Ramadhan selalu datang dengan keheningan yang mengajak manusia menatap dirinya sendiri. Dalam sunyi sahur dan teduhnya senja berbuka, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan menahan ego, mengendalikan hawa nafsu, dan merapikan kembali niat yang kerap tercerai oleh kesibukan dunia. Bagi seorang purnawirawan, Ramadhan menghadirkan ruang refleksi yang lebih dalam: tentang perjalanan panjang pengabdian, tentang makna kesetiaan, dan tentang bagaimana usia menuntun pada kebijaksanaan.
Purnawirawan memang telah menanggalkan jabatan dan tugas resmi. Tidak ada lagi komando yang harus ditegakkan atau keputusan strategis yang mesti diambil. Namun nilai-nilai pengabdian tidak pernah ikut purna. Disiplin, keberanian, kesabaran, dan loyalitas tetap menjadi bagian dari napas kehidupan sehari-hari. Puasa seakan menjadi metafora paling jernih dari seluruh latihan itu—menahan diri dalam sunyi, tetap tegak tanpa riuh pengakuan.
Semakin bertambah usia, semakin terasa bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada pangkat atau tanda jasa, melainkan pada keluasan hati. Puasa mengajarkan kerendahan; ia meredam ego yang mungkin dulu mengeras oleh tanggung jawab besar. Dalam ibadah yang sunyi itu, seorang purnawirawan diajak bertanya: apakah pengalaman hidupnya telah menjadi pelita? Apakah kata-katanya membawa kesejukan? Apakah kehadirannya menenteramkan?
Di sisi lain, PEPABRI sebagai organisasi memikul amanah menjaga nilai-nilai itu tetap hidup. Ia bukan sekadar wadah silaturahmi, melainkan ruang merawat semangat kebangsaan dan persaudaraan. Di dalamnya, para purnawirawan belajar bahwa pengabdian tidak berhenti ketika masa dinas usai. Justru dalam fase kehidupan yang lebih tenang inilah keteladanan diuji—bukan melalui barisan yang tegap, tetapi melalui sikap yang arif dan kata-kata yang menyejukkan.
Ramadhan juga mengingatkan tentang kefanaan. Waktu terus berjalan; sahabat seperjuangan satu demi satu berpulang. Di titik inilah kesadaran menjadi jernih: hidup bukan tentang seberapa lama kita mengabdi dalam struktur, tetapi tentang seberapa dalam nilai itu meresap dan diwariskan. Pengabdian seorang purnawirawan akan berakhir bila tembakan salvo berbunyi, mengantar kepergian dengan kehormatan terakhir. Namun sejatinya, pengabdian tidak pernah benar-benar selesai. Ia hidup dalam jejak keteladanan, dalam nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya, dan dalam doa yang terus mengalir dari keluarga serta masyarakat.
Tembakan salvo hanyalah penanda akhir perjalanan fisik, bukan akhir dari makna pengabdian. Selama disiplin tetap dijaga, selama persaudaraan tetap dirawat, dan selama hati tetap tunduk dalam keikhlasan, pengabdian itu akan terus menyala—melampaui usia dan melampaui waktu.
Semoga Ramadhan senantiasa menghadirkan kejernihan hati bagi setiap purnawirawan, menguatkan PEPABRI sebagai rumah nilai, dan meneguhkan bahwa pengabdian terbaik adalah yang dilakukan dengan tenang, tulus, dan tanpa akhir. Dalam harap yang sederhana, kiranya setiap langkah kita tetap bermakna hingga akhir hayat, dan setiap jejak kebaikan menjadi saksi bahwa pengabdian sejati tak pernah benar-benar usai.
Penulis: Letkol (Purn) Firdaus










