam tugas, sekarang kami bersama dalam doa dan kepedulian. Itulah makna Pepabri,” ujar Efendi.
Pepabri di Jambi menunjukkan bahwa nasionalisme tak selalu hadir dalam seremoni atau pidato panjang. Ia hidup dalam gestur kecil yang konsisten: tetap datang meski hujan, tetap peduli meski usia menua, dan tetap berbagi meski seragam telah lama dilipat.
Di bawah langit Jambi yang basah, para purnawirawan itu memberi pesan sunyi namun kuat: pengabdian pada bangsa tak berakhir saat masa dinas selesai. Ia terus hidup dalam persaudaraan, kepedulian, dan kesetiaan pada sesama.










