Babinsa Koramil 415-10/Jambi Selatan Rangkul Pemuda, Perkuat Kesadaran Jaga Kamtibmas Cegah Karhutla, Babinsa Koramil 415-04/Muara Bulian Patroli Terpadu Bersama Tim Karhutla dan Warga Babinsa Koramil 415-12/Pasar Bersama Dinsos dan Pemerintah Kelurahan Evakuasi ODGJ Secara Humanis Perkuat Sinergi dengan Tokoh Masyarakat, Babinsa Koramil 415-09/Telanaipura Gelar Komsos di Sungai Putri Semarak HUT ke-1 Kodam XX/TIB, Kodim 0415/Jambi Gelar Jalan Santai Bersama Keluarga Besar TNI

Home / Opini

Minggu, 3 Agustus 2025 - 09:21 WIB

Merdeka, Tapi Dijajah: Ironi Delapan Dekade Kemerdekaan Bangsa

Oleh: Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.

DELAPAN puluh tahun sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia tampak merdeka secara fisik. Bendera Merah Putih terus berkibar di langit Nusantara, lagu kebangsaan dinyanyikan dengan semangat, dan upacara-upacara diselenggarakan tiap tahun. Namun di balik kemeriahan simbolik itu, banyak rakyat justru merasa semakin jauh dari makna kemerdekaan yang sejati.

Hari ini, bangsa ini tidak lagi dijajah oleh bangsa asing yang membawa senjata. Tapi kita menyaksikan penjajahan yang lebih licik dan menyakitkan: oleh elite sendiri yang haus kekuasaan dan rakus harta. Kekuasaan berubah menjadi alat dominasi, bukan pengabdian. Negara dibangun untuk melayani segelintir, bukan seluruh rakyat.

Baca :  Jurnal Senja: Catatan Pengabdian

Korupsi tak lagi sekadar perilaku menyimpang, tapi telah menjadi sistem. Ia tumbuh subur di balik proyek-proyek infrastruktur, bantuan sosial, dan kebijakan publik. Retorika “demi rakyat” hanya jadi pembungkus indah untuk mengelabui. Rakyat hanya hadir dalam statistik pembangunan atau narasi kampanye.

Baca :  TNI AD Tegaskan Babinsa Tidak Miliki Kewenangan Urusan Pajak, Sinergi dengan DJP Sebatas Koordinasi

“Demi rakyat kami bekerja,” begitu katanya. Tapi realitas berkata lain: harga-harga melonjak, ketimpangan sosial makin lebar, hukum kian berat sebelah. Rakyat yang berteriak demi keadilan dibungkam, tapi mereka yang menjarah uang negara malah dilindungi atau dinegosiasikan hukumannya.

Kemerdekaan seharusnya adalah keadilan yang merata, kedaulatan yang nyata, dan kesejahteraan yang terjamin. Tapi saat tanah dikuasai oligarki, hukum dikendalikan kekuasaan, dan suara rakyat disunting demi stabilitas palsu, maka “kemerdekaan” hanya tinggal seremoni.

Baca :  Inovasi Batik Tapis, Upaya Menjaga Tradisi Lampung Tetap Relevan

Ironi ini kian dalam ketika konstitusi dilanggar demi kepentingan politik sesaat, dan Pancasila sekadar jadi jargon di spanduk-spanduk upacara. Para pejuang yang dulu bertaruh nyawa demi kemerdekaan mungkin kini menangis dari alam sana, melihat bagaimana cita-cita mereka dikhianati oleh generasi yang berkuasa hari ini.

Sejarah tidak buta. Ia akan mencatat dengan jelas siapa yang berdiri di sisi rakyat, dan siapa yang menjajah dengan jas elegan dan senyum manis kekuasaan.

Merdeka! 

Share :

Baca Juga

Opini

“Prabowo dan Purbaya: Membangun Indonesia Berdaulat Berdasarkan Konstitusi Asli UUD 1945 — Revolusi Ekonomi untuk Keadilan Rakyat”

Opini

“Konflik Iran–Israel: Jalan Menuju Armageddon Dunia dan Kejatuhan Hegemoni Global”

Opini

Meluruskan Paradigma Tentang Ideologi Pancasila

Opini

Saat Kulit Berubah, Jiwa Ditempa: Kisah Vitiligo yang Menjadi Jalan Menuju Cahaya

Daerah

Pengamat Ungkap Sosok Budi Setiawan yang Humble Serta Punya Daya Juang Tinggi

Opini

Di Bawah Hujan Jambi, Setia Kawan Para Purnawirawan Tak Pernah Gugur

Opini

HUT ke-63 Kerinci, Masihkah Menuduhnya sebagai Tanah Surga?

Opini

“Manifesto Kebangsaan”: Sebuah Jalan Terang Menuju Indonesia Adil, Makmur, dan Berdaulat