Lewat Pendekatan Humanis, TNI AD Antar Dua Eks Anggota OPM Kembali ke Pangkuan NKRI Danramil 415-07/Pelayangan Hadiri Pembukaan MTQ, Tegaskan Komitmen Dukung Generasi Qurani Babinsa Koramil 415-13/Sebapo Pererat Silaturahmi dengan Warga Tempino Melalui Komsos Babinsa Koramil 415-10/Jambi Selatan Hadiri Forum Ketua RT, Perkuat Sinergi Membangun Lingkungan Perkuat Sinergi dengan Pelaku Usaha, Tiga Pilar Kunjungi Hotel di Wilayah Sungai Asam

Home / Opini

Rabu, 4 Maret 2026 - 13:21 WIB

Ketika Langit Tidak Lagi Milik Siapa-Siapa

Foto Ilustrasi (AI)

Foto Ilustrasi (AI)

Oleh: Letkol (Purn) Firdaus

Sejak Perang Teluk, dunia percaya satu dogma: siapa menguasai udara, menguasai perang. Operasi militer Barat selalu dimulai dengan gema jet tempur, radar yang dibutakan, dan landasan lawan yang dilumpuhkan. Supremasi udara menjadi mantra yang menggetarkan sekaligus menakutkan.

Tetapi perang modern tidak lagi tunduk sepenuhnya pada langit.

Konflik terbaru di Timur Tengah—dengan ketegangan Amerika Serikat, Israel, dan Iran—memperlihatkan satu kenyataan yang tak nyaman: keunggulan teknologi mahal bisa dipatahkan oleh kombinasi drone murah, rudal presisi, dan serangan siber. Sistem pertahanan seperti Iron Dome dan Arrow 3 tetap canggih, tetapi tak ada sistem yang kebal terhadap serangan saturasi. Dalam perang, 100 persen proteksi adalah ilusi.

Di sinilah mitos mulai retak.

Runway yang Rapuh

Pesawat tempur generasi kelima seperti F-35 Lightning II adalah simbol supremasi militer modern. Ia mahal, presisi, dan sarat teknologi siluman. Namun perang terkini memberi pelajaran pahit: tanpa landasan pacu yang utuh, jet tercanggih pun menjadi benda statis.

Baca :  Rosyid Jurnalis, Sosok Multitalenta yang Menginspirasi di Jambi

Perang bukan lagi semata duel di udara, melainkan perlombaan menghancurkan infrastruktur. Landasan, depot bahan bakar, radar, dan pusat komando menjadi sasaran utama. Ini adalah era runway vulnerability—era ketika kekuatan udara ditentukan oleh kemampuan bertahan di darat.

Atrisi dan Daya Tahan

Kita memasuki fase perang atrisi, perang yang menguji daya tahan logistik, bukan hanya kecanggihan alutsista. Drone murah yang diproduksi massal mampu menguras sistem pertahanan mahal. Rudal presisi menekan psikologis dan moral. Serangan siber mendahului ledakan fisik.

Dalam skema seperti ini, negara yang mampu bertahan paling lama justru memiliki peluang menang lebih besar daripada yang sekadar unggul secara teknologi.

Bila eskalasi meluas hingga mengganggu jalur energi global di Selat Hormuz, dampaknya bukan hanya militer. Ia akan menghantam ekonomi dunia. Harga minyak melonjak, inflasi merambat, dan negara-negara pengimpor—termasuk Indonesia—menanggung beban fiskal berat.

Baca :  Babinsa Solok Sipin Hadiri Posyandu, Dukung Kesehatan Ibu dan Anak Bersama Tiga Pilar

Perang modern adalah perang total: militer, ekonomi, dan informasi menyatu.

Indonesia di Tengah Pusaran

Bagi Indonesia, konflik ini bukan tontonan jauh. Ia adalah cermin. Kita negara kepulauan, terbuka pada lalu lintas energi dan perdagangan global. Ketergantungan impor minyak menjadikan kita rentan terhadap guncangan eksternal.

Lebih dari itu, pelajaran militer yang tersaji begitu jelas. Pertahanan udara berlapis bukan lagi kemewahan. Integrasi radar, kemampuan anti-drone, serta kedaulatan sistem identifikasi kawan-lawan menjadi kebutuhan mendesak. Dalam perang elektronik, sistem bisa “diracuni”, sinyal bisa dipalsukan, dan kesalahan identifikasi berujung fatal.

Kedaulatan tidak hanya berarti memiliki senjata, tetapi memahami dan menguasai sistemnya.

Baca :  PANCASILA SEBAGAI KOMPAS MORAL BANGSA: MENGAWAL NEGARA, MENJAGA RAKYAT

Dunia yang Bergeser

Apakah ini akhir hegemoni Barat? Terlalu cepat menyimpulkan. Tetapi satu hal pasti: dunia bergerak menuju tatanan multipolar. Dominasi tunggal digantikan kompetisi terbuka. Setiap konflik regional kini berpotensi menjadi gempa global.

Indonesia harus membaca pergeseran ini dengan kepala dingin. Politik bebas aktif bukan berarti pasif. Ia menuntut kecermatan diplomasi, ketahanan ekonomi, dan kesiapan pertahanan.

Sejarah mengajarkan, bangsa yang selamat bukan yang paling keras bersorak, melainkan yang paling siap menghadapi perubahan. Ketika langit tidak lagi milik siapa-siapa, yang bertahan adalah mereka yang membangun kekuatan dari dalam—tanpa tergantung pada mitos, tanpa terlena pada ilusi keamanan.

Perang mungkin terjadi jauh di Teluk. Tetapi gelombangnya bisa tiba di Jakarta dalam bentuk harga minyak, tekanan diplomatik, atau ancaman siber.

Dan ketika dunia bergeser, Indonesia tidak boleh sekadar menonton.

Share :

Baca Juga

Opini

Kopi sebagai Sumber Inspirasi dan Simbol Kreativitas di Era Digital

Opini

Lebaran di Tengah Perbedaan: Memaknai Kedewasaan dan Persatuan

Opini

Saat Kulit Berubah, Jiwa Ditempa: Kisah Vitiligo yang Menjadi Jalan Menuju Cahaya

Opini

PANEMBAHAN PALEMBANG: JEJAK SANG PENGUASA MARITIM YANG TERLUPAKAN, BANGKITKAN KEBANGGAAN MELAYU NUSANTARA

Opini

10 KEUNTUNGAN BERPUASA MENURUT DR. HANS

Opini

Pahala Puasa Ramadhan dalam Al-Qur’an dan Hadits

Opini

Ilusi Perwakilan Rakyat: Membongkar Realitas Legislasi di DPR RI

Opini

Paradoks Sumber Daya Alam dan Ketertinggalan Infrastruktur Pelabuhan Laut di Jambi: Jalan Terjal Menuju Kesejahteraan