SRIWIJAYADAILY.COM – Satu per satu karung beras digeser, dicatat, dan disalurkan. Di tengah hiruk-pikuk warga Desa Simpang Rantau Gedang yang mengantri dalam terik matahari, sosok berseragam hijau tampak menyelip di antara petugas. Serka Sahardi, Babinsa Koramil 415-02/Mersam Kodim 0415/Jambi, berdiri di garis depan bukan untuk berperang, tetapi memastikan keadilan distribusi pangan berjalan tanpa cela.
Sabtu, 2 Agustus 2025, menjadi momentum pembuktian: ketika negara hadir lewat program bantuan beras pemerintah, kehadiran pengawasan di akar rumput bukanlah pelengkap, melainkan keniscayaan. Babinsa turun langsung. Distribusi harus bersih.
“Kami hadir bukan hanya untuk membantu angkat karung, tapi mengawasi agar setiap butir beras sampai ke tangan yang tepat,” ujar Serka Sahardi saat ditemui di lokasi penyaluran.
Bantuan sosial selalu menyimpan dua sisi. Di satu sisi, menjadi penyambung hidup masyarakat miskin. Di sisi lain, rawan disalahgunakan oleh mereka yang memanfaatkan celah birokrasi atau data Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tak akurat. Dalam banyak kasus, bantuan diselewengkan oleh aparat lokal, dipolitisasi menjelang pemilu, atau bahkan dialihkan ke tangan-tangan tak berhak.
Oleh sebab itu, kehadiran Babinsa bukanlah seremoni. Ia bagian dari checks and balances sistem sosial yang kerap bocor di lapisan bawah. “Kami pastikan distribusi berjalan tertib, tidak ada pemotongan, dan tidak disalurkan di luar daftar resmi,” tegas Serka Sahardi.
Bagi masyarakat, kehadiran Babinsa memberi rasa tenang. Mereka bukan sekadar aparat, tetapi simbol bahwa negara mengawasi dirinya sendiri. “Kami merasa diperhatikan. Babinsa hadir dan memastikan tidak ada permainan,” ujar salah satu warga penerima bantuan.
Masing-masing keluarga menerima bantuan beras sesuai kuota yang telah ditentukan. Program ini adalah bagian dari bantuan rutin Pemerintah Pusat melalui Bulog, disalurkan secara nasional untuk menopang daya beli masyarakat kelas bawah yang terhimpit tekanan ekonomi pascapandemi dan inflasi harga bahan pokok.
Serka Sahardi tidak membawa senjata. Tapi hari itu, ia menjalankan tugas yang tak kalah penting: menjaga integritas negara dalam bentuk paling nyata—sekarung beras. Sebab dari situlah rakyat mengukur, apakah negara masih peduli atau telah lupa. (JT54)










