Merawat Persaudaraan, Meneguhkan Nilai-Nilai Kebangsaan
Oleh: Letkol (Purn) Firdaus
Ada satu hal yang membedakan profesi prajurit dengan pekerjaan pada umumnya. Seorang pegawai dapat mengakhiri masa kerjanya ketika memasuki usia pensiun. Namun, bagi seorang prajurit, pengabdian sesungguhnya tidak pernah mengenal kata selesai. Seragam boleh ditanggalkan, pangkat berhenti bertambah, dan jabatan diserahkan kepada generasi berikutnya. Akan tetapi, Sapta Marga, Sumpah Prajurit, serta kecintaan kepada bangsa dan negara akan tetap hidup dalam sanubari hingga akhir hayat.
Makna itulah yang saya tangkap dari tema Dirgahayu ke-23 Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), “PPAD, Jasamu Abadi.” Sebuah tema yang bukan sekadar slogan seremonial, melainkan penegasan bahwa jasa dan pengabdian seorang prajurit tidak pernah berakhir ketika masa dinas usai. Yang berubah hanyalah cara mengabdi.
Selama puluhan tahun, prajurit TNI Angkatan Darat telah menjadi bagian dari denyut nadi perjalanan bangsa. Mereka menjaga perbatasan, mempertahankan kedaulatan negara, membantu masyarakat saat bencana, membangun desa melalui kemanunggalan TNI dengan rakyat, hingga memastikan stabilitas nasional tetap terjaga. Di balik semua itu ada pengorbanan yang sering tidak terlihat: waktu bersama keluarga yang terenggut, beratnya medan penugasan, bahkan nyawa yang dipertaruhkan demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun, ukuran pengabdian seorang prajurit bukan hanya keberhasilan operasi atau banyaknya penghargaan yang diterima. Pengabdian sejati tercermin dalam disiplin, integritas, loyalitas, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Nilai-nilai itulah yang harus tetap hidup, bahkan ketika seorang prajurit telah menjadi purnawirawan.
Sebagai seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat, saya meyakini bahwa masa pensiun bukanlah akhir perjalanan. Justru pada fase inilah pengalaman, kebijaksanaan, dan nilai-nilai keprajuritan memiliki ruang yang lebih luas untuk diabdikan kepada masyarakat.
Karena itu, Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar organisasi. PPAD adalah wadah untuk menjaga semangat pengabdian, mempererat persaudaraan, memperkuat nilai-nilai kebangsaan, dan memastikan bahwa pengalaman panjang para purnawirawan tetap memberi manfaat bagi bangsa.
Semangat tersebut terasa dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-23 PPAD yang digelar di Balai Prajurit Korem 042/Garuda Putih, Jambi. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti seluruh rangkaian kegiatan. Hadir Ketua DPD PEPABRI Provinsi Jambi Kolonel (Purn) Bunadi, jajaran Pengurus Daerah PPAD, Ketua DPC PEPABRI Kota Jambi, PP Polri, para warakawuri, serta keluarga besar TNI AD. Hadir pula Kepala Staf Korem (Kasrem) 042/Garuda Putih Kolonel Inf Davy Darma Putra, yang mewakili Danrem 042/Garuda Putih.
Dalam sambutan Danrem yang dibacakan Kasrem, disampaikan penghargaan dan rasa hormat kepada seluruh purnawirawan TNI Angkatan Darat atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian yang telah diberikan kepada bangsa dan negara. Danrem menegaskan bahwa jasa para purnawirawan merupakan fondasi yang kokoh bagi keberlanjutan pengabdian prajurit TNI AD saat ini. Oleh sebab itu, silaturahmi, semangat kebersamaan, dan sinergi antara prajurit aktif dengan para purnawirawan harus terus dipelihara sebagai kekuatan moral dalam menjaga persatuan bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bagi saya, pesan tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Pengabdian seorang prajurit memang tidak berhenti ketika masa dinas selesai. Yang berubah hanyalah bentuk pengabdiannya. Jika dahulu mengabdi melalui tugas kemiliteran, maka setelah purnatugas pengabdian dilanjutkan melalui keteladanan, pengalaman, pemikiran, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Momentum itu juga mengingatkan bahwa PPAD bukan milik segelintir orang, bukan milik pengurus, dan bukan pula milik kelompok tertentu. PPAD adalah rumah besar seluruh purnawirawan TNI Angkatan Darat beserta keluarga besarnya. Di dalamnya berhimpun para senior, para purnawirawan dari berbagai angkatan, warakawuri, serta putra-putri keluarga besar TNI AD yang bersama-sama menjaga warisan nilai perjuangan.
