JAKARTA — Perjalanan karier Mayjen TNI (Purn) Prof. Dr. Budi Pramono menarik perhatian setelah ia dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Indonesia (PRI) periode 2026–2031. Purnawirawan TNI AD kelahiran Sidoarjo, 1967, itu membawa pengalaman panjang di lingkungan militer, intelijen strategis, pendidikan, dan akademik ke dalam panggung politik.
Budi Pramono merupakan lulusan Akademi Militer 1988-B dari kecabangan Arhanud. Pada awal pengabdiannya, ia menjalani sekitar satu dekade penugasan di lingkungan Kostrad sebelum kemudian memasuki bidang intelijen strategis di Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.
Karier militernya terus berkembang hingga menduduki sejumlah posisi strategis. Ia antara lain pernah menjadi Staf Ahli Panglima TNI Bidang Politik dan Keamanan Nasional pada 2021–2025 serta Pa Sahli Tk III Kasad Bidang Jahpers pada 2025.
Pengalaman pendidikannya juga berlangsung di dalam dan luar negeri. Budi Pramono tercatat mengikuti pendidikan di Australia, Taiwan, dan Filipina. Dalam salah satu pendidikan di Manila, ia disebut meraih predikat lulusan terbaik.
Di luar karier militer, perjalanan akademik menjadi bagian penting dari profil Budi Pramono. Ia menyelesaikan pendidikan magister Security and Strategy di Hull University, Inggris, pada 1998, kemudian magister Manajemen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta pada 2005.
Pada 2019, ia menyelesaikan pendidikan doktoral Ilmu Politik di Universitas Nasional. Gelar doktor tersebut diraih ketika dirinya masih berpangkat Kolonel dengan predikat sangat memuaskan.
Pendidikan tersebut kemudian dilengkapi dengan pendidikan Lemhannas pada 2023.
Deretan pendidikan dan kompetensi itu menjadi salah satu alasan namanya tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Berdasarkan data yang disampaikan, Budi Pramono menerima Rekor MURI Nomor 11996/R.MURI/X/2024 pada 31 Oktober 2024 sebagai prajurit TNI AD dengan gelar akademik dan kompetensi terbanyak.
Sejumlah gelar dan sertifikasi yang melekat pada namanya antara lain Assoc. Prof., S.I.P., S.H., M.M., M.A., M.H., GSC., CIQaR., CIQnR., MOS., MCE., dan CIMMR.
Kini, pengalaman tersebut memasuki ruang yang berbeda. Sejak 1 Oktober 2026, Budi Pramono dipercaya menduduki posisi Sekretaris Jenderal PRI mendampingi Ketua Umum Muhammad Nazaruddin.
Posisi Sekjen menempatkannya pada posisi penting dalam membangun organisasi partai, terutama ketika PRI mulai memperluas struktur hingga tingkat daerah dan mempersiapkan diri menghadapi dinamika politik menuju Pemilu 2029.
Dalam gagasannya mengenai pembangunan partai, Budi Pramono menyebut tiga hal yang menjadi perhatian PRI, yakni tata kelola organisasi modern, penguatan sayap partai, serta penyusunan program yang aplikatif.
Tata kelola modern, menurut gagasan tersebut, diarahkan agar partai memiliki sistem organisasi yang mampu menjadi pusat pengelolaan dan pengembangan gagasan. Sementara 10 sayap partai diposisikan sebagai ruang untuk mengakomodasi keberagaman masyarakat dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Adapun program partai diarahkan agar memiliki keterkaitan dengan agenda pembangunan nasional, termasuk Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Sikap Budi Pramono terhadap sistem politik juga menunjukkan upaya menempatkan efektivitas pemerintahan dan keterwakilan politik dalam satu keseimbangan. Dalam pembahasan mengenai wacana ambang batas parlemen sebesar 5 persen, misalnya, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara efektivitas sistem politik dan prinsip demokrasi.
“Yang paling penting adalah memastikan keseimbangan antara kebutuhan menciptakan sistem politik yang efektif dengan prinsip keterwakilan dan demokrasi,” ujarnya.
Sebagai Sekjen, Budi Pramono juga mulai terlibat dalam konsolidasi struktur PRI di daerah. Salah satunya dengan menyerahkan surat keputusan kepengurusan DPD PRI Jawa Barat yang dipimpin Mayjen TNI (Purn) dr. S. Bambang Indrasto.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan PRI tidak berhenti pada pembentukan kepengurusan di tingkat pusat. Struktur daerah menjadi bagian penting dari upaya membangun organisasi politik yang memiliki basis hingga ke daerah.
Perjalanan Budi Pramono dengan demikian memperlihatkan lintasan karier yang cukup panjang: dari pendidikan militer, penugasan di Kostrad, pengalaman di lingkungan intelijen strategis, pendidikan akademik hingga tingkat doktor, dan akhirnya memasuki arena politik praktis.
Perpindahan dari institusi militer ke partai politik tentu membawa tantangan tersendiri. Pengalaman organisasi dan kepemimpinan dapat menjadi modal, tetapi politik memiliki karakter yang berbeda. Di ruang politik, kemampuan membangun komunikasi, merawat keberagaman, memahami aspirasi masyarakat, serta menerjemahkan gagasan menjadi program nyata akan menjadi ukuran berikutnya.
Bagi PRI, penunjukan Budi Pramono bukan sekadar menambah figur purnawirawan dalam jajaran pengurus. Posisi Sekjen menuntut kemampuan menerjemahkan visi ketua umum menjadi organisasi yang bekerja, terukur, dan mampu membangun kepercayaan publik.
Dari perjalanan panjang di lingkungan militer dan intelijen hingga memasuki dunia akademik dan politik, babak baru Budi Pramono kini dimulai. Tantangannya bukan lagi menjalankan komando dalam struktur militer, melainkan membangun organisasi politik melalui argumentasi, program, konsolidasi, dan kepercayaan masyarakat. (Fird’s)
Sumber: Wikipedia, diolah dari berbagai sumber
Editor: Firdaus










