Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Babinsa Beliung Hadiri Ceramah Agama di Masjid Al Ikhlas Babinsa Koramil Mersam Gotong Royong Bantu Pembangunan Rumah Warga Safari Dakwah di Prabumulih, Ustaz Jarir dan Ustaz Rofiq Fatah Ajak Jamaah Perkuat Bekal Akhirat Irwansyah Kembali Pimpin PWI Kota Jambi, Tegaskan Komitmen pada Etika dan Profesionalisme Pers Ketum PWI Pusat Ajak Keluarga Besar PWI Provinsi Jambi Jaga Kekompakan

Home / Opini

Rabu, 18 Juni 2025 - 08:47 WIB

Pentingnya Peranan Medsos Di Era Digitalisasi

Oleh: Herianto Reza

(SUARA JAMBI)

Di era digitalisasi yang melaju tanpa rem, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan manusia modern. Apa yang dulu membutuhkan waktu berhari-hari untuk disampaikan, kini hanya butuh detik untuk menjangkau seluruh penjuru dunia. Dari Twitter (X), Facebook, Instagram, hingga TikTok dan WhatsApp—media sosial menjelma menjadi ruang publik baru, tempat komunikasi, edukasi, bahkan mobilisasi massa terjadi secara real time.

Tak ada lagi sekat geografis. Anak desa bisa berdialog langsung dengan influencer ibukota. Petani bisa belajar inovasi pertanian dari luar negeri hanya lewat video pendek. UMKM bisa go digital dengan satu unggahan sederhana. Media sosial telah mengubah wajah interaksi manusia—lebih cepat, lebih luas, dan lebih dinamis.

Baca :  Rosyid Jurnalis, Sosok Multitalenta yang Menginspirasi di Jambi

Namun, seperti dua sisi mata uang, kehadirannya juga membawa tantangan pelik. Remaja mengalami gangguan citra diri karena terus membandingkan hidupnya dengan unggahan “bahagia palsu” milik orang lain. Kecemasan sosial, tekanan mental, dan krisis identitas muncul sebagai efek domino dari konten yang tak selalu nyata namun seolah sempurna.

Lebih jauh, penyebaran hoaks menjadi wabah baru. Di tengah literasi digital yang belum merata, berita palsu dengan mudah diterima sebagai fakta. Dalam hitungan detik, kebohongan bisa viral dan membentuk persepsi publik, bahkan memicu konflik horizontal. Ini bukan sekadar masalah teknologi, tapi soal etika dan tanggung jawab bersama.

Baca :  SEJARAH, VISI, MISI, TUJUAN, DAN BIDANG KEGIATAN PEPABRI

Karena itu, kunci dari tantangan ini adalah melek digital. Masyarakat harus dibekali kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, dan memahami algoritma media sosial yang kadang tak berpihak pada kebenaran, tapi pada keterlibatan (engagement). Tanpa kesadaran ini, kita akan menjadi korban—bukan pelaku aktif—dalam ekosistem digital.

Namun jangan salah: potensi positif media sosial juga luar biasa besar. Lihat saja gerakan sosial yang viral dan mampu menggerakkan bantuan kemanusiaan dalam hitungan jam. Lihat edukator muda yang membagikan ilmu gratis dan konsisten menyuarakan keadilan, lingkungan, dan kesehatan. Jika digunakan dengan empati dan nalar sehat, media sosial bisa menjadi alat pemberdayaan rakyat.

Baca :  Menjaga Kesempurnaan Ibadah: Zakat Fitrah, Waktu, dan Ketepatan Penyalurannya

Hari ini, tantangan terbesar kita bukanlah menjauhi media sosial, melainkan mengelolanya dengan bijak. Jadikan media sosial bukan cermin semu, tapi jendela ilmu. Bukan sekadar panggung pencitraan, tapi wahana perubahan.

Karena di era ini, yang menguasai informasi—bukan yang berkuasa atas senjata—adalah mereka yang menggerakkan dunia.**)

Share :

Baca Juga

Opini

Menyalahkan Kopi, Menyelamatkan Izin

Opini

SEJARAH, VISI, MISI, TUJUAN, DAN BIDANG KEGIATAN PEPABRI

Opini

Ilusi Perwakilan Rakyat: Membongkar Realitas Legislasi di DPR RI

Opini

Panen Raya Oligarki: Saatnya Negara Kembali ke Pangkuan Rakyat..!

Daerah

Kekerasan Pada Anak, Psikolog Nirma: Penyebabnya Warisan Antargenerasi

Opini

“Netralitas Strategis Indonesia di Tengah Krisis Iran-Israel: Menghindari Polarisasi Global dan Menjaga Ketahanan Nasional”

Opini

Perang Bukan Milik Kita, Tapi Dampaknya Nyata: Strategi Indonesia di Era Krisis Global

Opini

Pengamat Militer Khairul Fahmi : Kejanggalan Dibalik Drama Penyanderaan Pilot Susi Air