Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Babinsa Beliung Hadiri Ceramah Agama di Masjid Al Ikhlas Babinsa Koramil Mersam Gotong Royong Bantu Pembangunan Rumah Warga Safari Dakwah di Prabumulih, Ustaz Jarir dan Ustaz Rofiq Fatah Ajak Jamaah Perkuat Bekal Akhirat Irwansyah Kembali Pimpin PWI Kota Jambi, Tegaskan Komitmen pada Etika dan Profesionalisme Pers Ketum PWI Pusat Ajak Keluarga Besar PWI Provinsi Jambi Jaga Kekompakan

Home / Opini

Kamis, 26 Juni 2025 - 15:00 WIB

Sombong Itu Warisan Iblis, Rendah Hati Itu Jalan Nabi

Di era digital yang penuh kebisingan, manusia begitu mudah berpendapat, menghakimi, dan merasa paling benar. Celakanya, banyak yang tidak sadar bahwa di balik layar dan lisan, mereka sedang memelihara kesombongan—penyakit hati yang diwariskan langsung oleh makhluk terlaknat: Iblis.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menceritakan bagaimana Iblis menjadi makhluk pertama yang sombong. Ketika Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam, ia menjawab dengan pongah:“Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)

Iblis tidak melanggar dalam bentuk tindakan fisik, tetapi ia membangkang dalam batin dan logika. Ia menolak tunduk kepada perintah Allah karena merasa lebih mulia. Maka Allah murka dan berfirman: “Maka turunlah kamu dari surga! Sesungguhnya kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya.”(QS. Al-A’raf: 13)

Bandingkan dengan kisah Nabi Adam ‘alaihis salam. Ia memang pernah melakukan kesalahan dengan memakan buah terlarang. Namun begitu sadar, ia langsung merendah dan bertobat, mengakui kesalahannya bersama istrinya:“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”(QS. Al-A’raf: 23)

Di sinilah bedanya. Adam bersalah tapi merendah. Iblis tidak bersalah secara fisik, tapi membangkang dan sombong. Satu diampuni, yang lain dikutuk.

Baca :  Pantau Kondisi Wilayah, Babinsa Koramil 415-03/Muara Tembesi Aktif Sambangi Warga

Rasulullah ﷺ memperingatkan dengan sangat tegas dalam hadisnya:“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji zarah.”(HR. Muslim)

Kesombongan bisa muncul dalam berbagai bentuk: merasa lebih suci, lebih alim, lebih pintar, lebih layak didengar, lebih pantas dituruti. Bahkan dalam hal ibadah pun seseorang bisa terperangkap riya dan merasa diri paling benar, lalu meremehkan orang lain.

Baca :  Lebaran di Tengah Perbedaan: Memaknai Kedewasaan dan Persatuan

Padahal sejatinya kemuliaan di hadapan Allah tidak terletak pada kata-kata atau gelar, melainkan pada ketakwaan dan kerendahan hati. Allah menegaskan:“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”(QS. Al-Hujurat: 13)

Kerendahan hati atau tawadhu’ bukan tanda kelemahan, tapi kekuatan sejati seorang mukmin. Nabi Muhammad ﷺ, manusia termulia, adalah sosok yang sangat tawadhu. Beliau makan di lantai, tidur di atas tikar kasar, mencuci pakaiannya sendiri, bahkan tidak membedakan diri saat duduk di tengah-tengah sahabat.

Namun hari ini, banyak manusia lebih mudah meniru Iblis daripada meneladani Nabi. Sombong dengan followers, angkuh karena jabatan, merasa suci karena kata-kata agama yang diucapkan di media sosial. Ironisnya, sebagian dari mereka tak sadar telah berubah menjadi “setan berkedok manusia”.

Baca :  Inovasi Batik Tapis, Upaya Menjaga Tradisi Lampung Tetap Relevan

Rasulullah ﷺ bersabda:“Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”(HR. Muslim)

Kesombongan bukan hanya soal sikap, tapi juga soal nasib akhirat. Ia adalah penghalang masuk surga. Maka jangan biarkan setitik pun sombong bersarang di hati kita. Sebab dari situlah Iblis memulai kejatuhannya, dan dari situlah pula kita bisa tergelincir jika tidak waspada.

Hiduplah dengan rendah hati. Belajarlah dari Adam, jauhilah warisan Iblis, dan teladanilah Nabi Muhammad ﷺ. Karena jalan ke surga bukan diukur dari tinggi suara atau banyaknya pengikut, melainkan dari hati yang tunduk dan bersih.


Penulis: Mayor (Purn) Arifan
Editor: Jagat Taniwara54

Share :

Baca Juga

Opini

Isra’ Mi’raj dalam Perspektif Al-Qur’an, Ilmu Pengetahuan Modern, dan Teori Relativitas

Olahraga

Gubernur Jambi Incar Ketua Umum KONI, Pengamat: Rakyat Butuh Pemimpin yang Fokus

Opini

HAKIKAT AKAL, KEHIDUPAN, DAN KEMATIAN: MENGUNGKAP RAHASIA AZAB KUBUR DENGAN LOGIKA, SAINS, DAN WAHYU

Opini

Loreng di Ladang: Babinsa Menjaga Negeri dari Desa, Mengabdi Tanpa Batas

Opini

Rakyat Menggugat: Rentetan Blunder Pemerintahan Prabowo dan Ledakan Amarah Publik

Opini

45 Menit Ngobrol Asyik Bersama Yan Iswara Rosya Sang “Nakhoda” OJK Jambi

Opini

Dirgahayu TNI ke-79: Transformasi Menuju Kekuatan Modern dan Penjaga Stabilitas Nasional

Opini

Pengkhianatan yang Terulang: Dari Pengungsi Terusir Menjadi Penjajah Kejam