TELANAIPURA, SRIWIJAYADAILY – Di tengah hiruk-pikuk rutinitas keamanan dan tugas kewilayahan, ada peran Babinsa yang sering luput disorot: hadir saat warga berduka. Di Kelurahan Pematang Sulur, Kota Jambi, peran itu kembali tampak dalam peristiwa sederhana namun sarat makna—takziah.
Babinsa Pematang Sulur Koramil 415-09/Telanaipura Kodim 0415/Jambi, Serka Herlan Kurniawan, mendatangi rumah duka warga RT 11, Sabtu malam, 17 Januari 2026. Ia bertakziah atas wafatnya Koptu (Purn) Rd Abdullah, 90 tahun, yang meninggal dunia karena sakit. Kehadirannya bukan sekadar formalitas aparat, melainkan bagian dari empati sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Tak hanya menyampaikan belasungkawa, Serka Herlan turut mengikuti yasinan tiga hari wafatnya almarhum bersama keluarga dan warga sekitar. Duduk bersila, menyatu dalam doa, ia menjadi saksi bahwa kedekatan TNI dengan rakyat kerap tumbuh justru di saat-saat paling sunyi: ketika kehilangan tak bisa dihindari.
Bagi Babinsa, kehadiran dalam suasana duka bukan tugas tambahan. Ia adalah konsekuensi moral dari fungsi teritorial—merasakan apa yang dirasakan warga binaan. Memberi penguatan moril, menenangkan keluarga yang ditinggalkan, sekaligus menjaga jalinan silaturahmi agar tetap hangat dan manusiawi.
“Babinsa harus hadir di setiap keadaan masyarakat, termasuk saat berduka,” ujar Serka Herlan. Kalimat sederhana, namun mencerminkan filosofi lama TNI: menyatu dengan rakyat, bukan hanya saat perayaan, tetapi juga ketika air mata jatuh diam-diam.
Takziah malam itu mungkin tak tercatat dalam laporan besar pembangunan. Namun justru dari peristiwa-peristiwa kecil inilah kepercayaan sosial tumbuh. Di Pematang Sulur, duka menjadi ruang kebersamaan. Dan kehadiran Babinsa menjelma pengingat bahwa negara, dalam wajah paling dekatnya, masih ada di samping warga.
Sumber: Pendim 0415/Jambi










