Semangat Kebersamaan PERIP Jambi dalam Peringatan HUT ke-67 PEPABRI Di Tengah Kabut Asap Karhutla, PEPABRI Jambi Tetap Semarakkan HUT ke-67 Danrem 042/Gapu dan Gubernur Jambi Kembali Turun ke Lapangan, Perkuat Penanganan Karhutla di Pulau Mentaro Menhut dan Kepala BNPB Pimpin Rakor Teknis Karhutla di Jambi, Sinergi TNI-Polri dan Pemda Diperkuat Karhutla Tahura Batanghari Kembali Terjadi, Kasiops Korem 042/Gapu Dampingi Gubernur Jambi Tinjau Lokasi

Home / Opini

Selasa, 24 Maret 2026 - 07:18 WIB

Trias Politica di Persimpangan: Ketika Kekuasaan Saling Menyapa Terlalu Akrab

Foto ilustrasi

Foto ilustrasi

Oleh : Firdaus Baharuddin

Di atas kertas, republik ini dibangun dengan pagar pengaman yang kokoh. Tiga cabang kekuasaan dipisahkan agar tidak saling menelan: eksekutif menjalankan, legislatif mengawasi, yudikatif mengadili. Sebuah gagasan klasik dari Montesquieu yang hingga kini masih diajarkan sebagai resep mujarab mencegah lahirnya kekuasaan absolut.

Namun, realitas sering kali lebih lentur daripada teori.

Hari-hari ini, batas antar cabang kekuasaan tampak tidak lagi setegas yang dibayangkan. Mereka masih berdiri sebagai institusi yang berbeda, tetapi gerakannya kerap seirama—terlalu seirama. Dalam orkestrasi seperti ini, publik patut bertanya: apakah ini harmoni demokrasi, atau justru tanda melemahnya fungsi saling mengawasi?

Eksekutif, misalnya, tampil sebagai pusat gravitasi kekuasaan. Arah kebijakan, ritme pembangunan, hingga prioritas legislasi kerap berangkat dari sana. Tidak ada yang keliru dengan kepemimpinan yang kuat. Masalah muncul ketika kekuatan itu tidak lagi diimbangi oleh daya kritis dari cabang kekuasaan lain.

Baca :  Dari Doa di Tanah Suci Hingga Gerbang Pengabdian Negeri: Kisah M. Raffi Berlian Setiawan Menuju Calon Taruna AU

Di titik ini, legislatif diuji. Secara konstitusional, ia adalah penyeimbang—bahkan pengontrol. Tetapi dalam praktik, fungsi itu sering kali tereduksi menjadi formalitas. Pengawasan berjalan, tetapi jarang menggigit. Kritik disampaikan, namun tak selalu berujung koreksi. Kedekatan politik menjadikan jarak yang seharusnya kritis justru menyempit.

Padahal, demokrasi membutuhkan jarak itu.

Lebih jauh, cabang yudikatif yang semestinya berdiri paling independen juga tidak luput dari sorotan. Dalam beberapa perkara, muncul persepsi publik bahwa hukum tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Ada yang diproses cepat, ada yang berjalan lambat, bahkan ada yang seolah berhenti di tengah jalan. Persepsi, dalam konteks hukum, sama berbahayanya dengan fakta. Ia menggerus kepercayaan—dan kepercayaan adalah fondasi utama sistem peradilan.

Di tengah itu semua, muncul pula gejala lain yang tak kalah penting: rangkap kepentingan. Ketika seorang pejabat berada di lebih dari satu posisi strategis, atau ketika fungsi regulator dan pengawas berada dalam lingkaran yang sama, maka pemisahan kekuasaan kehilangan maknanya. Ia tidak lagi menjadi pagar, melainkan sekadar garis di atas kertas.

Baca :  Momentum HUT Bhayangkara ke-80, Senkom Jambi Perkuat Silaturahmi dengan Purnawirawan Polri

Situasi ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik yang berkembang. Koalisi besar, kompromi kekuasaan, dan kepentingan jangka pendek sering kali lebih dominan dibandingkan prinsip-prinsip dasar tata negara. Dalam kondisi seperti ini, trias politica tidak runtuh—tetapi perlahan mengalami erosi.

Yang tersisa adalah bentuk, bukan substansi.

Di sisi lain, publik sebagai pengawas terakhir juga menghadapi tantangan. Ruang kritik kerap dipenuhi kebisingan: disinformasi, polarisasi, hingga delegitimasi terhadap suara yang berbeda. Kritik mudah dicurigai sebagai sikap politis, bukan sebagai bagian dari kontrol demokratis. Akibatnya, fungsi pengawasan masyarakat melemah, atau setidaknya tidak lagi seefektif yang diharapkan.

Baca :  Di Balik Batu Domino: Pelajaran Kehidupan dari Sebuah Permainan

Padahal, tanpa tekanan publik, kekuasaan cenderung mencari kenyamanannya sendiri.

Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi mendasar: masihkah kita menjalankan trias politica sebagai prinsip, atau sekadar mempertahankannya sebagai simbol?

Demokrasi tidak pernah menuntut kesempurnaan. Ia hanya meminta satu hal: keseimbangan. Ketika satu cabang kekuasaan terlalu dominan, yang lain harus menguat. Ketika satu melemah, yang lain harus mengoreksi. Itulah esensi checks and balances yang selama ini digaungkan.

Tanpa itu, negara hukum berisiko bergeser menjadi negara kekuasaan—yang tetap sah secara prosedur, tetapi kehilangan ruh keadilan.

Trias politica, pada akhirnya, bukan sekadar pembagian peran. Ia adalah soal keberanian untuk saling mengawasi, bukan saling melindungi. Dan dalam konteks Indonesia hari ini, keberanian itu tampaknya sedang diuji.

Share :

Baca Juga

Opini

Meluruskan Paradigma Tentang Ideologi Pancasila

Opini

“Prabowo dan Purbaya: Membangun Indonesia Berdaulat Berdasarkan Konstitusi Asli UUD 1945 — Revolusi Ekonomi untuk Keadilan Rakyat”

Opini

Menjawab Polemik TNI di Kampus dengan Narasi Damai dan Kolaboratif

Opini

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Refleksi Hari Guru Nasional 2024

Opini

“Pariwisata Sumatera Utara dan Peranan Pers” Antara Promosi dan Kritik

Opini

66 Tahun PEPABRI: Menjaga Api Perjuangan, Membangun Masa Depan Bangsa

Opini

Budi dan Fadhil Bertemu…

Opini

Menabur Kebaikan dan Kesabaran, Kunci Kesejahteraan dan Ketenangan