Sambut HUT Ke-81 TNI, Korem 042/Gapu Gelar Donor Darah, Sunatan Massal, dan Pengobatan Gratis TNI AD Fair 2026, Alutsista dan Inovasi Jadi Magnet Pengunjung di Monas DPD PEPABRI Jambi Evaluasi dan Bubarkan Panitia HUT ke-67, Tekankan Tertib Administrasi dan Penguatan Pengabdian Purna Tugas Bukan Akhir Persaudaraan, Rekan Seperjuangan Datang Menjenguk Suhartono Danrem 042/Gapu Salurkan 25 Ribu Masker Bantuan Presiden, Lindungi Warga Jambi dari Dampak Kabut Asap Karhutla

Home / Opini

Minggu, 3 Agustus 2025 - 09:21 WIB

Merdeka, Tapi Dijajah: Ironi Delapan Dekade Kemerdekaan Bangsa

Oleh: Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.

DELAPAN puluh tahun sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia tampak merdeka secara fisik. Bendera Merah Putih terus berkibar di langit Nusantara, lagu kebangsaan dinyanyikan dengan semangat, dan upacara-upacara diselenggarakan tiap tahun. Namun di balik kemeriahan simbolik itu, banyak rakyat justru merasa semakin jauh dari makna kemerdekaan yang sejati.

Hari ini, bangsa ini tidak lagi dijajah oleh bangsa asing yang membawa senjata. Tapi kita menyaksikan penjajahan yang lebih licik dan menyakitkan: oleh elite sendiri yang haus kekuasaan dan rakus harta. Kekuasaan berubah menjadi alat dominasi, bukan pengabdian. Negara dibangun untuk melayani segelintir, bukan seluruh rakyat.

Baca :  Menyusuri Jejak KH. Kemas Abdussomad, Menyemai Ketahanan Sosial Menuju Kota Jambi Bahagia

Korupsi tak lagi sekadar perilaku menyimpang, tapi telah menjadi sistem. Ia tumbuh subur di balik proyek-proyek infrastruktur, bantuan sosial, dan kebijakan publik. Retorika “demi rakyat” hanya jadi pembungkus indah untuk mengelabui. Rakyat hanya hadir dalam statistik pembangunan atau narasi kampanye.

Baca :  PPAD, Jasamu Abadi: Pengabdian yang Tak Pernah Pensiun

“Demi rakyat kami bekerja,” begitu katanya. Tapi realitas berkata lain: harga-harga melonjak, ketimpangan sosial makin lebar, hukum kian berat sebelah. Rakyat yang berteriak demi keadilan dibungkam, tapi mereka yang menjarah uang negara malah dilindungi atau dinegosiasikan hukumannya.

Kemerdekaan seharusnya adalah keadilan yang merata, kedaulatan yang nyata, dan kesejahteraan yang terjamin. Tapi saat tanah dikuasai oligarki, hukum dikendalikan kekuasaan, dan suara rakyat disunting demi stabilitas palsu, maka “kemerdekaan” hanya tinggal seremoni.

Baca :  Forkopimcam Gelumbang Gelar Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Perwakilan PT Dizamatra Powerindo Turut Hadir

Ironi ini kian dalam ketika konstitusi dilanggar demi kepentingan politik sesaat, dan Pancasila sekadar jadi jargon di spanduk-spanduk upacara. Para pejuang yang dulu bertaruh nyawa demi kemerdekaan mungkin kini menangis dari alam sana, melihat bagaimana cita-cita mereka dikhianati oleh generasi yang berkuasa hari ini.

Sejarah tidak buta. Ia akan mencatat dengan jelas siapa yang berdiri di sisi rakyat, dan siapa yang menjajah dengan jas elegan dan senyum manis kekuasaan.

Merdeka! 

Share :

Baca Juga

Daerah

Selamat HUT Kota Sejuk Yang Penuh Tumpukan Sampah

Opini

Membangun Kepemimpinan Militer yang Berintegritas: Menjadi Teladan di Tengah Dinamika Tugas

Opini

PENGUASA TANPA NURANI: PEMAGARAN LAUT 30,16 KM DI TANGERANG, BANTEN – KEZALIMAN TERSTRUKTUR DAN PENGKHIANATAN BELA NEGARA!

Opini

Sejarah Batik Jambi Mengangkat Ekonomi dengan Warisan Budaya

Opini

Catatan Akhir Tahun 2025. Maraknya Admin Facebook dan Kegaduhan Media Sosial: Waspada Jerat Pidana ITE

Opini

Pengkhianatan yang Terulang: Dari Pengungsi Terusir Menjadi Penjajah Kejam

Opini

Antara Pragmatisme dan Ideologi: Strategi PDIP dalam Pilkada Jambi 2024

Opini

TERUSAN KRA: PELUANG EMAS INDONESIA UNTUK MEMULIHKAN KEJAYAAN MARITIM