TNI AD Tegaskan Babinsa Tidak Miliki Kewenangan Urusan Pajak, Sinergi dengan DJP Sebatas Koordinasi Babinsa Pematang Sulur Hadiri Mediasi Sengketa Tanah Waris, Dorong Penyelesaian Lewat Musyawarah Babinsa Koramil 415-12/Pasar Pererat Silaturahmi dengan Pelaku Usaha Lewat Komsos Babinsa Koramil 415-12/Pasar Pererat Silaturahmi dengan Pelaku Usaha Lewat Komsos Babinsa Olak Kemang Perkuat Sinergi dengan LPM Demi Kondusivitas Wilayah

Home / Opini

Sabtu, 27 Desember 2025 - 11:02 WIB

Ketika Jabatan Usai, Nilai Harus Tetap Hidup

ADA satu momen yang pasti datang dalam hidup siapa pun yang pernah memegang amanah: saat kursi dikembalikan, tanda jabatan dilepas, dan rutinitas yang dulu padat tiba-tiba menjadi lengang. Tidak ada lagi agenda resmi, rapat berderet, atau panggilan yang mendesak. Di titik inilah banyak orang diuji—bukan oleh kekuasaan, melainkan oleh keheningan setelahnya.

Jabatan, pada hakikatnya, adalah titipan waktu. Ia datang dengan nama, kewenangan, dan sorotan, lalu pergi tanpa meminta izin. Yang sering menjadi masalah bukanlah berakhirnya jabatan itu sendiri, melainkan keterikatan berlebihan pada simbol-simbolnya. Padahal, sejak awal jabatan hanyalah alat; yang seharusnya tinggal adalah nilai yang kita hidupi selama menjalaninya.

Baca :  Ketika Bonus Demografi Belum Menjadi Bonus Kecerdasan

Saya belajar bahwa ukuran keberhasilan tidak terletak pada lamanya seseorang berkuasa, melainkan pada jejak sikap yang ditinggalkan. Apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa dilindungi, didengar, dan diperlakukan adil? Atau justru meninggalkan jarak, luka, dan ketakutan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah tercatat dalam laporan akhir masa jabatan, tetapi tersimpan rapi dalam ingatan banyak orang.

Ketika jabatan usai, nilai justru diuji dengan lebih jujur. Tanpa fasilitas, tanpa protokoler, tanpa panggilan hormat, yang tersisa hanyalah pribadi apa adanya. Di fase ini, orang akan tetap datang jika nilai kita hidup dalam perilaku. Mereka menyapa bukan karena posisi, tetapi karena rasa hormat yang tumbuh dari keteladanan.

Baca :  Babinsa Turun Tangan Bangun Rumah Warga, Gotong Royong Jadi Perekat Desa

Ada orang yang pensiun dari jabatan, lalu ikut pensiun dari kepedulian. Ada pula yang tidak lagi memiliki wewenang, tetapi tetap menjadi rujukan karena kebijaksanaannya. Perbedaannya bukan pada masa lalu, melainkan pada cara memaknai masa kini. Nilai—seperti kejujuran, kesederhanaan, dan keberpihakan pada kebenaran—tidak mengenal masa purna tugas.

Justru setelah jabatan berakhir, kesempatan untuk menghidupkan nilai menjadi lebih luas dan lebih tulus. Kita bebas berbicara tanpa kepentingan, memberi tanpa pamrih, dan hadir tanpa ingin dipuji. Inilah ruang di mana pengalaman panjang menemukan bentuk paling jernih: menjadi nasihat yang tidak memaksa dan teladan yang tidak berisik.

Bagi generasi yang lebih muda, pelajaran terpenting bukanlah bagaimana kita naik ke jabatan, melainkan bagaimana kita turun darinya. Apakah dengan lapang dada, dengan rasa syukur, dan dengan kesediaan tetap berguna. Dari sanalah mereka belajar bahwa kekuasaan bukan tujuan akhir, dan hidup tidak berhenti ketika seragam disimpan.

Baca :  Ketika Bonus Demografi Belum Menjadi Bonus Kecerdasan

Pada akhirnya, jabatan akan selalu ada penggantinya. Nama kita mungkin perlahan pudar dari papan struktur, tetapi nilai yang hidup akan menemukan jalannya sendiri. Ia tinggal dalam ingatan, dalam cerita yang diceritakan ulang, dan dalam sikap orang-orang yang pernah kita sentuh. Ketika jabatan usai, di situlah sesungguhnya hidup diuji—apakah nilai yang kita bawa cukup kuat untuk tetap menyala. (firdaus)

Share :

Baca Juga

Opini

Manuver Politik Memanas: Jokowi dan Oligarki Mulai Tekan Prabowo

Opini

Ledakan Hoaks di Medsos: Tantangan Literasi Digital di Era Banjir Informasi

Opini

Dirgahayu TNI ke-79: Transformasi Menuju Kekuatan Modern dan Penjaga Stabilitas Nasional

Opini

Gizi Anak Bangsa dan Ujian Integritas Kebijakan Publik

Opini

Penyamaan Sawit dengan Hutan Alami: Analisis Kritis terhadap Fungsi Ekologis dan Dampak Lingkungan

Opini

Kebangkrutan Demokrasi: Generasi Menjadi Taruhan

Opini

Jejak Hitam PKI: Dari Sumur Neraka ke Lubang Buaya, Lalu Menjelma Jadi Komunisme Gaya Baru

Daerah

Ketua KONI Ideal: Integritas di Atas Ambisi, Prestasi di Atas Politik