Irwansyah Kembali Pimpin PWI Kota Jambi, Tegaskan Komitmen pada Etika dan Profesionalisme Pers Ketum PWI Pusat Ajak Keluarga Besar PWI Provinsi Jambi Jaga Kekompakan Babinsa Kelurahan Murni Kawal Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat Babinsa Pasir Panjang Sambangi Pengrajin Mebel, Dukung Pengembangan UMKM Babinsa Koramil Muara Tembesi Hadiri Sosialisasi P4GN, Dukung Terwujudnya Kampung Bebas Narkoba

Home / Opini

Minggu, 2 Maret 2025 - 19:21 WIB

Hakikat Puasa yang Hakiki: Puasa Rasa Sejati

Oleh : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

1. Perintah Puasa dalam Al-Qur’an

Ramadhan adalah bulan yang mulia, bulan di mana Allah memerintahkan umat Islam untuk berpuasa sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)

Namun, apakah sejatinya puasa hanya sekadar menahan lapar dan haus?

Dalam hadits shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan haus.”

(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadits ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi ada dimensi yang lebih dalam: Puasa Rasa yang melibatkan seluruh panca indera kita.

2. Puasa Sejati: Mengendalikan Panca Indera

Allah menciptakan manusia dengan lima panca indera sebagai jendela untuk memahami dunia. Namun, jika tidak dikendalikan, panca indera ini bisa menjadi jalan masuk bagi berbagai dosa. Oleh karena itu, hakikat puasa sejati adalah menahan dan mensucikan panca indera dari hal-hal yang haram dan sia-sia.

Baca :  Babinsa Mekar Jaya dan Warga Gotong Royong Bersihkan Sungai, Antisipasi Banjir

a. Puasa Mata (Perasa Penglihatan)

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

(QS. An-Nur: 30)

Mata adalah jendela hati. Jika kita tidak menjaga pandangan, maka hati kita akan terkotori. Puasa mata berarti menahan diri dari melihat hal-hal yang diharamkan, seperti aurat yang bukan mahram, tontonan yang tidak bermanfaat, serta segala sesuatu yang bisa membangkitkan hawa nafsu.

b. Puasa Telinga (Perasa Pendengaran)

Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS. Al-Isra: 36)

Puasa telinga berarti menjaga diri dari mendengarkan gosip, ghibah, fitnah, lagu-lagu yang melalaikan, serta segala sesuatu yang tidak bermanfaat. Sebab, apa yang kita dengar akan mempengaruhi hati dan pikiran kita.

Baca :  Trias Politica di Persimpangan: Ketika Kekuasaan Saling Menyapa Terlalu Akrab

c. Puasa Hidung (Perasa Bau Aroma)

Puasa hidung sering kali terlupakan, padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang berpuasa, maka janganlah ia mencela, berbuat keji, dan janganlah ia berlaku bodoh. Jika ada yang mencelanya, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa hidung berarti menjaga diri dari menghirup aroma yang membangkitkan syahwat atau keinginan buruk, seperti wangi-wangian yang berlebihan yang bisa menggoda lawan jenis.

d. Puasa Mulut (Ucapan dan Makanan)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan maksiat, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya, meskipun ia meninggalkan makanan dan minumannya.”

(HR. Bukhari)

Puasa mulut bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan dari ghibah, fitnah, kebohongan, dan kata-kata kasar.

e. Puasa Ujung Jari (Perasa Sentuhan dan Tindakan)

Rasulullah ﷺ bersabda:

المسلمُ من سَلِمَ المسلمونَ من لسانهِ ويدِهِ

“Seorang Muslim adalah yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Di era digital, puasa jari juga berarti menjaga jari dari menyebarkan berita hoax, ujaran kebencian, atau hal-hal yang tidak bermanfaat di media sosial.

Baca :  Silaturahim Syawal Satukan Perguruan, Dorong Kebangkitan Silat Jambi

3. Manfaat Puasa Sejati: Sehat Jasmani, Pikiran, dan Qolbu

Jika seseorang mampu menjalankan puasa dengan hakiki, bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, maka ia akan mendapatkan tiga manfaat utama:

1. Sehat Jasmani: Dengan berpuasa, tubuh kita mengalami detoksifikasi, sistem pencernaan beristirahat, dan metabolisme diperbaiki.

2. Sehat Pikiran: Dengan mengendalikan panca indera, kita terbebas dari berbagai pikiran negatif dan stres.

3. Sehat Qolbu: Dengan menjaga hati dari hal-hal yang kotor, maka hati menjadi lebih tenang dan dekat kepada Allah.

Seorang yang mampu berpuasa secara hakiki akan menjadi manusia yang sakti, karena ia memiliki kendali penuh atas dirinya sendiri. Allah pun menjamin keselamatan dunia dan akhirat bagi orang-orang yang bertakwa.

Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٍ وَنَهَرٍۢ فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِندَ مَلِيكٍۢ مُّقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Berkuasa.”

(QS. Al-Qamar: 54-55)

Penutup

Semoga kita semua bisa menjalankan puasa dengan hakikat yang sebenarnya, sehingga kita menjadi manusia yang bertakwa, sehat jasmani dan rohani, serta mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Share :

Baca Juga

Opini

Generasi Bangsa dalam Bahaya: Tragedi LGBT dan Pelajaran bagi Kita Semua

Opini

Refleksi Akhir Tahun: Banjir Bandang dan Dosa Lingkungan yang Kita Wariskan

Opini

PENJELASAN ILMIAH BERDASARKAN TEORI HIDRO-OSEANOGRAFI

Opini

Pendekatan Hukum Islam dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba: Studi Kasus di Indonesia

Opini

KEPEMIMPINAN EFEKTIF DI ERA DIGITAL

Opini

Merdeka, Tapi Dijajah: Ironi Delapan Dekade Kemerdekaan Bangsa

Opini

Dilema Polri, Politik, dan Arah Reformasi Kelembagaan

Opini

TERUSAN KRA: PELUANG EMAS INDONESIA UNTUK MEMULIHKAN KEJAYAAN MARITIM