Babinsa dan Manggala Agni Perkuat Strategi Sosialisasi Cegah Karhutla Babinsa Gelar Komsos di Desa Pelempang, Perkuat Kedekatan dengan Warga Babinsa Ma Bulian Ikut Gerakan Tanam Nasional, Dorong Ketahanan Pangan di Batanghari Babinsa Lakukan Anjangsana, Ajak Warga Jaga Keamanan dan Kebersihan Lingkungan Babinsa Bantu Warga Pasang Plafon, Perkuat Semangat Gotong Royong di Jambi

Home / Artikel

Jumat, 30 Mei 2025 - 06:00 WIB

Mengabdi pada Dua Penguasa: Ketika Kemerdekaan Belum Sempurna

Oleh: Letkol (Purn) Firdaus

DALAM hidup manusia, ada satu hal yang paling dicari namun sering disalahartikan: kemerdekaan. Banyak yang menyangka bahwa kemerdekaan hanya soal bebas bergerak, bebas berbicara, atau bebas menentukan pilihan. Padahal, kemerdekaan sejati jauh lebih dalam dari sekadar kebebasan lahiriah. Ia menyentuh inti jiwa, menyentuh nurani, dan menyentuh keteguhan sikap dalam menghadapi tarik-menarik kekuasaan, kepentingan, dan godaan.

Seseorang yang tampaknya bebas secara fisik—hidup di negara merdeka, bekerja sesuai keinginannya, atau berbicara lantang di muka umum—belum tentu benar-benar merdeka. Ia bisa saja masih menjadi tawanan dalam batinnya sendiri. Tawanan dari dua kekuatan yang saling bertentangan, dua penguasa yang terus menuntut kesetiaan.

“Kalau masih ada manusia menghamba pada dua orang penguasa, berarti ia belum merdeka secara utuh—baik lahir maupun batin.”

Kalimat ini menggugah kesadaran kita bahwa mengabdi pada dua penguasa bukanlah tanda kecerdikan atau strategi bertahan hidup, tetapi justru wujud dari kerapuhan sikap, ketidakjelasan arah, dan kekosongan nilai.

Dua Penguasa: Antara Nilai dan Nafsu

Penguasa di sini bisa bersifat konkret maupun simbolik. Bisa berupa manusia, harta, jabatan, rasa takut, ambisi, bahkan nafsu duniawi. Dan saat dua penguasa itu saling bertentangan, maka seseorang akan terseret dalam konflik batin yang berkepanjangan.

Baca :  Babinsa Muara Tembesi Perkuat Kedekatan dengan Warga Lewat Komsos

Dalam kehidupan beragama, Nabi Muhammad SAW sudah memperingatkan:

“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba kain sutera, dan hamba pakaian. Jika diberi, dia senang; jika tidak, dia marah.” (HR. Bukhari no. 2886)

Hadis ini menegaskan bahwa siapa pun yang hatinya diperbudak oleh materi, jabatan, atau kemewahan, sejatinya belum merdeka. Ia masih menghamba kepada dunia, bukan kepada Allah semata.

Mengapa Banyak Orang Tergoda Mengabdi Ganda?

Jawabannya bisa beragam: ketakutan kehilangan kenyamanan, keinginan untuk menyenangkan semua pihak, atau karena hilangnya kompas moral. Namun dalam jangka panjang, semua ini hanya melahirkan kepalsuan, keraguan, dan kehancuran integritas pribadi.

Mohammad Hatta, proklamator Indonesia, pernah menyampaikan gagasan yang kuat:

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Kalimat itu tidak hanya menyentuh soal literasi, tetapi juga filosofi kemerdekaan batin. Hatta menunjukkan bahwa kebebasan sejati bukan soal ruang gerak fisik, tetapi soal kekuatan prinsip dan keteguhan hati. Bahkan di dalam penjara pun, ia tetap merdeka karena tak pernah mengabdi pada kekuasaan penjajah.

