Cegah Karhutla Sejak Dini, Babinsa Koramil Muara Bulian Gencarkan Patroli dan Sosialisasi kepada Warga Babinsa Kenali Asam Bawah Hadiri Safari Subuh Berjamaah, Pererat Silaturahmi dan Tingkatkan Keimanan Umat Babinsa Koramil Muara Tembesi Berikan Pembekalan Persyaratan Administrasi Pendaftaran TNI kepada Siswi MAN 2 Batanghari Babinsa Koramil Sebapo Pantau Perbaikan Jalan Desa, Serap Aspirasi Warga di Suka Makmur Melalui Komsos, Babinsa Koramil Mersam Perkuat Semangat Persatuan dan Kedekatan dengan Warga

Home / Opini

Senin, 23 Juni 2025 - 07:00 WIB

Api Timur Tengah, Asap Sampai Nusantara

Oleh: Jagat Taniwara

Di tengah derasnya arus perdamaian semu di Timur Tengah, bayang-bayang konflik abadi justru semakin menebal. Iran dan Israel, dua negara yang secara geografis berjauhan namun saling terkunci dalam pusaran permusuhan ideologis dan geopolitik, kembali menjadi sorotan dunia. Satu dengan semangat revolusi Islam dan solidaritas Palestina, satu lagi dengan narasi eksistensial dan pertahanan terhadap “lingkaran musuh” di sekelilingnya.

Tahun 1979 menjadi titik balik ketika Iran mengganti monarki pro-Barat menjadi republik Islam di bawah Ayatollah Khomeini. Sejak saat itu, Israel—yang dianggap sebagai simbol kolonialisme Barat di tanah Arab—resmi menjadi musuh ideologis. Bagi Iran, keberadaan Israel adalah luka terbuka bagi dunia Islam, sementara bagi Israel, Iran adalah sumber ancaman yang terus menjalar di sekeliling perbatasannya.

Namun, permusuhan Iran dan Israel jarang dilakukan secara langsung. Perang proksi menjadi wajah nyata dari ketegangan mereka. Hizbullah di Lebanon, yang dilatih dan dipersenjatai Iran, beberapa kali terlibat perang dengan Israel. Hamas dan Jihad Islam di Gaza mendapatkan dukungan logistik dan dana dari Teheran. Milisi Syiah di Suriah dan Irak memperluas pengaruh Iran dan menjadi target serangan udara Israel. Di sisi lain, Israel melakukan operasi rahasia membidik fasilitas nuklir Iran, bahkan diduga membunuh ilmuwan top Iran seperti Mohsen Fakhrizadeh. Dunia menyaksikan permainan catur berdarah ini dengan napas tertahan.

Baca :  Di Balik Takbir yang Menggema: Ketika Keadilan Masih Menjadi Tanda Tanya

Iran bersikukuh bahwa program nuklirnya damai, namun Israel tidak percaya begitu saja. Sebuah Iran yang bersenjata nuklir dianggap mengubah tatanan kekuatan secara permanen, tidak hanya di kawasan, tetapi juga secara global. Maka dari itu, Israel tidak ragu menyatakan kesiapan untuk menyerang jika diperlukan.

Pertanyaan itu terus bergema dari meja-meja diplomasi hingga pojok ruang redaksi. Jawabannya: tidak mudah. Meskipun kedua negara saling mengancam, namun realitas strategis mendorong mereka menahan diri. Perang terbuka berarti kehancuran luas, keterlibatan Amerika Serikat, Rusia, hingga mungkin perang dunia mini di kawasan. Namun, selama akar ideologis tidak berubah, dan kepentingan geopolitik tetap berbenturan, konflik Iran-Israel akan terus membara dalam bentuk apa pun—baik dalam bayang, maupun dalam ledakan nyata.

Kini, ketegangan bukan lagi sekadar retorika. Di tahun 2025, eskalasi konflik meningkat tajam. Israel memperbanyak serangan udara ke posisi milisi Iran di Suriah dan Lebanon. Iran membalas melalui serangan roket dan drone dari berbagai titik, bahkan dari Irak dan Yaman. Keduanya tampak siap menanggalkan topeng perang proksi dan memasuki konfrontasi langsung. Dunia internasional hanya bisa menahan napas, sementara Dewan Keamanan PBB kembali terjebak dalam pernyataan tanpa tindakan nyata.

