PWI Kehilangan Sosok Panutan, Dunia Pers Jambi Kehilangan Sahabat Babinsa Danau Teluk Dampingi Reses Anggota DPR RI, Serap Aspirasi Warga Pasir Panjang Babinsa Jambi Timur Monitoring Pasar Murah, Pastikan Kegiatan Berjalan Aman dan Tertib Komsos Babinsa Pelayangan Perkuat Sinergi Warga Jaga Keamanan Lingkungan Babinsa Dukung Program Kampung Bahagia, Hadiri Pembentukan Pokja di Kelurahan Simpang III Sipin

Home / Opini

Minggu, 9 Agustus 2026 - 10:42 WIB

PWI Kehilangan Sosok Panutan, Dunia Pers Jambi Kehilangan Sahabat

Mengenang Zulhery Firmansyah alias Heri Firmansyah (Hery FR), Ketika Kepergian Menjadi Sebuah Renungan

Oleh: Letkol (Purn) Firdaus

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Ada kabar duka yang tidak sekadar membuat kita bersedih, tetapi juga memaksa kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Kabar tentang seseorang yang telah pergi untuk selamanya selalu membawa pesan yang sama: suatu saat nanti, kita pun akan menyusul.

Sabtu malam, 8 Agustus 2026, sekitar pukul 23.25 WIB, Zulhery Firmansyah alias Heri Firmansyah (Hery FR) mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Bhayangkara Jambi. Usianya 58 tahun.

Kabar itu menyentak keluarga besar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jambi. Seorang senior, sahabat, mantan Sekretaris PWI Provinsi Jambi periode 2019–2022, telah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia.

Bagi dunia pers Jambi, kehilangan ini bukan sekadar kehilangan seorang wartawan senior.

Ini adalah kehilangan seorang sahabat.

Dan bagi saya pribadi, almarhum lebih dari itu.

Beliau sudah seperti saudara sendiri.

Ada orang yang hadir dalam hidup kita tanpa banyak suara, tetapi meninggalkan jejak yang dalam. Ada pula orang yang tidak perlu melakukan sesuatu yang luar biasa untuk dikenang, karena cara ia memperlakukan orang lain sudah cukup menjadi alasan mengapa kepergiannya terasa berat.

Hery adalah salah satunya.

Kini percakapan tinggal kenangan. Pertemuan tinggal ingatan. Sapaan yang dahulu biasa terdengar, kini hanya dapat kita bayangkan kembali.

Yang tersisa adalah doa.

Dan mungkin, di situlah kematian mengajarkan kita sesuatu yang sering kita lupakan ketika masih hidup.

PWI Kehilangan Seorang Panutan

Di lingkungan PWI Provinsi Jambi, nama Heri Firmansyah bukanlah nama yang asing.

Ia pernah dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris PWI Provinsi Jambi periode 2019–2022. Sebuah amanah yang tentu tidak hanya membutuhkan kemampuan, tetapi juga tanggung jawab dan integritas.

Baca :  Sinergi TNI dan Pemerintah Warnai Penilaian Kelurahan Berprestasi di Pasar Jambi

Ketua PWI Provinsi Jambi, HR Ridwan Agus, menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam.

Menurutnya, almarhum merupakan sosok teman yang baik dalam organisasi. Dedikasi dan pengabdiannya untuk memajukan organisasi serta membina wartawan muda di Jambi sangat besar.

Sekretaris PWI Provinsi Jambi, Drs. Arwani, bahkan menyebut almarhum sudah seperti adik sendiri.

Kesaksian seperti itu barangkali jauh lebih bermakna daripada penghargaan apa pun.

Sebab ketika seseorang telah pergi, ukuran keberhasilannya bukan lagi apa yang tertulis di kartu nama.

Bukan jabatan.

Bukan kedudukan.

Bukan kekuasaan.

Melainkan kesan yang ditinggalkan dalam hati orang lain.

Dan Heri meninggalkan kesan itu.

Saya Bersaksi, Dia Orang Baik

Saya ingin mengatakan sesuatu yang sederhana:

Saya bersaksi, almarhum adalah orang baik.

Bukan berarti beliau tanpa kekurangan. Kita semua memiliki kekurangan. Kita semua pernah salah. Kita semua pernah khilaf.

Tetapi kebaikan seseorang tidak harus menunggu dirinya menjadi manusia sempurna.

Kadang kebaikan terlihat dari hal-hal sederhana.

Dari cara menyapa.

Dari cara menghargai orang lain.

Dari kesediaan mendengar.

Dari kesantunan ketika berbicara.

Dari kesediaan membantu.

Dari bagaimana seseorang menjaga persahabatan meskipun berbeda pandangan.

Dan justru hal-hal sederhana itulah yang sering paling lama tinggal dalam ingatan.

Karena itu, bagi saya, kepribadian almarhum patut menjadi contoh bagi kita yang masih hidup.

Bukan untuk mengkultuskan seseorang yang telah meninggal, tetapi untuk mengambil pelajaran dari kebaikan yang pernah ia tunjukkan.

Kematian Tidak Membawa Jabatan

Ada sesuatu yang selalu menjadi pelajaran dari kematian.

Ia meruntuhkan kesombongan manusia.

Di hadapan kematian, jabatan menjadi tidak berarti.

