SRIWIJAYADAILY – Peristiwa tragis yang terjadi di Kabupaten Mesuji, Lampung, menjadi tamparan keras bagi upaya pelestarian satwa liar di Indonesia. Seekor tapir yang sempat viral karena berkeliaran di Jalan Lintas Timur Sumatera seharusnya menjadi prioritas penyelamatan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Satwa dilindungi itu dikejar, dibunuh, disembelih, dipotong-potong, bahkan dagingnya dibagikan kepada warga dan sebagian dimasak untuk dikonsumsi.
Peristiwa ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga menunjukkan masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian satwa liar. Kehadiran tapir di permukiman bukan berarti satwa itu menjadi ancaman atau boleh diburu. Justru, kemunculannya bisa menjadi pertanda habitat alaminya terganggu atau satwa tersebut tersesat keluar dari kawasan hutan.
Perkembangan terbaru menunjukkan aparat bergerak cepat. Polres Mesuji telah menangkap empat orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan tapir tersebut. Polisi juga masih memburu dua pelaku lain yang telah ditetapkan sebagai buronan. Dari lokasi kejadian, petugas menyita barang bukti berupa tombak, golok, potongan tubuh tapir, hingga sisa olahan daging yang telah dimasak.
Hasil penyelidikan sementara menyebut motif para pelaku bukan untuk diperjualbelikan, melainkan dikonsumsi bersama. Fakta ini justru semakin memprihatinkan. Di tengah berbagai kampanye konservasi yang terus dilakukan, masih ada anggapan bahwa satwa liar yang masuk ke kampung adalah “rezeki” yang boleh diburu dan dimakan.
Kasus di Mesuji membuktikan bahwa konservasi tidak cukup hanya mengandalkan aturan. Penegakan hukum memang penting untuk memberikan efek jera, tetapi edukasi kepada masyarakat jauh lebih penting agar kejadian serupa tidak terus berulang. Warga perlu memahami bahwa ketika menemukan satwa liar dilindungi, tindakan yang benar adalah segera melaporkannya kepada BKSDA atau aparat setempat agar satwa dapat dievakuasi dan dikembalikan ke habitatnya.
Tragedi ini hendaknya menjadi pelajaran bagi semua pihak. Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan hayati yang luar biasa. Namun, kekayaan itu tidak akan bertahan jika kesadaran untuk melindunginya masih kalah oleh kepentingan sesaat.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh pembangunan jalan, gedung, atau pertumbuhan ekonomi. Bangsa yang beradab juga diukur dari bagaimana masyarakatnya memperlakukan makhluk hidup lain dan menjaga warisan alam untuk generasi yang akan datang. Semoga tragedi tapir di Mesuji menjadi yang terakhir, bukan sekadar viral beberapa hari lalu kemudian dilupakan.










