Nobar Kebangsaan Piala Dunia 2026, TNI dan Warga Jambi Pererat Kebersamaan Kodim 0415/Jambi Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Perkuat Kebersamaan dengan Masyarakat Babinsa dan Aparat Kelurahan Tindak Lanjuti Keluhan Warga Terkait Kehilangan Tabung Gas Babinsa Koramil Sebapo Gelar Anjangsana, Pererat Silaturahmi dengan Warga Desa Suka Makmur Pererat Kedekatan dengan Warga, Babinsa Sungai Puar Rutin Gelar Komsos untuk Jaga Kondusivitas Wilayah

Home / Opini

Selasa, 20 Mei 2025 - 12:32 WIB

Kebangkitan Nasional: Menyalakan Obor Perjuangan Menuju Indonesia Emas

Oleh : Letkol (Purn) Firdaus

Tanggal 20 Mei bukan sekadar angka dalam kalender nasional. Ia adalah penanda lahirnya sebuah kesadaran baru, semangat baru, dan tekad bersama untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) menjadi monumen historis bagi bangsa Indonesia — tentang bagaimana sebuah bangsa yang tercerai-berai oleh penjajahan dan perbedaan, bangkit menjadi satu dalam semangat persatuan dan kemerdekaan.

Awal yang Menggetarkan: Boedi Oetomo dan Kesadaran Kebangsaan

Pada 20 Mei 1908, organisasi Boedi Oetomo lahir dari rahim para pemuda terdidik di STOVIA, dipelopori oleh dr. Soetomo. Organisasi ini bukan partai politik, melainkan gerakan moral dan intelektual. Mereka tidak mengangkat senjata, melainkan mengangkat pena, ilmu, dan semangat kolektif untuk membangun Indonesia.

Untuk pertama kalinya, anak bangsa berbicara tentang cita-cita bersama, tentang persatuan lintas suku dan agama. Di sinilah kesadaran sebagai bangsa Indonesia mulai tumbuh. Dari Boedi Oetomo, menyusul munculnya organisasi lain seperti Sarekat Islam, Indische Partij, dan kemudian Sumpah Pemuda 1928 yang memperkuat fondasi nasionalisme.

Baca :  Trias Politica di Persimpangan: Ketika Kekuasaan Saling Menyapa Terlalu Akrab

Kebangkitan yang Tak Pernah Padam

Pada tahun 1948, di tengah situasi revolusi mempertahankan kemerdekaan, Presiden Soekarno menetapkan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Penetapan ini bukan hanya penghormatan terhadap masa lalu, tetapi juga pemantik semangat perjuangan masa kini dan masa depan.

Kini, lebih dari seabad kemudian, pertanyaan besar muncul: Apakah semangat kebangkitan itu masih menyala dalam dada kita?

Jawabannya harus: Ya! Namun bentuknya berbeda. Dulu melawan penjajahan fisik, kini kita melawan kebodohan, korupsi, intoleransi, kemiskinan, disinformasi, dan ketertinggalan teknologi. Musuh kita kini tidak tampak dalam bentuk kolonialisme, tetapi dalam bentuk ketidakpedulian, keacuhan, dan hilangnya rasa memiliki terhadap negeri ini.

Bangkit dalam Arus Zaman: Makna Harkitnas di Era Modern

Di era Revolusi Industri 4.0 dan masyarakat 5.0, kebangkitan nasional memiliki wajah baru: kebangkitan sumber daya manusia yang unggul, melek digital, tangguh secara mental, dan adaptif terhadap perubahan.

Peringatan Harkitnas bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi refleksi mendalam atas posisi kita sebagai bangsa:

Baca :  Menjaga Kesempurnaan Ibadah: Zakat Fitrah, Waktu, dan Ketepatan Penyalurannya

Apakah pendidikan kita sudah membebaskan dan mencerdaskan?

Apakah teknologi kita dikuasai oleh anak bangsa sendiri?

Apakah generasi mudanya punya karakter kuat dan cinta tanah air?

Kebangkitan nasional hari ini adalah membangkitkan karakter, etos kerja, semangat gotong royong, dan integritas. Dalam istilah Ki Hajar Dewantara: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”

Pesan Para Tokoh: Api yang Tak Pernah Padam

Beberapa tokoh bangsa telah mewariskan pesan-pesan penting yang menjadi pelita bagi perjalanan kebangkitan kita:

Dr. Soetomo: “Hanya bangsa yang menghargai pahlawannya dapat menjadi bangsa yang besar.”

Jangan pernah lupakan sejarah dan para pejuang.

Bung Karno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya sendiri.”

Sejarah adalah jati diri dan kekuatan bangsa.

Presiden Prabowo Subianto: “Bangkitnya Indonesia tidak bisa ditunda lagi. Kita harus kuat secara ekonomi, teknologi, dan pertahanan demi masa depan anak-anak kita.”

Kebangkitan hari ini bersifat strategis, bukan pilihan.

Ki Hajar Dewantara: “Ing ngarsa sung tulada…”

Baca :  Di Balik Batu Domino: Pelajaran Kehidupan dari Sebuah Permainan

Kepemimpinan sejati adalah teladan yang membangkitkan potensi orang lain.

Menuju Indonesia Emas 2045: Bangkit Sekarang!

Tema Harkitnas 2025, “Bangkit untuk Indonesia Emas”, adalah panggilan suci untuk mempersiapkan 100 tahun kemerdekaan Indonesia di tahun 2045. Kita ingin berdiri sejajar dengan bangsa maju di dunia: berdaulat, mandiri, dan berkepribadian dalam budaya.

Untuk itu, kebangkitan harus dimulai dari hal-hal kecil: dari kesadaran menjaga lingkungan, membaca buku, membantu sesama, hingga menanamkan kejujuran di setiap tindakan. Dari ruang kelas hingga ruang kabinet, dari ladang hingga laboratorium, setiap anak bangsa punya peran dalam kebangkitan ini.

Penutup: Mari Bangkit Bersama

Hari Kebangkitan Nasional adalah api perjuangan yang diwariskan, bukan untuk dikenang saja — tapi untuk diteruskan. Kita adalah generasi penerus yang dititipi harapan besar. Jangan padamkan api itu. Jangan abaikan panggilan sejarah ini.

Bangkitlah, Indonesiaku!

Bersatulah, Bekerjalah, dan Majulah menuju Indonesia Emas 2045!

Share :

Baca Juga

Opini

Sholat Sebagai Jalan Menyatu dengan Kasih Sayang Allah

Opini

Dari Danrem 042/Gapu ke Tenaga Ahli Lemhannas: Karier Mayjen Rachmad

Opini

Secercah Asa Diujung Penantian Panjang Warga Pakpak Bharat Terwujud Lewat TMMD

Opini

Empati dan Dedikasi: Pekerja Sosial Masyarakat Menciptakan Perubahan Positif

Opini

MEGA KORUPSI PERTAMINA: GAJI SELANGIT, PENGA-WASAN BOBROK, RAKYAT TERJERAT

Opini

Di Balik Batu Domino: Pelajaran Kehidupan dari Sebuah Permainan

Opini

Di Balik Takbir yang Menggema: Ketika Keadilan Masih Menjadi Tanda Tanya

Opini

“Manifesto Kebangsaan”: Sebuah Jalan Terang Menuju Indonesia Adil, Makmur, dan Berdaulat