Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Babinsa Beliung Hadiri Ceramah Agama di Masjid Al Ikhlas Babinsa Koramil Mersam Gotong Royong Bantu Pembangunan Rumah Warga Safari Dakwah di Prabumulih, Ustaz Jarir dan Ustaz Rofiq Fatah Ajak Jamaah Perkuat Bekal Akhirat Irwansyah Kembali Pimpin PWI Kota Jambi, Tegaskan Komitmen pada Etika dan Profesionalisme Pers Ketum PWI Pusat Ajak Keluarga Besar PWI Provinsi Jambi Jaga Kekompakan

Home / Opini

Jumat, 6 Desember 2024 - 20:31 WIB

Menghargai Setiap Profesi: Sebuah Pelajaran tentang Adab dalam Berkomunikasi

FOTO: Ilustrasi/Sriwijaya Daily

FOTO: Ilustrasi/Sriwijaya Daily

Oleh: Firdaus. B

Baru-baru ini, perhatian publik tertuju pada sebuah insiden yang melibatkan Miftah Maulana Habiburrohman, atau lebih dikenal dengan Gus Miftah, adalah seorang mubalig dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman yang terkenal dengan gaya ceramah santai dan humoris. Dalam sebuah pengajian, Miftah diduga melontarkan candaan yang dianggap merendahkan profesi penjual es teh. Rekaman tersebut viral di media sosial, memicu kritik dari berbagai pihak yang merasa ucapannya tidak mencerminkan penghormatan terhadap profesi lain. Menanggapi hal ini, Miftah segera memberikan klarifikasi dan meminta maaf, menyatakan bahwa ucapannya tidak bermaksud merendahkan, melainkan sekadar bercanda.

Penting untuk dicatat bahwa Miftah sebelumnya dilantik sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan pada 22 Oktober 2024. Namun, pada 6 Desember 2024, Miftah secara resmi menyatakan pengunduran dirinya dari jabatan tersebut. Dalam konferensi pers, ia menyampaikan bahwa keputusannya diambil setelah merenungkan secara mendalam.

Baca :  Menjaga Kesempurnaan Ibadah: Zakat Fitrah, Waktu, dan Ketepatan Penyalurannya

“Hari ini, dengan segala kerendahan hati dan ketulusan, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tugas saya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan,” ujarnya. Langkah ini diambil setelah berbagai pertimbangan, termasuk respons publik terhadap beberapa pernyataan yang sebelumnya ia lontarkan.

Keputusan mundurnya Miftah dari jabatan tersebut menjadi momen refleksi tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi kita semua sebagai masyarakat. Insiden ini kembali menegaskan pentingnya menghormati martabat setiap profesi. Pekerjaan seperti penjual es teh, pedagang kecil, atau pekerja sektor informal lainnya adalah bagian vital dari roda ekonomi. Merendahkan profesi mereka berarti mengabaikan peran penting yang mereka mainkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain itu, kasus ini mengajarkan pentingnya menjaga adab dalam berbicara. Tidak semua candaan dapat diterima dengan baik, terlebih jika konteksnya tidak sesuai. Sebuah ucapan, meskipun dimaksudkan untuk hiburan, bisa melukai perasaan orang lain jika tidak disampaikan dengan hati-hati. Miftah, sebagai seorang figur publik, memiliki tanggung jawab besar untuk menunjukkan teladan, termasuk dalam menjaga etika komunikasi di depan audiens yang luas.

Baca :  Gizi Anak Bangsa dan Ujian Integritas Kebijakan Publik

Adab sering kali dikatakan lebih tinggi daripada ilmu. Ilmu tanpa adab tidak hanya kehilangan makna tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah sosial. Sebaliknya, ilmu yang dipadukan dengan adab dapat menjadi fondasi bagi hubungan yang harmonis dan saling menghargai. Ketika berbicara, kita tidak hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga mencerminkan penghormatan kepada sesama manusia tanpa memandang status sosial atau profesinya.

Mundurnya Miftah dari jabatannya juga mengajarkan kita tentang pentingnya introspeksi diri. Sebagai masyarakat, kita perlu belajar menghormati setiap individu berdasarkan martabat kemanusiaan mereka, bukan hanya dari pekerjaannya. Keputusan Miftah untuk mundur mencerminkan kebesaran hati dan kesadaran bahwa seorang pemimpin harus mampu mendengarkan kritik serta meresponsnya dengan bijak.

Baca :  Di Balik Takbir yang Menggema: Ketika Keadilan Masih Menjadi Tanda Tanya

Lebih dari itu, peristiwa ini menjadi pengingat untuk membangun komunikasi yang empatik. Sebagai masyarakat yang hidup di tengah keberagaman, kita harus belajar untuk berbicara dengan penuh penghormatan dan memahami dampak ucapan kita terhadap orang lain. Dengan cara ini, kita tidak hanya menjaga hubungan sosial tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, penghormatan terhadap martabat setiap profesi adalah dasar dari kehidupan bermasyarakat yang sehat. Keputusan Miftah untuk mundur memberikan pelajaran penting bahwa tanggung jawab seorang figur publik tidak hanya terletak pada tugas formalnya, tetapi juga pada bagaimana ia membangun hubungan yang penuh penghormatan dengan seluruh lapisan masyarakat. Semoga momen ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menjaga adab, saling menghargai, dan berkontribusi bagi kebaikan bersama.**

Share :

Baca Juga

Opini

Saat Kulit Berubah, Jiwa Ditempa: Kisah Vitiligo yang Menjadi Jalan Menuju Cahaya

Opini

Loreng di Ladang: Babinsa Menjaga Negeri dari Desa, Mengabdi Tanpa Batas

Opini

Perang Bukan Milik Kita, Tapi Dampaknya Nyata: Strategi Indonesia di Era Krisis Global

Opini

Puasa dan Optimalisasi Gelombang Otak: Gerbang Menuju Kejernihan Pikiran dan Kreativitas Tinggi

Opini

Generasi Bangsa dalam Bahaya: Tragedi LGBT dan Pelajaran bagi Kita Semua

Opini

Manfaat Puasa bagi Tubuh Kita

Opini

Ramadhan dan Pengabdian Tanpa Akhir

Opini

Memperkuat Silaturahmi melalui Kumpul Bersama Teman Lama