Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial modern, banyak orang berlomba ingin diakui penting. Sebagian menempuh jalan pintas: mencari perhatian, membangun citra semu, bahkan memanipulasi relasi agar terlihat dibutuhkan. Padahal, kebutuhan sejati tidak lahir dari rekayasa. Ia tumbuh dari nilai diri yang nyata.
Pandangan inilah yang disampaikan M. Rosyid, jurnalis asal Jambi yang akrab disapa Rosyid Jurnalis. Menurutnya, membuat orang merasa butuh kepada kita bukan soal trik psikologis murahan, melainkan tentang bagaimana membangun manfaat yang konkret bagi sesama. Ketika seseorang hadir sebagai solusi, sebagai pendengar yang baik, dan sebagai pribadi yang dapat dipercaya, maka rasa butuh itu akan muncul dengan sendirinya.
Dalam banyak hubungan sosial, hukum tak tertulis selalu berlaku: manusia mencari mereka yang membawa manfaat. Di kantor, orang dibutuhkan karena kompetensinya. Di masyarakat, seseorang dihormati karena ketulusan dan integritasnya. Dalam pergaulan, individu dicari karena kehangatan dan empatinya. Semua itu bukan hasil pencitraan, melainkan buah dari kualitas diri.
Rosyid merumuskan beberapa langkah sederhana namun mendasar. Pertama, membangun nilai diri yang jelas. Tanpa keahlian dan karakter yang kuat, mustahil seseorang dianggap penting. Kedua, menjadi pendengar yang baik. Di era ketika semua orang ingin bicara, mereka yang mau mendengar justru semakin langka dan bernilai.
Ketiga, memberikan solusi nyata, bukan sekadar simpati kosong. Banyak orang pandai berkomentar, tetapi sedikit yang benar-benar mampu membantu menyelesaikan persoalan. Keempat, menjaga konsistensi dan keandalan. Kepercayaan lahir dari janji yang ditepati, dari sikap yang stabil, dari komitmen yang terjaga.
Ia juga menekankan pentingnya menghargai orang lain, menjaga batasan diri agar tidak terkesan murahan, serta membangun kepercayaan jangka panjang. Poin-poin itu sejatinya adalah etika dasar dalam membangun hubungan manusiawi yang sehat.
Di ujung penjelasannya, Rosyid menambahkan dimensi yang kerap dilupakan: akhlak dan ibadah. Nilai diri, katanya, harus berakar pada moralitas. Tanpa kejujuran dan integritas, semua strategi sosial akan runtuh seperti bangunan tanpa fondasi.
Gagasan ini terasa sederhana, tetapi relevan di tengah budaya serba instan. Banyak orang ingin dihormati tanpa berprestasi, ingin dipercaya tanpa membuktikan diri, ingin dibutuhkan tanpa memberi manfaat. Padahal, kebutuhan sejati tidak bisa dipaksakan.
Pada akhirnya, membuat orang merasa butuh kepada kita bukanlah tujuan, melainkan konsekuensi. Konsekuensi dari kerja keras, ketulusan, dan kebermanfaatan. Ketika seseorang fokus menjadi pribadi yang bernilai, dunia sosial akan dengan sendirinya menempatkan dia pada posisi yang dibutuhkan.
Bukan manipulasi. Bukan pencitraan. Hanya logika sederhana kehidupan: siapa yang bermanfaat, dialah yang dicari.

(Rosyid/Sriwijayadaily)










