Semangat kemerdekaan masih terasa kuat di Desa Mekarjaya, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi. Minggu pagi, 23 Agustus 2026, halaman Kantor Desa Mekarjaya dipenuhi masyarakat yang antusias mengikuti gerak jalan santai dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan semakin semarak dengan kehadiran langsung Bupati Muaro Jambi Bambang Bayu Suseno (BBS) yang turut berbaur bersama masyarakat.
Penulis bersama istri juga berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut. Di tengah suasana yang penuh keceriaan, terlihat jelas bahwa peringatan kemerdekaan di tingkat desa bukan sekadar kegiatan seremonial. Ada silaturahmi, gotong royong, kebersamaan dan rasa memiliki terhadap bangsa yang tumbuh di tengah masyarakat.
Panitia Desa Mekarjaya juga menyiapkan berbagai doorprize bagi peserta. Pengundian hadiah menambah kegembiraan warga dan membuat suasana semakin meriah.
Namun, di balik kemeriahan itu terdapat pesan kebangsaan yang jauh lebih penting.
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka bukan berarti seluruh persoalan bangsa telah selesai. Masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, sosial maupun persoalan kebangsaan lainnya.
Tetapi justru dalam kondisi seperti itulah persatuan menjadi semakin penting.
Kita boleh berbeda pilihan, berbeda pandangan dan berbeda kepentingan. Namun, jangan sampai perbedaan tersebut membuat kita kehilangan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.
Indonesia terlalu besar untuk dipertarungkan hanya karena perbedaan.
Kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan harus diisi dengan sesuatu yang nyata: bekerja, membangun, menjaga persatuan dan menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
Desa Mekarjaya merupakan bagian kecil dari Indonesia, tetapi dari desa-desa seperti inilah kekuatan bangsa sebenarnya tumbuh.
Ketika masyarakat mau berkumpul, bergotong royong dan saling menghargai, sesungguhnya mereka sedang membangun fondasi Indonesia.
Pembangunan nasional pada akhirnya bukan hanya tentang gedung-gedung tinggi dan infrastruktur besar. Pembangunan juga tentang warga desa yang sehat, anak-anak yang mendapatkan pendidikan, keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan hidup, serta masyarakat yang merasa aman dan dihargai.
Karena itu, kemerdekaan harus benar-benar dirasakan hingga ke tingkat desa.
Pagi di Mekarjaya mengingatkan kita bahwa merah putih bukan hanya warna pada bendera.
Merah putih harus hidup dalam perilaku kita.
Merah adalah keberanian membela kebenaran. Putih adalah ketulusan dalam pengabdian.
Jika nilai itu hidup dalam diri masyarakat dan para pemimpin bangsa, maka kemerdekaan akan memiliki makna yang lebih dalam.
Kita boleh mengkritik pemerintah ketika ada kebijakan yang dianggap tidak tepat. Kita boleh menyampaikan pendapat. Tetapi kritik harus lahir dari kepedulian terhadap negeri, bukan dari kebencian terhadap bangsa sendiri.
Sebab mencintai Indonesia tidak berarti harus selalu setuju.
Mencintai Indonesia berarti berani menjaga agar negeri ini menjadi lebih baik.
Gerak jalan santai di Desa Mekarjaya, Kecamatan Sungai Gelam, mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi pesan yang ditinggalkannya jauh lebih panjang.
Bahwa di tengah berbagai persoalan bangsa, kita masih memiliki alasan untuk tersenyum, berkumpul dan berjalan bersama.
Dan selama masyarakat masih mau berjalan bersama, semangat kemerdekaan tidak akan pernah padam.
Dari Mekarjaya, Sungai Gelam, untuk Indonesia.
🇮🇩 Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
(Bravo lima)