Sebagai rumah besar, PPAD harus menjadi tempat yang nyaman bagi seluruh anggotanya. Tidak boleh ada sekat karena perbedaan angkatan, pangkat, jabatan, maupun latar belakang penugasan. Setelah memasuki masa purnatugas, yang tersisa adalah persaudaraan, semangat kekeluargaan, dan tekad untuk terus memberi manfaat kepada bangsa.
Saya meyakini bahwa organisasi hanya akan menjadi kuat apabila seluruh anggotanya memiliki rasa memiliki (sense of belonging). PPAD akan semakin besar apabila setiap anggotanya merasa bertanggung jawab untuk menjaga nama baik organisasi, saling mendukung, dan terus merawat kebersamaan.
Di dalam kehidupan organisasi, nilai-nilai keprajuritan juga harus tetap dijaga. Meskipun telah menjadi purnawirawan, budaya menghormati senior hendaknya tetap dikedepankan. Senioritas harus dimaknai sebagai penghormatan terhadap pengalaman, pengabdian, dan keteladanan yang telah diwariskan para pendahulu, bukan sebagai simbol kekuasaan. Sebaliknya, para senior memiliki kewajiban moral untuk mengayomi, membimbing, serta memberi ruang kepada generasi purnawirawan yang lebih muda agar estafet organisasi berjalan harmonis.
Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ancaman terhadap bangsa tidak hanya berupa ancaman militer, tetapi juga disinformasi, polarisasi sosial, korupsi, narkoba, lunturnya etika, dan melemahnya semangat kebangsaan. Dalam situasi seperti ini, bangsa membutuhkan figur-figur yang mampu menjadi teladan.
Di sinilah para purnawirawan memiliki peran strategis. Pengalaman panjang yang mereka miliki merupakan modal sosial yang sangat berharga untuk membina generasi muda, memperkuat nasionalisme, menjaga persatuan, dan menjadi penyejuk di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis.
Sebagai Sekretaris DPD PEPABRI Provinsi Jambi masa bakti 2023–2028, saya memandang bahwa organisasi purnawirawan harus terus menjadi perekat keluarga besar TNI dan Polri, sekaligus menjadi mitra masyarakat dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan. Jabatan hanyalah amanah, tetapi pengabdian adalah panggilan yang tidak mengenal batas waktu.
Harapan saya sederhana. Semoga PPAD terus tumbuh menjadi organisasi yang semakin solid, semakin terbuka, dan semakin dicintai oleh seluruh anggotanya. Menjadi rumah besar yang mampu merangkul semua purnawirawan TNI Angkatan Darat beserta keluarga besarnya, tanpa membedakan angkatan, pangkat, maupun jabatan yang pernah diemban. Dari rumah besar inilah semangat pengabdian, disiplin, loyalitas, dan cinta tanah air akan terus diwariskan kepada generasi penerus.
Pada akhirnya, “PPAD, Jasamu Abadi” bukan sekadar tema peringatan ulang tahun. Ia adalah penghormatan kepada masa lalu, penguatan bagi masa kini, dan harapan bagi masa depan. Sebab seorang prajurit boleh memasuki masa pensiun, tetapi semangat pengabdiannya tidak pernah pensiun.
Selama Merah Putih masih berkibar, selama Indonesia tetap berdiri tegak, dan selama persatuan bangsa harus terus dijaga, maka semangat para purnawirawan akan tetap hidup.
Dirgahayu ke-23 Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat.
Kartika Purna Wira.
PPAD, Jasamu Abadi.










