Ada kehilangan yang tidak mudah diterima oleh hati. Ketika seorang sahabat yang selama ini hadir dalam perjalanan hidup tiba-tiba dipanggil Allah SWT, yang tersisa bukan hanya kesedihan, tetapi juga begitu banyak kenangan.
Begitulah yang saya rasakan ketika mendengar kabar kepergian Heri Farmansyah.
Bagi saya, Heri bukan sekadar seorang teman dalam dunia pers. Ia adalah saudara dalam perjalanan kehidupan. Hubungan kami telah terjalin jauh sebelum saya memasuki masa pensiun.
Ketika masih aktif berdinas di Kodim 0419/Tanjab, kemudian melanjutkan tugas di Korem 042/Garuda Putih sebagai Kepala Penerangan Korem, saya telah mengenal dan berkomunikasi dengan almarhum. Hubungan itu kemudian terus berlanjut meskipun masa dinas saya sebagai prajurit telah berakhir.
Ketika memasuki masa pensiun, Heri justru mengajak saya bergabung di media online Jambidaily.com selaku Redaktur TNI-POLRI. Ajakan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan saya memasuki dunia media.
Kami kemudian semakin sering berdiskusi. Membicarakan jurnalistik, perkembangan daerah, kehidupan masyarakat, dan berbagai persoalan yang kami anggap penting untuk disampaikan kepada publik.
Heri adalah sosok yang senang berbagi. Ia tidak pernah merasa paling tahu. Pengalaman yang dimilikinya justru menjadi sesuatu yang ia bagikan kepada orang lain.
Bahkan ketika saya memiliki keinginan untuk membangun media sendiri, Heri memberikan saran dan dorongan. Dari proses itulah kemudian saya memberanikan diri mendirikan SriwijayaDaily.com.
Mungkin bagi Heri, sarannya itu sederhana.
Tetapi bagi saya, tidak.
Saran tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang tidak akan pernah saya lupakan. Karena itu, ketika hari ini Heri telah pergi, ada bagian dari perjalanan hidup saya yang ikut terasa kehilangan.
Saya kehilangan seorang teman. Saya kehilangan seorang saudara.
Saya bersaksi, almarhum adalah orang baik.
Tentu sebagai manusia, Heri tidak luput dari kekurangan dan kekhilafan. Tetapi setiap orang yang pernah mengenalnya tentu memiliki kenangan masing-masing tentang kebaikan, keramahan, kesantunan, dan persahabatan yang pernah ia berikan.
Bagi saya, kepribadian Heri patut menjadi contoh.
Ia mengajarkan bahwa menjadi manusia tidak harus selalu berada di depan. Tidak harus selalu merasa paling hebat. Tidak harus selalu menang dalam setiap perbedaan.
Kadang-kadang, menjadi manusia yang baik justru cukup dengan menghargai orang lain, menjaga silaturahmi, berbicara dengan santun, dan memberikan manfaat kepada sesama.
Itulah yang membuat seseorang tetap hidup dalam kenangan, meskipun jasadnya telah tiada.
Kematian memang memisahkan kita secara fisik. Tetapi kebaikan tidak pernah benar-benar mati.
Senyumnya tetap tinggal dalam ingatan.
Nasihatnya tetap terngiang.
Karyanya tetap menjadi jejak.
Persahabatannya tetap menjadi kenangan.
Dan namanya tetap hidup dalam doa.
Allah SWT berfirman:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Ayat itu kembali mengingatkan kita bahwa kematian bukan hanya milik orang yang telah pergi. Kematian adalah kepastian bagi kita semua.
Hari ini kita mengantar sahabat.
Suatu hari nanti, mungkin kita pula yang akan diantar.
Hari ini kita mendoakan orang yang telah berpulang.
Kelak mungkin nama kita yang disebut dalam doa.
Maka kepergian Heri seharusnya menjadi renungan bagi kita yang masih hidup.
Jangan terlalu sibuk mengejar jabatan hingga lupa menjaga persaudaraan.
Jangan terlalu mengejar harta hingga lupa berbagi.
Jangan terlalu merasa kuat hingga lupa bahwa kita hanyalah manusia.
Jangan menyimpan dendam terlalu lama.
Jangan menunda meminta maaf.
Jangan menunggu kehilangan untuk mengatakan bahwa seseorang begitu berarti bagi kita.
Sebab kita tidak pernah tahu kapan sebuah pertemuan akan menjadi pertemuan terakhir.
Kematian juga mengajarkan bahwa pada akhirnya tidak ada yang kita bawa selain amal.
Jabatan akan kita tinggalkan.
Pangkat akan kita tinggalkan.
Harta akan kita tinggalkan.
Popularitas akan berlalu.
Yang tersisa adalah nama baik, amal kebaikan, dan doa dari orang-orang yang pernah kita sentuh kehidupannya.
Karena itu, selama masih diberi kesempatan hidup, marilah kita menjadi manusia yang meninggalkan kebaikan.
Jadilah orang yang ketika hadir membawa ketenangan.
Ketika berbicara memberikan manfaat.
Ketika pergi meninggalkan kerinduan.
Dan ketika telah tiada, namanya masih disebut dalam doa.
Selamat jalan, saudaraku Heri Farmansyah.
Engkau telah lebih dahulu pulang kepada Sang Pemilik kehidupan.
Kami yang masih tinggal hanya dapat meneruskan perjalanan sambil membawa kenangan tentangmu.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kekhilafanmu, menerima amal ibadahmu, melapangkan dan menerangi alam kuburmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan.
Dan semoga kami yang masih hidup mampu mengambil pelajaran dari kepergianmu.
Engkau telah pergi dari pandangan, tetapi tidak dari kenangan.
Engkau telah meninggalkan dunia, tetapi tidak dari hati orang-orang yang menyayangimu.
Selamat jalan, saudaraku.
Semoga kita dipertemukan kembali di tempat terbaik yang telah Allah SWT janjikan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Al-Fatihah.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. 🤲










