Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Babinsa Beliung Hadiri Ceramah Agama di Masjid Al Ikhlas Babinsa Koramil Mersam Gotong Royong Bantu Pembangunan Rumah Warga Safari Dakwah di Prabumulih, Ustaz Jarir dan Ustaz Rofiq Fatah Ajak Jamaah Perkuat Bekal Akhirat Irwansyah Kembali Pimpin PWI Kota Jambi, Tegaskan Komitmen pada Etika dan Profesionalisme Pers Ketum PWI Pusat Ajak Keluarga Besar PWI Provinsi Jambi Jaga Kekompakan

Home / Opini

Sabtu, 27 Desember 2025 - 07:12 WIB

Wal ‘Ashri dan Akhir Tahun: Ketika Waktu Menggugat Manusia

MENJELANG akhir Desember, kalender Masehi kembali berganti angka. Rutinitas pergantian tahun sering diiringi perayaan, resolusi, dan harapan baru. Namun waktu, sebagaimana diperingatkan Al-Qur’an, bukan sekadar angka dalam kalender. Ia adalah saksi hidup manusia—tenang, diam, tetapi tegas. Dalam Surah Al-‘Ashr, Allah bersumpah demi waktu (Wal ‘ashri), diikuti pernyataan yang keras: sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.

Kerugian itu bukan sekadar kehilangan materi. Ia adalah kerugian eksistensial: hidup yang berlalu tanpa makna, umur yang habis tanpa pertumbuhan iman dan amal, aktivitas yang bertambah tetapi keberkahan menyusut. Kesibukan tidak menjamin keselamatan. Dan pergantian tahun, baik Hijriah maupun Masehi, semestinya menjadi momen evaluasi, bukan hanya perayaan.

Baca :  Babinsa Paal Merah Dampingi Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Refleksi ini terasa semakin mendesak ketika bangsa menghadapi duka kolektif. Musibah alam yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beberapa pekan terakhir bukan sekadar bencana fisik. Ia adalah panggilan moral dan sosial. Waktu, di sini, kembali menjadi hakim: apakah negara dan masyarakat mampu menyiapkan mitigasi, merespons dengan cepat, dan menegakkan solidaritas? Atau kita hanya menonton, lalu melanjutkan aktivitas tanpa makna?

Surah Al-‘Ashr menawarkan empat kunci keluar dari kerugian: iman, amal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Empat prinsip ini menegaskan bahwa keselamatan hidup tidak bisa dipisahkan dari dimensi sosial. Musibah menguji iman, amal, dan kepedulian kolektif. Ketika saudara tertimpa bencana, kesabaran dan keberanian menegakkan kebenaran menjadi ukuran peradaban.

Baca :  Trias Politica di Persimpangan: Ketika Kekuasaan Saling Menyapa Terlalu Akrab

Rasulullah SAW mengingatkan: “Dua nikmat yang sering dilalaikan manusia: kesehatan dan waktu luang.” Kini peringatan itu terasa tajam. Waktu luang dan kesehatan sering terbuang, baru disadari ketika musibah merenggut keduanya. Pergantian tahun seharusnya menjadi jeda muhasabah: sejauh mana waktu telah digunakan untuk memperkuat iman, membangun kepedulian sosial, dan memperbaiki tata kelola negara agar menghadirkan keadilan dan keselamatan bagi rakyat.

Baca :  Babinsa Desa Kuap Hadiri Panen Jagung Program Ketahanan Pangan di Pemayung

Waktu adalah hakim yang tidak berteriak, tetapi mencatat. Ia tidak menghakimi sekarang, tetapi kelak bersaksi. Bangsa yang sibuk tetapi abai terhadap sesama yang menderita, sama halnya dengan individu yang lalai mengisi hidupnya dengan makna.

Di hadapan kesaksian waktu itu, hanya mereka—individu maupun bangsa—yang beriman, beramal shalih, menjaga kebenaran, dan bersabar dalam ujian kehidupan yang mampu keluar dari kerugian. Akhir tahun bukan sekadar angka yang berganti. Ia adalah pengingat bahwa hidup yang bermakna selalu menuntut perhatian, empati, dan tindakan nyata. (firdaus)

Share :

Baca Juga

Opini

Ilusi Perwakilan Rakyat: Membongkar Realitas Legislasi di DPR RI

Opini

Langkah Menuju Neraka Dunia: Kunjungan Menlu Iran ke Moskow Picu Konsolidasi Blok Timur Hadapi AS – Perang Dunia Ketiga Semakin Nyata

Opini

MEGA KORUPSI PERTAMINA: GAJI SELANGIT, PENGA-WASAN BOBROK, RAKYAT TERJERAT

Opini

Generasi Bangsa dalam Bahaya: Tragedi LGBT dan Pelajaran bagi Kita Semua

Opini

Membangun Kepemimpinan Militer yang Berintegritas: Menjadi Teladan di Tengah Dinamika Tugas

Opini

Indonesia di Ambang Kebangkitan Maritim: Strategi Menghadang Dominasi Singapura dan Malaysia dengan Hub Port Malahayati dan Kijing

Opini

BREAKING NEWS: PENJARAHAN HARTA KARUN SUNGAI BATANGHARI, WARISAN PERADABAN DUNIA TERANCAM PUNAH..!

Opini

Trias Politica di Persimpangan: Ketika Kekuasaan Saling Menyapa Terlalu Akrab