Babinsa Bantu Pemadaman Kebakaran Rumah Warga di Paal Merah, Api Diduga Akibat Korsleting Listrik Babinsa Hadiri Pelepasan Siswa SDN 10/IV Kota Jambi, Dorong Semangat Lanjutkan Pendidikan Babinsa Dampingi Penutupan TPS di Selamat, Program Kampung Bahagia Didorong Berbasis Warga Mengungkap Fakta Di Balik Insiden Munisi Nyasar Di UNP, Tim Investigasi Gelar Uji Balistik Lapangan Pistol G-2 Combat Dandenpom II/2 Jambi Letkol CPM Deka Piro Sandira Pimpin Ziarah Rombongan Sambut HUT ke-80 Pomad

Home / Opini

Minggu, 23 Maret 2025 - 14:59 WIB

Pinokio Jawa: Malapetaka bagi Negeri, Beban bagi Rakyat

Oleh : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.

Di setiap zaman, selalu ada penguasa yang lahir bukan dari ketulusan perjuangan, melainkan dari panggung sandiwara yang penuh dengan kepalsuan. Ia bukan seorang pemimpin sejati, tetapi seorang Pinokio Jawa—ikon kebohongan yang membawa malapetaka bagi negeri. Dengan wajah pura-pura polos dan lidah bercabang, dia merajut tipu daya yang mengelabui banyak orang. Namun, di balik senyum dan janjinya, tersimpan kehancuran yang ia persiapkan bagi rakyatnya sendiri.

Pinokio Jawa: Ikon Pembohong Terbesar Abad Ini

Seorang pemimpin yang berbohong bukan sekadar masalah karakter, tetapi ancaman nyata bagi sebuah bangsa. Pinokio Jawa adalah lambang dari kebohongan yang dijadikan sistem, dusta yang dijadikan kebijakan, dan pengkhianatan yang dijadikan tradisi.

Dari podium ke podium, dia menjual ilusi. Dia berbicara tentang kesejahteraan, tetapi yang tumbuh hanyalah penderitaan. Dia menjanjikan kedaulatan, tetapi yang terjadi justru ketundukan kepada kepentingan asing. Dia menyebut dirinya pembela rakyat, tetapi kebijakannya justru menindas mereka.

Baca :  Gizi Anak Bangsa dan Ujian Integritas Kebijakan Publik

Seakan belum cukup, dia juga mengubah aturan agar kebohongannya menjadi legal. Konstitusi dipermainkan, hukum dipelintir, dan demokrasi dijadikan tameng untuk melindungi kerakusan. Dialah Pinokio Jawa, pemimpin yang menjadikan kebohongan sebagai modal utama dalam mempertahankan kekuasaan.

Pinokio Jawa Berkeinginan Menjadi Raja

Tidak cukup hanya menjadi pemimpin, Pinokio Jawa ingin menjadi raja—berkuasa tanpa batas, dihormati tanpa syarat, dan diabadikan dalam sejarah sebagai penguasa tunggal.

Dengan liciknya, dia mengendalikan semua sektor—politik, ekonomi, bahkan media. Dia membangun dinasti yang memastikan tahtanya tetap berdiri, bahkan setelah dirinya lengser. Bagi rakyat, dia berbicara tentang demokrasi. Tapi di balik layar, dia menciptakan oligarki.

Setiap penguasa zalim selalu lupa satu hal: rakyat tidak bisa dibohongi selamanya. Sejarah telah mencatat, siapa pun yang mencoba mengangkangi kedaulatan rakyat dengan tipu daya, akhirnya tumbang dengan cara yang paling hina.

Baca :  Lebaran di Tengah Perbedaan: Memaknai Kedewasaan dan Persatuan

Pinokio Jawa: Tipu Sana, Tipu Sini

Kepiawaian dalam menipu adalah satu-satunya keahlian Pinokio Jawa yang tidak bisa diragukan. Kepada rakyat miskin, dia menjual harapan palsu. Kepada pemodal, dia menjual negeri ini. Kepada dunia internasional, dia berpura-pura menjadi pemimpin yang visioner.

Tapi semua itu hanyalah ilusi, kebohongan yang dirangkai dengan rapi untuk menutupi wajah aslinya. Ia mengira semua orang bisa dibodohi selamanya. Padahal, semakin besar kebohongan, semakin cepat kehancurannya.

Pinokio Jawa: Menyusahkan Saat Berkuasa, Merepotkan Saat Jadi Rakyat

Ketika Pinokio Jawa menjadi pemimpin, rakyat menderita. Harga melambung, hak-hak mereka diinjak, dan kebijakan yang dibuat hanya menguntungkan segelintir orang. Hidup semakin sulit, dan masa depan semakin suram.

Baca :  Babinsa Muara Tembesi Perkuat Silaturahmi Warga Lewat Komsos

Namun, ketika Pinokio Jawa akhirnya jatuh dari kekuasaan, kehadirannya tetap menjadi beban. Dia tidak menerima kenyataan, terus merongrong pemerintahan berikutnya, dan masih bermain sebagai korban meski dialah yang menghancurkan negeri ini. Bahkan dalam keterpurukannya, dia tetap licik dan penuh tipu daya.

Sungguh, inilah penguasa yang bukan hanya menyusahkan saat berkuasa, tetapi juga merepotkan setelah kehilangan kekuasaan.

Akhir dari Dongeng Pinokio Jawa

Setiap kebohongan memiliki batas waktu. Dan setiap penguasa zalim memiliki akhir yang pasti. Tidak ada dusta yang bertahan selamanya, tidak ada pemimpin yang bisa terus menipu rakyatnya tanpa konsekuensi.

Pinokio Jawa mungkin masih merasa aman di atas singgasananya. Tapi jarum waktu terus bergerak. Saat rakyat sadar, saat keadilan berbicara, dan saat keberanian menggantikan ketakutan, maka Pinokio Jawa akan menghadapi nasibnya—terjerat oleh kebohongan yang ia ciptakan sendiri.

Share :

Baca Juga

Opini

Ruang Publik di Kota Jambi ‘Melupakan’ [atau] Bahasa Indonesia Tidak Indah Untuk Diucapkan?

Opini

“Hari Juang Infanteri ke-76”: Semangat Pantang Menyerah untuk NKRI yang Berdaulat

Opini

“Manifesto Kebangsaan Seri Ketiga: Kedaulatan SDA untuk Kesejahteraan Rakyat — Bukan untuk Segelintir Elite”

Opini

Partisipasi Semesta dan Investasi Dini, Kunci Pendidikan Bermutu

Opini

Menghargai Setiap Profesi: Sebuah Pelajaran tentang Adab dalam Berkomunikasi

Opini

Paradoks PIK 2: Antara Pengingkaran dan Kenyataan, Siapa yang Bermain di Balik Pagar Laut..?

Opini

45 Menit Ngobrol Asyik Bersama Yan Iswara Rosya Sang “Nakhoda” OJK Jambi

Opini

Negara Tak Hadir, Preman Menjadi Hukum: Kajian Akademisi Australia soal Hercules dan Demokrasi Bayangan di Indonesia