JAKARTA — Partai Rakyat Indonesia (PRI) resmi mengumumkan susunan lengkap Dewan Pimpinan Pusat (DPP) periode 2026–2031. Struktur kepengurusan partai yang dipimpin mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, tersebut diumumkan pada Rabu, 1 Oktober 2026, di Kantor DPP PRI, Jakarta.
Pengumuman susunan pengurus disampaikan langsung Sekretaris Jenderal PRI, Mayjen TNI (Purn) Prof. Dr. Budi Pramono. Ia mengatakan, pembentukan struktur kepengurusan telah melalui berbagai pertimbangan, terutama menyangkut regenerasi, kaderisasi dan kebutuhan organisasi.
“Banyak yang menanti. Dengan melewati berbagai pertimbangan regenerasi dan kaderisasi, saya umumkan secara resmi hari ini susunan pengurus lengkap PRI 2026–2031,” ujar Budi Pramono.
Yang menarik perhatian adalah pola struktur DPP PRI yang menggunakan pembidangan cukup luas dan menyerupai nomenklatur pemerintahan. Sejumlah bidang strategis seperti pangan, politik dan keamanan, hukum, HAM, investasi, hilirisasi, pendidikan, kebudayaan hingga pemberdayaan masyarakat mendapat perhatian khusus.
Formasi tersebut memunculkan kesan PRI sedang membangun semacam “kabinet bayangan” di tubuh partai. Bukan dalam arti kabinet pemerintahan secara formal, melainkan struktur organisasi yang dirancang agar mampu mengikuti sekaligus mengawal berbagai agenda strategis nasional.
Di posisi Ketua Umum, Muhammad Nazaruddin tetap menjadi figur sentral PRI. Ia didampingi lima Wakil Ketua Umum dengan latar belakang dan bidang keahlian yang beragam.
Mereka adalah Dr. H. Wishnu Dewanto yang menangani POKK dan organisasi; Prof. Dr. Ahmad Badawi Saluy di bidang pangan; Marsda TNI (P) Dr. I Nyoman Trisantosa pada bidang politik dan keamanan; Dr. Krisna Mukti yang membidangi hukum, HAM, imigrasi dan pemasyarakatan; serta Prof. Dr. H. Nizar Ali yang menangani pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu, posisi Sekretaris Jenderal dipercayakan kepada Mayjen TNI (Purn) Prof. Dr. Budi Pramono. Ia akan dibantu delapan Wakil Sekretaris Jenderal, antara lain Nadila Syafira, Natali Rusli, Edi Kodri dan Apriansyah.
Komposisi tersebut memperlihatkan upaya PRI menggabungkan pengalaman tokoh senior, kalangan profesional, purnawirawan serta generasi yang lebih muda.
Sejumlah nama juga menjadi perhatian dalam susunan baru tersebut. Dico M. Ganinduto, misalnya, dipercaya menangani bidang investasi, hilirisasi dan pasar modal. Mantan Bupati Kendal itu kini masuk dalam struktur partai yang sedang membangun jaringan politik menuju Pemilu 2029.
Nama Krisna Mukti juga menarik perhatian. Mantan artis tersebut kini mendapatkan kepercayaan di bidang hukum, HAM, imigrasi dan pemasyarakatan.
Di sisi lain, kehadiran Talitha Yulistya Dewi pada bidang pendidikan dasar dan menengah serta Julia Putri Noor di bidang kebudayaan menunjukkan adanya ruang bagi figur perempuan dan generasi muda dalam struktur kepengurusan PRI.
Bidang Haji dan Umrah dipercayakan kepada H. Tarmizi Al Kautsar, yang menunjukkan perhatian PRI terhadap sektor keumatan dan pelayanan masyarakat.
PRI sendiri merupakan partai yang relatif baru. Partai tersebut dideklarasikan pada 8 Agustus 2025 dan kini mulai memperlihatkan konsolidasi organisasi dengan membentuk struktur kepengurusan hingga periode 2031.
Secara politik, pembentukan struktur DPP yang begitu luas dapat dibaca sebagai upaya PRI membangun fondasi organisasi sejak dini. Jika partai mampu menerjemahkan struktur tersebut menjadi kerja politik nyata di tengah masyarakat, PRI berpotensi menjadi salah satu pemain baru yang patut diperhitungkan menjelang Pemilu 2029.
Namun, struktur organisasi yang gemuk belum otomatis menjamin kekuatan elektoral. Tantangan terbesar PRI justru berada di luar kantor partai: membangun mesin kaderisasi, memperluas basis massa, memperoleh kepercayaan publik dan membuktikan bahwa partai baru tidak sekadar hadir menjelang kontestasi politik.
Pada akhirnya, “kabinet bayangan” Nazaruddin tersebut akan diuji oleh kerja nyata. Bukan hanya oleh banyaknya nama besar di dalam struktur, tetapi oleh kemampuan PRI menjawab persoalan rakyat dan menawarkan gagasan politik yang dipercaya masyarakat.
PRI kini telah menunjukkan wajah organisasinya. Pertanyaan berikutnya: mampukah wajah baru tersebut berubah menjadi kekuatan politik baru pada 2029? (Fird’s)
Sumber: partairakyat.id
Editor: Firdaus