Baca :  Ketika Langit Tidak Lagi Milik Siapa-Siapa

Jenderal Sudirman: Teladan Kepatuhan Tunggal

Dalam dunia militer, Jenderal Besar Sudirman adalah simbol keteguhan dan kesetiaan kepada satu nilai: kemerdekaan Indonesia. Di saat banyak tokoh memilih tunduk atau kompromi dengan Belanda, ia tetap memilih bergerilya meski dalam kondisi sakit parah.

Ia berkata:

“Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapa pun juga. Tentara hanya mempunyai satu kepentingan, yaitu kepentingan bangsa dan negara.”

Ucapan ini menegaskan bahwa tentara yang merdeka hanya tunduk pada satu penguasa: negara dan rakyat, bukan pada golongan, partai, atau individu. Jika tentara mulai berpihak pada dua kepentingan, maka runtuhlah kehormatannya.

Kemerdekaan Sejati adalah Ketegasan Pilihan

Merdeka bukan berarti tanpa aturan. Merdeka adalah ketegasan untuk memilih satu jalan dan bertahan di atasnya. Orang yang benar-benar merdeka tahu dengan jelas kepada siapa ia mengabdi, untuk apa ia hidup, dan apa nilai yang tidak bisa ia tawar.

Dalam sejarah, kita melihat banyak tokoh besar yang memilih untuk hanya setia kepada satu penguasa—yakni kebenaran, nilai luhur, dan Tuhan. Mereka tidak mendua. Mereka tidak bermain aman. Karena itu, mereka dikenang, dihormati, dan dijadikan teladan.

Baca :  Babinsa Ajak Warga Tanjung Mulya Jaga Keamanan dan Kekompakan

Sebaliknya, mereka yang mengabdi ganda akan kehilangan arah dan dilupakan oleh sejarah.

Refleksi untuk Kita Hari Ini

Di tengah zaman yang penuh godaan ini—di mana materi, kekuasaan, dan ketenaran bisa menjadi “penguasa bayangan”—kita ditantang untuk memilih: Apakah kita ingin menjadi manusia yang merdeka dan teguh, atau manusia yang terombang-ambing dan terpecah?

Bagi para pemimpin, anggota organisasi, pejabat, tokoh agama, hingga rakyat biasa—kesetiaan pada satu nilai, satu kebenaran, dan satu prinsip hidup adalah bentuk kemerdekaan tertinggi.

Penutup: Jalan Pulang ke Dalam Diri

Mari kita renungkan kembali:

Apakah hati kita sudah bebas dari hamba dunia?

Apakah kita sudah sungguh-sungguh merdeka, atau masih berpura-pura tegas di tengah dilema?

Dan kepada siapa sesungguhnya kita tunduk hari ini?

Mengabdi pada dua penguasa adalah tanda bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri.

Kemerdekaan sejati adalah keberanian untuk memilih, dan kesetiaan untuk bertahan.

“Kalau masih ada manusia menghamba pada dua orang penguasa, berarti ia belum merdeka secara utuh—baik lahir maupun batin.”

Share :

Baca Juga

Artikel

Trias Politica di Persimpangan: Ketika Kekuasaan Saling Menyapa Terlalu Akrab

Artikel

Hakikat Puasa yang Hakiki: Puasa Rasa Sejati

Artikel

Panen Raya Oligarki: Saatnya Negara Kembali ke Pangkuan Rakyat..!

Artikel

Membaca Lansekap Jambi: Mengurai Kompleksitas, Menata Konektivitas

Artikel

Ilusi Perwakilan Rakyat: Membongkar Realitas Legislasi di DPR RI

Artikel

Mengenang Tragedi 30 September: Sejarah Kelam, Pelajaran Abadi

Artikel

Menyalahkan Kopi, Menyelamatkan Izin

Artikel

Pers: Di Antara Pilar Demokrasi dan Pelanggar Kaidah Bahasa