Baca :  HUT Polri ke-80: Menjaga Kepercayaan Publik di Tengah Dinamika Zaman

Pangkat tidak lagi berguna.

Kekuasaan berhenti.

Harta ditinggalkan.

Popularitas tidak ikut masuk ke liang lahat.

Allah SWT telah mengingatkan:

> “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Kita sering mengetahui ayat itu, tetapi sering pula lupa menghayatinya.

Kita sibuk mengejar dunia seolah-olah akan hidup selamanya.

Kita kadang berselisih karena jabatan.

Bertengkar karena kepentingan.

Saling menjatuhkan karena ingin berada di depan.

Padahal pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada tanah.

Tidak ada seorang pun yang membawa jabatan ke dalam kubur.

Yang dibawa adalah amal.

Yang diharapkan adalah rahmat Allah.

Dan yang mungkin tetap hidup setelah kita pergi adalah nama baik serta kebaikan yang pernah kita tanam.

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai

Kepergian Heri seharusnya membuat kita bertanya kepada diri sendiri.

Mengapa kita sering baru menyadari kebaikan seseorang setelah ia pergi?

Mengapa kita baru mengatakan “dia orang baik” setelah tidak mungkin lagi ia mendengarnya?

Mengapa kita menunggu kematian untuk mengucapkan penghargaan?

Bukankah lebih indah jika penghargaan diberikan ketika seseorang masih hidup?

Jika ada yang kita sayangi, katakanlah.

Jika ada yang pernah membantu kita, berterima kasihlah.

Jika pernah berselisih, berdamailah.

Jika pernah menyakiti, mintalah maaf.

Sebab kita tidak pernah tahu apakah besok masih ada kesempatan.

Kematian tidak pernah mengirimkan undangan.

Ia datang ketika waktunya tiba.

Hari ini kita mengantar saudara kita.

Besok mungkin orang lain yang mengantar kita.

Dan pada waktunya, kita semua akan kembali kepada-Nya.

Sebuah Renungan untuk Kita yang Masih Hidu

Tulisan ini sesungguhnya bukan hanya tentang Heri.

Ini adalah renungan untuk saya sendiri.

Dan untuk kita semua.

Baca :  Ketika Bonus Demografi Belum Menjadi Bonus Kecerdasan

Sebab setiap kematian orang lain sesungguhnya sedang mengingatkan kita tentang kematian diri sendiri.

Kita masih diberi kesempatan.

Masih diberi umur.

Masih diberi waktu untuk memperbaiki kesalahan.

Masih diberi kesempatan untuk memperbanyak amal.

Masih diberi kesempatan untuk menjaga persaudaraan.

Maka jangan sia-siakan.

Jangan habiskan hidup untuk saling menjatuhkan.

Jangan merasa paling hebat.

Jangan terlalu tinggi hati ketika berada di atas.

Dan jangan kehilangan harga diri ketika berada di bawah.

Hidup ini hanya sementara.

Yang kekal hanyalah kehidupan setelah kematian.

Karena itu, mungkin warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan bukanlah rumah besar, jabatan tinggi, atau harta yang banyak.

Melainkan sebuah kalimat sederhana yang diucapkan orang ketika kita telah pergi:

“Dia orang baik.”

Selamat Jalan, Saudaraku,

Saudaraku Hery Firmansyah,

engkau telah lebih dahulu pulang.

Kami masih melanjutkan perjalanan yang entah kapan berakhir.

Ada kesedihan karena kehilanganmu, tetapi ada pula keikhlasan karena kami percaya bahwa engkau sedang menuju tempat yang telah ditentukan Allah SWT.

Saya bersaksi, engkau adalah orang baik.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, menerima amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, menerangi alam barzakhmu, dan menempatkanmu bersama orang-orang saleh.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan.

Dan semoga seluruh keluarga besar PWI Provinsi Jambi diberikan kekuatan menerima kehilangan ini.

PWI kehilangan sosok panutan.

Dunia pers Jambi kehilangan seorang sahabat.

Kami kehilangan seorang saudara.

Namun kebaikanmu tidak ikut terkubur.

Ia akan tetap hidup dalam kenangan.

Dan semoga menjadi teladan bagi kami yang masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Selamat jalan, saudaraku.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Al-Fatihah. 🤲

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Share :

Baca Juga

Opini

Hijrah adalah Perjalanan yang Tak Terlihat oleh Mata, Tapi Dirasakan oleh Jiwa

Opini

BREAKING NEWS: PENJARAHAN HARTA KARUN SUNGAI BATANGHARI, WARISAN PERADABAN DUNIA TERANCAM PUNAH..!

Opini

UU TNI 2025 Bukan Dwifungsi Gaya Baru: Ini Penjelasan Lengkap dan Landasan Hukumnya

Opini

Spirit Sang Wartawan Serba Bisa BM Diah dan Grha Pers Pancasila

Opini

Sombong yang Tak Perlu dalam Bahasa Kekuasaan

Opini

Bangkitkan Solidaritas, Tegakkan Akuntabilitas – Menkeu Purbaya di Garis Depan Reformasi Keuangan Negara

Opini

10 KEUNTUNGAN BERPUASA MENURUT DR. HANS

Opini

Membaca Pilkada Tanjabtim