Namun yang sering luput dari sorotan adalah bagaimana konflik ini memberi dampak terhadap negara-negara jauh dari pusat perang, termasuk Indonesia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia tak mungkin benar-benar netral dalam dinamika ini. Apalagi ketika isu Palestina, keadilan global, dan sentimen keagamaan ikut bermain dalam persepsi publik.

Baca :  Komsos Humanis, Babinsa Rangkul Tukang Ojek sebagai Mitra Informasi di Danau Sipin

Secara ekonomi, konflik ini mengancam stabilitas energi dunia. Jika Selat Hormuz terganggu akibat perang terbuka, harga minyak global akan melonjak. Bagi Indonesia, ini berarti tekanan berat terhadap subsidi energi, peningkatan biaya produksi dan logistik, serta ancaman inflasi yang menggerus daya beli masyarakat. Perekonomian domestik yang baru mulai pulih bisa kembali terguncang oleh badai yang diciptakan ribuan kilometer jauhnya.

Secara sosial dan politik, gelombang solidaritas terhadap Palestina bisa bermetamorfosis menjadi keresahan dalam negeri, apalagi jika dipicu oleh narasi yang dimanipulasi oleh kelompok radikal. Indonesia harus waspada agar simpati kemanusiaan tidak berubah menjadi aksi intoleran atau kekerasan simbolik yang merusak kohesi sosial kita sendiri.

Dari sisi diplomasi, Indonesia memegang posisi penting sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2025–2026. Dunia menanti bagaimana suara Jakarta dalam forum global. Kita tidak boleh hanya mengulang narasi lama. Diperlukan pendekatan diplomatik aktif, berani, dan konsisten: membela hak Palestina, namun tetap menjadi jembatan bagi dialog yang lebih besar di kawasan. Inilah saatnya Indonesia mengaktualisasikan politik luar negeri bebas-aktif sebagai peran nyata, bukan slogan.

Baca :  Ini Yang Disampaikan Ketua PWI Saat Besuk Sekjen Yang Sedang Sakit

Di saat dunia menghadapi kemunduran moral dan akal sehat, peran media nasional juga menjadi ujian. Jurnalis Indonesia tak boleh ikut dalam arus sensasionalisme atau berita setengah benar. Justru di sinilah tugas utama jurnalisme: menjadi penjernih, penyejuk, dan penjaga nurani publik. Ketika narasi global semakin polar dan penuh kebencian, maka suara yang jernih menjadi alat paling berharga untuk mencegah kekacauan.

Dunia membutuhkan lebih dari sekadar resolusi PBB untuk meredakan ketegangan ini. Diperlukan keberanian politik, empati sejarah, dan keadilan yang menyentuh akar permasalahan: Palestina, identitas, dan dominasi regional. Sampai saat itu tiba, kita hanya bisa mengamati, menganalisis, dan berdoa agar Timur Tengah tidak menjadi kuburan akal sehat umat manusia. Namun lebih dari itu, Indonesia harus sadar bahwa api yang membakar di Timur Tengah bisa membawa asap hingga ke halaman rumah kita sendiri.

Diam bukan pilihan. Indonesia tak boleh netral dalam diam. 

—————————————————————

Tentang Penulis

Jagat Taniwara adalah nama pena dari seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat yang memiliki latar belakang dalam bidang komunikasi militer dan pernah berdinas di lingkungan penerangan Korem 042/Gapu.

Share :

Baca Juga

Opini

Api Pancasila Tak Pernah Padam: Menolak Lupa, Menjaga Bangsa

Opini

Manuver Politik Memanas: Jokowi dan Oligarki Mulai Tekan Prabowo

Opini

Bangkitkan Solidaritas, Tegakkan Akuntabilitas – Menkeu Purbaya di Garis Depan Reformasi Keuangan Negara

Opini

SKANDAL PEMAGARAN LAUT 30,16 KM DI TANGERANG: KEJAHATAN TERSTRUKTUR DAN PERAMPOKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT!

Opini

“Manifesto Kebangsaan”: Sebuah Jalan Terang Menuju Indonesia Adil, Makmur, dan Berdaulat

Opini

Ketika Jabatan Usai, Nilai Harus Tetap Hidup

Opini

Lahir dari Kehilangan, Tumbuh dalam Pengabdian

Opini

Pendekatan Hukum Islam dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba: Studi Kasus di Indonesia