Oleh: M. Rosyid – Jurnalis
Jambi – Jumat pagi, 06 Februari 2026. Matahari menembus kabut tipis, dan udara membawa aroma nasi gemuk hangat yang baru saja disantap. Di saat orang sibuk menilai siapa yang tampil paling menawan, Rosyid Jurnalis menatap dunia seperti menatap pohon: diam, sederhana, tapi menahan badai.
“Ada pohon yang ditakdirkan tidak memiliki daun yang indah, tapi ia tumbuh diberi akar yang kuat agar tidak tumbang,” ujarnya.
Ungkapan ini bukan sekadar puisi pagi. Ini kritik halus pada kehidupan modern: tidak semua manusia harus tampil memesona untuk dianggap berhasil. Ada yang hidupnya berat, jalannya berliku, tak banyak dipuji. Tapi di balik itu, Allah memberi keteguhan hati, kesabaran, dan daya juang. Sementara banyak orang sibuk menata daun agar terlihat indah, pohon-pohon bijak diam, menumbuhkan akar yang kokoh.
Rosyid menekankan, hidup bukan tentang siapa paling tampan, paling kaya, atau paling “viral”. Hidup adalah tentang menerima takdir, bersyukur pada apa yang diberikan, dan menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Semangat kerja harus selaras dengan semangat ibadah. Kesuksesan duniawi tanpa perhatian pada Sang Pencipta hanyalah ilusi—seperti pohon tanpa akar, mudah tumbang saat angin kencang menerpa.
Lebih jauh, hidup akan bermakna bila kita memberi manfaat bagi sesama. Membantu orang lain, bersedekah, menjaga silaturahmi—itulah akar yang meneguhkan hidup, yang menumbuhkan keberkahan meski daun terlihat biasa saja.
Renungan Jumat ini sederhana, tapi menggigit: dunia terlalu sering menilai permukaan. Daun yang hijau dan indah memikat mata, tapi akar yang kuatlah yang menentukan siapa bisa bertahan. Belajar dari pohon, kita diajarkan bahwa ketahanan jauh lebih berharga daripada penampilan, dan kesederhanaan bisa menjadi kekuatan terbesar.**










