Timnas Indonesia Takluk 0-3 dari Vietnam, Laga Kontra Singapura Jadi Penentuan Nasib Garuda Babinsa Desa Awin Bantu Warga Turunkan Material Bangunan, Wujud Nyata Kepedulian TNI Babinsa Kelurahan Selamat Dampingi BPN dan PN Jambi Lakukan Pencocokan Lahan Sengketa, Pastikan Berjalan Aman dan Tertib Babinsa Paal Merah Bersama Warga Gotong Royong Cor Jalan Lingkungan, Wujudkan Akses yang Aman dan Nyaman Pererat Silaturahmi, Babinsa Koramil 415-13/Sebapo Komsos Bersama Warga Desa Bukit Subur

Home / Opini

Senin, 3 Juni 2024 - 09:31 WIB

Pilkada & Domino, Mau “Enak-enak”

Oleh: Hery FR (*)

SEPERTI biasanya setiap akhir pekan beberapa anggota Tim Bravo 17 sebagai komunitas pecinta domino melaksanakan “Ritual” pertandingan tipis-tipis dengan hukuman bagi yang kalah menggunakan helm.

Sabtu siang 02 Juni 2024 pada Batch 1 (Baca: Sudah Isoma), empat orang pemain ; Letkol Inf (Purn) Firdaus, Mohammad Mansyur, Dedy Zamora dan Saya sendiri mulai mencoba berbagai strategi untuk dapat mengalahkan lawan domino lainnya dalam batch 1 tersebut.

Prinsipnya dalam permainan tersebut tidak ada teman sejati dan musuh abadi semua sesuai dengan kepentingan untuk kemenangan dan menjatuhkan lawan.

Sebagai penghangat dalam permainan tersebut ada narasi-narasi yang dibangun mulai dari obrolan lucu hingga provokasi lawan.

Disinilah mungkin ada korelasi Pilkada dan permainan domino meski tak sepenuhnya sama, tapi dalam permainan domino dan pilkada ada upaya-upaya menjatuhkan lawan dan memenangkan kompetisi, dibutuhkan strategi, dan narasi-narasi.

Baca :  Rosyid Jurnalis, Sosok Multitalenta yang Menginspirasi di Jambi

Ditemani kopi pahit dan makanan ringan (cost politik), pada putaran permainan kedua terjadi persaingan skor yang saling kejar-kejaran (hasil survey), dan muncul narasi-narasi candaan tapi mengandung propaganda untuk membangun koalisi dengan tiga pemain lainnya.
Mau “Enak-enak”

Kebetulan pada permainan putaran ketiga kondisi buah yang dimiliki penulis cukup mulus dan merepotkan Mohammad Mansyur.

Dalam upayanya mementahkan permainan penulis, dengan strategi yang matang sebagai “pemain lama” sambil menghempas buah yang menutupi serangan penulis, dengan hempasan kecil menutupi buah kedua dari Dedy Zamora muncul narasi “Mau Enak-enak”

Ternyata dengan strategi dan perhitungan yang pas dan narasi “Mau Enak-enak” dapat mementahkan serangan dan membangun koalisi dari dua pemain lainnya.

Baca :  Hasan Basri Harahap Terpilih Aklamasi, Kembali Pimpin IPSI Jambi 2026–2030

Dan dalam Pilkada “Mau Enak-enak” , akan menjadi ancaman yang akan dimentahkan lawan dan juga menjadi peluang terbangun koalisi-koalisi.

Sudah saatnya, para Cakada mewaspadai narasi “Mau Enak-enak” (terjemahan bebas).

Dan tidak ada salahnya masyarakat sebagai penyangga utama dari demokrasi jangan terjebak dengan program-program pragmatis sebagai janji Politik “Mau Enak-Enak”.

Masih ada waktu hingga “Enak-enak” untuk melihat program para kandidat yang akan berkompetisi pada Rabu 27 November 2024 mendatang.

Dan satu hal penting dalam proses demokrasi harus terus terbangun suasana kegembiraan meski beda strategi dan pilihan. Jadikan semuanya “Enak-enak”.

Penasaran juga rasanya mengapa ada korelasi yang terbangun antara pilkada dan domino? Ternyata memang permainan domino ini tercipta dari lingkaran kekuasaan pada masa tiongkok kuno.

Baca :  Babinsa Koramil 415-04/Ma Bulian Pantau Pengerjaan Irigasi dan Normalisasi Saluran Oplah

Melansir Pagat.com, sejarawan percaya bahwa penciptanya adalah Keung T’ai Kung di abad ke-12 SM.

Sedangkan, catatan sejarah lain menunjukkan bahwa penemunya adalah Hung Ming (181-234 M).

Ia menciptakan permainan ini agar prajuritnya tetap terjaga di malam hari di kamp untuk mengawasi musuh.

Ada pula yang mengatakan kalau permainan ini ditemukan di Tiongkok pada tahun 1120 M oleh seorang negarawan. Kemudian, orang ini menyerahkan permainannya ke Kaisar Hui Tsung lalu diedarkan ke luar negeri atas perintah kekaisaran.

Thehok
3 Juni 2024

Hery FR (Wartawan Utama/Asri Media Group)

Share :

Baca Juga

Opini

Membangun Kepemimpinan Militer yang Berintegritas: Menjadi Teladan di Tengah Dinamika Tugas

Opini

Gugatan Rp 612 Triliun! Jokowi, Aguan, dan Airlangga Dituding Langgar Hukum dalam Proyek PIK 2

Opini

Selat Malaka: Harta Karun Maritim yang Tidak Dinikmati Indonesia

Opini

Negara Tak Hadir, Preman Menjadi Hukum: Kajian Akademisi Australia soal Hercules dan Demokrasi Bayangan di Indonesia

Opini

Merawat Indonesia: Saat Rasa, Paham, dan Semangat Kebangsaan Diuji

Opini

66 Tahun PEPABRI: Menjaga Api Perjuangan, Membangun Masa Depan Bangsa

Opini

“Prabowo, Jokowi, dan Badai Politik: Antara Harapan, Kekecewaan, dan Jalan Menuju Indonesia Emas 2045”

Opini

Kebangkitan Nasional: Menyalakan Obor Perjuangan Menuju Indonesia Emas