Babinsa Desa Awin Bantu Warga Turunkan Material Bangunan, Wujud Nyata Kepedulian TNI Babinsa Kelurahan Selamat Dampingi BPN dan PN Jambi Lakukan Pencocokan Lahan Sengketa, Pastikan Berjalan Aman dan Tertib Babinsa Paal Merah Bersama Warga Gotong Royong Cor Jalan Lingkungan, Wujudkan Akses yang Aman dan Nyaman Pererat Silaturahmi, Babinsa Koramil 415-13/Sebapo Komsos Bersama Warga Desa Bukit Subur Babinsa Payo Selincah Ajak Warga Gotong Royong Bersihkan Parit, Wujudkan Lingkungan Bersih dan Sehat

Home / Opini

Kamis, 26 Juni 2025 - 15:00 WIB

Sombong Itu Warisan Iblis, Rendah Hati Itu Jalan Nabi

Di era digital yang penuh kebisingan, manusia begitu mudah berpendapat, menghakimi, dan merasa paling benar. Celakanya, banyak yang tidak sadar bahwa di balik layar dan lisan, mereka sedang memelihara kesombongan—penyakit hati yang diwariskan langsung oleh makhluk terlaknat: Iblis.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menceritakan bagaimana Iblis menjadi makhluk pertama yang sombong. Ketika Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam, ia menjawab dengan pongah:“Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)

Iblis tidak melanggar dalam bentuk tindakan fisik, tetapi ia membangkang dalam batin dan logika. Ia menolak tunduk kepada perintah Allah karena merasa lebih mulia. Maka Allah murka dan berfirman: “Maka turunlah kamu dari surga! Sesungguhnya kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya.”(QS. Al-A’raf: 13)

Bandingkan dengan kisah Nabi Adam ‘alaihis salam. Ia memang pernah melakukan kesalahan dengan memakan buah terlarang. Namun begitu sadar, ia langsung merendah dan bertobat, mengakui kesalahannya bersama istrinya:“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”(QS. Al-A’raf: 23)

Di sinilah bedanya. Adam bersalah tapi merendah. Iblis tidak bersalah secara fisik, tapi membangkang dan sombong. Satu diampuni, yang lain dikutuk.

Baca :  Jurnal Senja: Catatan Pengabdian

Rasulullah ﷺ memperingatkan dengan sangat tegas dalam hadisnya:“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji zarah.”(HR. Muslim)

Kesombongan bisa muncul dalam berbagai bentuk: merasa lebih suci, lebih alim, lebih pintar, lebih layak didengar, lebih pantas dituruti. Bahkan dalam hal ibadah pun seseorang bisa terperangkap riya dan merasa diri paling benar, lalu meremehkan orang lain.

Baca :  Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu Tutup Usia, Pengabdian Seorang Prajurit untuk Republik Berakhir

Padahal sejatinya kemuliaan di hadapan Allah tidak terletak pada kata-kata atau gelar, melainkan pada ketakwaan dan kerendahan hati. Allah menegaskan:“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”(QS. Al-Hujurat: 13)

Kerendahan hati atau tawadhu’ bukan tanda kelemahan, tapi kekuatan sejati seorang mukmin. Nabi Muhammad ﷺ, manusia termulia, adalah sosok yang sangat tawadhu. Beliau makan di lantai, tidur di atas tikar kasar, mencuci pakaiannya sendiri, bahkan tidak membedakan diri saat duduk di tengah-tengah sahabat.

Namun hari ini, banyak manusia lebih mudah meniru Iblis daripada meneladani Nabi. Sombong dengan followers, angkuh karena jabatan, merasa suci karena kata-kata agama yang diucapkan di media sosial. Ironisnya, sebagian dari mereka tak sadar telah berubah menjadi “setan berkedok manusia”.

Baca :  PWI Provinsi Jambi Harus Menjadi Rumah Besar Wartawan

Rasulullah ﷺ bersabda:“Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”(HR. Muslim)

Kesombongan bukan hanya soal sikap, tapi juga soal nasib akhirat. Ia adalah penghalang masuk surga. Maka jangan biarkan setitik pun sombong bersarang di hati kita. Sebab dari situlah Iblis memulai kejatuhannya, dan dari situlah pula kita bisa tergelincir jika tidak waspada.

Hiduplah dengan rendah hati. Belajarlah dari Adam, jauhilah warisan Iblis, dan teladanilah Nabi Muhammad ﷺ. Karena jalan ke surga bukan diukur dari tinggi suara atau banyaknya pengikut, melainkan dari hati yang tunduk dan bersih.


Penulis: Mayor (Purn) Arifan
Editor: Jagat Taniwara54

Share :

Baca Juga

Opini

Puasa dan Optimalisasi Gelombang Otak: Gerbang Menuju Kejernihan Pikiran dan Kreativitas Tinggi

Opini

HAKIKAT AKAL, KEHIDUPAN, DAN KEMATIAN: MENGUNGKAP RAHASIA AZAB KUBUR DENGAN LOGIKA, SAINS, DAN WAHYU

Nasional

Sekolah Rakyat: Jalan Baru Menuju Harapan Anak Bangsa

Opini

Ancaman Reklamasi dan Perpecahan Bangsa: Indonesia Harus Kembali ke UUD 1945 yang Asli..!

Opini

Di Balik Batu Domino: Pelajaran Kehidupan dari Sebuah Permainan

Opini

Pendekatan Hukum Islam dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba: Studi Kasus di Indonesia

Opini

Spirit Sang Wartawan Serba Bisa BM Diah dan Grha Pers Pancasila

Opini

“Dak Biso Eloki, Jangan Ngerusak” — Menjaga Marwah PEPABRI dengan Jiwa Kesatria dan Semangat Kebangsaan