Danrem 042/Gapu Salurkan 25 Ribu Masker Bantuan Presiden, Lindungi Warga Jambi dari Dampak Kabut Asap Karhutla Musda X LVRI Jambi, PEPABRI Dorong Pewarisan Semangat Juang ’45 kepada Generasi Penerus SBC Soroti SOP dan Peran Askrindo-Jamkrindo dalam Sidang Kasus Semen Baturaja Danrem 042/Gapu dan Gubernur Jambi Tinjau Langsung Penanganan Karhutla di Londerang Pangdam XXII/TB Turun Langsung Pantau Penanganan Karhutla di Kalteng

Home / Opini

Rabu, 18 Juni 2025 - 08:47 WIB

Pentingnya Peranan Medsos Di Era Digitalisasi

Oleh: Herianto Reza

(SUARA JAMBI)

Di era digitalisasi yang melaju tanpa rem, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan manusia modern. Apa yang dulu membutuhkan waktu berhari-hari untuk disampaikan, kini hanya butuh detik untuk menjangkau seluruh penjuru dunia. Dari Twitter (X), Facebook, Instagram, hingga TikTok dan WhatsApp—media sosial menjelma menjadi ruang publik baru, tempat komunikasi, edukasi, bahkan mobilisasi massa terjadi secara real time.

Tak ada lagi sekat geografis. Anak desa bisa berdialog langsung dengan influencer ibukota. Petani bisa belajar inovasi pertanian dari luar negeri hanya lewat video pendek. UMKM bisa go digital dengan satu unggahan sederhana. Media sosial telah mengubah wajah interaksi manusia—lebih cepat, lebih luas, dan lebih dinamis.

Baca :  Dari Doa di Tanah Suci Hingga Gerbang Pengabdian Negeri: Kisah M. Raffi Berlian Setiawan Menuju Calon Taruna AU

Namun, seperti dua sisi mata uang, kehadirannya juga membawa tantangan pelik. Remaja mengalami gangguan citra diri karena terus membandingkan hidupnya dengan unggahan “bahagia palsu” milik orang lain. Kecemasan sosial, tekanan mental, dan krisis identitas muncul sebagai efek domino dari konten yang tak selalu nyata namun seolah sempurna.

Lebih jauh, penyebaran hoaks menjadi wabah baru. Di tengah literasi digital yang belum merata, berita palsu dengan mudah diterima sebagai fakta. Dalam hitungan detik, kebohongan bisa viral dan membentuk persepsi publik, bahkan memicu konflik horizontal. Ini bukan sekadar masalah teknologi, tapi soal etika dan tanggung jawab bersama.

Baca :  Saatnya Indonesia Memiliki Armada Pemadam dari Udara

Karena itu, kunci dari tantangan ini adalah melek digital. Masyarakat harus dibekali kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, dan memahami algoritma media sosial yang kadang tak berpihak pada kebenaran, tapi pada keterlibatan (engagement). Tanpa kesadaran ini, kita akan menjadi korban—bukan pelaku aktif—dalam ekosistem digital.

Namun jangan salah: potensi positif media sosial juga luar biasa besar. Lihat saja gerakan sosial yang viral dan mampu menggerakkan bantuan kemanusiaan dalam hitungan jam. Lihat edukator muda yang membagikan ilmu gratis dan konsisten menyuarakan keadilan, lingkungan, dan kesehatan. Jika digunakan dengan empati dan nalar sehat, media sosial bisa menjadi alat pemberdayaan rakyat.

Baca :  DIRGAHAYU PEPABRI KE 67: "MENGUATKAN API PERJUANGAN DAN PERSATUAN BANGSA"

Hari ini, tantangan terbesar kita bukanlah menjauhi media sosial, melainkan mengelolanya dengan bijak. Jadikan media sosial bukan cermin semu, tapi jendela ilmu. Bukan sekadar panggung pencitraan, tapi wahana perubahan.

Karena di era ini, yang menguasai informasi—bukan yang berkuasa atas senjata—adalah mereka yang menggerakkan dunia.**)

Share :

Baca Juga

Opini

“Langit Asia Bergejolak: Jet Tempur India Gugur di Tangan Senjata Cina – Dunia Menyaksikan Lahirnya Keseimbangan Peradaban Baru..!”

Opini

Menabur Kebaikan dan Kesabaran, Kunci Kesejahteraan dan Ketenangan

Opini

Menghindari Sifat Tertutup dan Apatis Dalam Interaksi Sosial

Daerah

Ketua KONI Ideal: Integritas di Atas Ambisi, Prestasi di Atas Politik

Opini

Ngopi Sendiri: Merayakan Sepi, Menemukan Arti

Opini

“Hari Juang Infanteri ke-76”: Semangat Pantang Menyerah untuk NKRI yang Berdaulat

Opini

PWI Kehilangan Sosok Panutan, Dunia Pers Jambi Kehilangan Sahabat

Opini

Politik Uang: Ancaman Demokrasi di Pilkada Serentak 2024