BOLA SRIWIJAYADAILY — Perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026 berakhir dengan kepedihan. Tim berjuluk Albiceleste gagal mempertahankan gelar juara dunia setelah dikalahkan Spanyol 0-1 melalui babak tambahan pada partai final di New York/New Jersey Stadium, Senin (20/7/2026) WIB.
Bagi Argentina, ini bukan sekadar kekalahan. Sepanjang 120 menit pertandingan, tim asuhan Lionel Scaloni dipaksa bermain di luar karakter mereka. Juara bertahan yang selama turnamen tampil tajam justru kehilangan kreativitas saat menghadapi disiplin permainan Spanyol.
Sejak peluit pertama dibunyikan, Argentina langsung menghadapi tekanan tinggi dari Spanyol. Penguasaan bola lebih banyak berada di kaki para pemain La Furia Roja.
Lionel Messi beberapa kali turun hingga ke lini tengah untuk menjemput bola. Namun setiap kali bola mengarah kepadanya, dua hingga tiga pemain Spanyol langsung menutup ruang sehingga kapten Argentina itu kesulitan membangun serangan.
Rodrigo De Paul, Alexis Mac Allister, dan Enzo Fernández juga gagal mengendalikan lini tengah. Mereka lebih sibuk mengejar aliran bola daripada mengembangkan permainan.
Di lini depan, Julián Álvarez praktis terisolasi. Minimnya suplai bola membuat penyerang Manchester City itu hampir tidak mendapat peluang sepanjang babak pertama.
Beruntung, Argentina masih memiliki Emiliano Martínez.
Penjaga gawang yang menjadi pahlawan pada Piala Dunia 2022 itu kembali menunjukkan kualitasnya. Berkali-kali ia menggagalkan peluang emas Spanyol melalui refleks luar biasa.
Penyelamatan terhadap tendangan Dani Olmo, Nico Williams, hingga Lamine Yamal membuat Argentina tetap bertahan.
Namun satu fakta sulit dibantah. Hingga turun minum, Argentina nyaris tidak mampu mengancam gawang Unai Simón. Bahkan mereka gagal mencatatkan satu tembakan sepanjang babak pertama.
Memasuki babak kedua, Lionel Scaloni mencoba mengubah ritme permainan. Argentina berusaha sedikit lebih berani menguasai bola.
Namun usaha tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
Spanyol tetap mendominasi melalui kombinasi umpan-umpan pendek yang membuat para pemain Argentina kembali menghabiskan energi untuk mengejar bola.
Messi terus berusaha mencari celah. Ia beberapa kali berpindah posisi dari kanan ke tengah, bahkan turun mendekati garis tengah lapangan demi membuka ruang.
Sayangnya, rapatnya pertahanan Spanyol membuat setiap serangan Argentina berhenti sebelum memasuki kotak penalti.
Di sisi lain, Emiliano Martínez kembali menjadi penyelamat. Ia menepis peluang demi peluang sehingga skor tetap bertahan 0-0 hingga waktu normal hampir berakhir.
Namun petaka datang pada masa injury time.
Enzo Fernández menerima kartu kuning kedua setelah melakukan pelanggaran keras terhadap Pau Cubarsí.
Kartu merah tersebut memaksa Argentina menjalani babak tambahan hanya dengan sepuluh pemain.
Momentum pertandingan pun berubah sepenuhnya.
Bermain dengan sepuluh orang membuat Argentina semakin sulit keluar dari tekanan.
Spanyol terus mengurung pertahanan Albiceleste.
Pada menit ke-106, pertahanan Argentina akhirnya runtuh.
Pedro Porro mengirim umpan silang akurat yang diteruskan Nico Williams ke depan gawang. Ferran Torres yang berdiri tanpa kawalan langsung menyambar bola menjadi gol.
Emiliano Martínez yang sepanjang pertandingan tampil luar biasa akhirnya harus memungut bola dari gawangnya.
Gol tersebut menjadi pukulan telak bagi Argentina.
Meski tertinggal, Lionel Scaloni tetap meminta anak asuhnya menyerang pada babak tambahan kedua.
Lionel Messi mencoba memimpin kebangkitan.
Baru pada menit ke-117 Argentina mampu melepaskan tembakan pertama sepanjang pertandingan. Messi memperoleh ruang di depan kotak penalti sebelum melepaskan tendangan keras.
Namun bola membentur pemain Spanyol dan gagal mengarah ke gawang.
Kesempatan terakhir hadir pada masa injury time ketika Giuliano Simeone memperoleh peluang emas di dalam kotak penalti.
Seluruh pendukung Argentina menahan napas.
Sayangnya, tendangan Simeone melambung di atas mistar gawang.
Harapan terakhir pun sirna.
Tak lama kemudian wasit meniup peluit panjang.
Argentina harus menerima kenyataan pahit gagal mempertahankan gelar juara dunia.
Perjalanan Hebat yang Berakhir dengan Air Mata
Meski gagal di final, perjalanan Argentina sepanjang Piala Dunia 2026 tetap layak diapresiasi.
Mereka menyingkirkan Tanjung Verde di babak 32 besar, mengalahkan Mesir pada 16 besar, menundukkan Swiss di perempat final, lalu menyingkirkan Inggris pada semifinal untuk mengamankan tiket menuju partai puncak.
Namun di laga terakhir, mereka bertemu Spanyol yang tampil lebih dominan secara taktik maupun penguasaan permainan.
Jika mengacu pada statistik pertandingan, Argentina hanya mampu menciptakan satu tembakan sepanjang 120 menit dengan nilai expected goals (xG) sekitar 0,04. Angka tersebut menggambarkan betapa efektifnya organisasi pertahanan Spanyol dalam mematikan kreativitas Albiceleste.
Kekalahan ini menjadi penutup yang pahit bagi Argentina. Mereka datang ke Amerika Utara sebagai juara bertahan dengan harapan mempertahankan mahkota dunia, tetapi harus pulang sebagai runner-up setelah gagal menemukan jawaban atas permainan kolektif Spanyol yang tampil nyaris tanpa cela. (RED)
Penulis: Firdaus










