Cegah Karhutla Sejak Dini, Babinsa Koramil Muara Bulian Gencarkan Patroli dan Sosialisasi kepada Warga Babinsa Kenali Asam Bawah Hadiri Safari Subuh Berjamaah, Pererat Silaturahmi dan Tingkatkan Keimanan Umat Babinsa Koramil Muara Tembesi Berikan Pembekalan Persyaratan Administrasi Pendaftaran TNI kepada Siswi MAN 2 Batanghari Babinsa Koramil Sebapo Pantau Perbaikan Jalan Desa, Serap Aspirasi Warga di Suka Makmur Melalui Komsos, Babinsa Koramil Mersam Perkuat Semangat Persatuan dan Kedekatan dengan Warga

Home / Opini

Kamis, 30 Mei 2024 - 08:06 WIB

“Tertampar” Wartawan Muda, Kopi Makin Pahit

Oleh : Hery FR (*)

SEPERTI biasanya, setiap pagi selalu menikmati riitual segelas kopi pahit ditemani kepulan asap jie sam soe sambil membuka PC melihat berita-berita masuk.

Saat tegukan ke 7 kopi pahit, tiba-tiba ada notifikasi WA messenger dari seorang sahabat wartawan muda Anil Hakim mengirim draft opini dengan judul “Panggil Kami Wartawan atau Jurnalis”.

Sebaris pesan lainnya “Izin, apakah ini layak untuk diterbitkan kanda ketua ?”

Baca :  Babinsa Hadiri Walimatul Safar Warga Tanjung Sari, Pererat Silaturahmi Jelang Haji

Tak pelak lagi saya harus melihat draft tulisan opini karya sang wartawan muda tersebut.

Dalam opini tersebut bagaimana keresahan Anil Hakim atas “Penumpang Gelap” yang bikin resah profesi yang dibanggakannya sebagai wartawan jadi ajang tumpangan oknum yang kurang layak disebut wartawan.

Keresahan sang wartawan muda yang dituangkan dalam bentuk karya tulis ini seakan menjadi “Tamparan keras” dan membuat kopi yang saya minum makin pahit.

Baca :  Babinsa Koramil 415-13/Sebapo Perkuat Kedekatan dengan Pemuda Desa Melalui Komsos di Lokasi Pembangunan

Bagaimana tidak, sejak beberapa tahun terakhir karena kesibukan sebagai pengurus organisasi pers dan lainnya, nyaris sudah tidak pernah lagi menulis opini.

“Tamparan” makin terasa keras ketika bagaimana dalam berbagai kegiatan sharing knowledge, FGD dan seabrek diskusi sering memberi motivasi ke teman-teman muda agar terus berkarya secara istiqomah sebagai refleksi rasa syukur atas talenta yang Allah SWT Anugerahkan sebagai wartawan yang konon sebagai profesi “Nabi-Nabi Kecil” sebagai pembawa pesan dan informasi pendidikan, hiburan dan kontrol sosial sebagaimana fungsi pers yang diatur dalam undang-undang nomor 40/1999.
Dan kopi terasa makin pahit ketika teringat pesan Rasulullah SAW tentang bagaimana pentingnya menjadi pribadi yang layak dicontoh harus memberi contoh dalam bentuk perbuatan.

Baca :  Dukung Program Kampung Bahagia, Babinsa Rajawali Koordinasi Bersama Lurah dan Ketua RT

“Belajar tanpa berpikir itu tidaklah berguna, tapi berpikir tanpa belajar itu sangatlah berbahaya” (Ir. Sukarno)

Share :

Baca Juga

Opini

Dari Danrem 042/Gapu ke Tenaga Ahli Lemhannas: Karier Mayjen Rachmad

Opini

Dr. Dedek Kusnadi : Budiyako Layak jadi Alternatip Calon Walikota Jambi

Opini

“Dak Biso Eloki, Jangan Ngerusak” — Menjaga Marwah PEPABRI dengan Jiwa Kesatria dan Semangat Kebangsaan

Opini

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Refleksi Hari Guru Nasional 2024

Opini

Rakyat Menggugat: Rentetan Blunder Pemerintahan Prabowo dan Ledakan Amarah Publik

Opini

Abraham Samad dan Mantan Pimpinan KPK Laporkan Dugaan Korupsi Agung Sedayu Group terkait Pemagaran Laut PIK 2

Opini

Hakikat Puasa yang Hakiki: Puasa Rasa Sejati

Opini

Teori Bohlam Listrik: Sebuah Cermin bagi Pejabat Publik tentang Arti Jabatan, Kehormatan, dan Kehidupan Pasca Kekuasaan