Penerangan Korem di Era Informasi: Dari Publikasi Menuju Kepercayaan 128 Tim Adu Strategi, Tim Mabes 05 Juara Turnamen Domino 101 Piala Panglima TNI di Jambi Danrem 042/Gapu Tutup Open Tournament Tenis Se-Sumatera, Perkuat Silaturahmi dan Sportivitas Ribuan Warga Meriahkan TNI Fun Run 5K 2026 di Kota Jambi Kodim 0415/Jambi Gelar Turnamen Domino 101 Piala Panglima TNI

Home / Opini / TNI-POLRI

Selasa, 29 September 2026 - 09:24 WIB

Penerangan Korem di Era Informasi: Dari Publikasi Menuju Kepercayaan

Oleh: Letkol Purn Firdaus

Purnawirawan TNI AD, pernah menjabat sebagai Kepala Penerangan Korem 042/Garuda Putih (Kapenrem 042/Gapu)

Di tengah derasnya arus informasi saat ini, tugas penerangan di lingkungan TNI tidak lagi dapat dipandang sebagai pekerjaan tambahan. Penerangan telah menjadi bagian penting dari bagaimana institusi TNI berkomunikasi dengan masyarakat.

Informasi bergerak begitu cepat. Sebuah foto dapat beredar dalam hitungan detik. Sebuah pernyataan dapat dikutip oleh berbagai media. Bahkan informasi yang belum tentu benar dapat berkembang menjadi opini publik sebelum pihak yang bersangkutan sempat memberikan penjelasan.

Dalam kondisi seperti itu, Kepala Penerangan Korem atau Kapenrem memiliki posisi yang sangat strategis.

Saya mengatakan hal tersebut bukan semata-mata sebagai pengamat dari luar. Dalam perjalanan pengabdian sebagai prajurit TNI AD, saya pernah dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Penerangan Korem 042/Garuda Putih. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa dunia penerangan bukan sekadar persoalan menulis berita.

Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar: bagaimana menjaga agar informasi yang keluar dari institusi tetap benar, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Penerangan Bukan Sekadar Membuat Berita

Dulu, ketika teknologi informasi belum seperti sekarang, pekerjaan penerangan mungkin lebih banyak dikenal melalui dokumentasi kegiatan, penulisan berita, penyusunan bahan penerangan, dan hubungan dengan media massa.

Sekarang situasinya berubah.

Kapenrem harus mampu memahami media cetak, media online, televisi, radio, dan media sosial. Ia juga harus mampu membaca kecenderungan pemberitaan, memahami isu yang berkembang, dan mengetahui bagaimana sebuah informasi dapat memengaruhi persepsi masyarakat.

Karena itu, Kapenrem tidak boleh hanya menunggu perintah untuk membuat berita.

Sejak pagi, ia idealnya sudah mengetahui agenda Danrem dan kegiatan satuan jajaran. Setelah itu, dilakukan pemantauan pemberitaan dan perkembangan informasi yang berkaitan dengan TNI, Korem, Kodim jajaran, pemerintah daerah, serta persoalan sosial kemasyarakatan yang relevan.

Dari sana Kapenrem menentukan prioritas.

Kegiatan mana yang harus diliput?

Mana yang cukup didokumentasikan?

Mana yang memiliki nilai berita?

Mana yang membutuhkan keterangan resmi?

Mana yang perlu mendapatkan perhatian pimpinan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari pekerjaan penerangan modern.

Kapenrem dan Danrem: Hubungan Staf dan Pimpinan

Kapenrem merupakan unsur staf khusus yang membantu Danrem dalam bidang penerangan.

Karena itu, hubungan Kapenrem dengan Danrem harus dibangun atas dasar komunikasi, kepercayaan, dan profesionalitas.

Kapenrem harus mengetahui agenda dan kebijakan pimpinan. Tetapi pada saat yang sama, Kapenrem juga harus memberikan masukan mengenai perkembangan informasi di luar organisasi.

Baca :  Spanyol Sapu Bersih Penghargaan Individu, Tegaskan Dominasi di Piala Dunia 2026

Seorang Kapenrem jangan hanya mampu mengatakan:

“Siap, Pak.”

Ia juga harus mampu menyampaikan:

“Mohon izin, Pak Danrem, dari sisi penerangan ada hal yang perlu dipertimbangkan.”

Inilah yang membedakan antara seorang pelaksana teknis dengan staf penerangan yang memahami fungsi strategisnya.

Apabila ada isu berkembang di media, Kapenrem harus segera melaporkan. Jika ada informasi yang keliru, Kapenrem harus menyiapkan bahan klarifikasi. Jika sebuah kegiatan berpotensi menimbulkan salah persepsi, Kapenrem harus memberikan masukan sebelum informasi tersebut disebarkan.

Namun demikian, Kapenrem harus memahami batas kewenangannya.

Tidak semua persoalan boleh dijawab sendiri. Informasi tertentu harus mendapatkan arahan pimpinan. Kapenrem harus tahu kapan berbicara dan kapan meminta petunjuk.

Kapenrem dan Wartawan: Mitra, Bukan Bawahan

Hubungan dengan wartawan juga memiliki karakter tersendiri.

Wartawan bukan bawahan TNI. Karena itu, hubungan antara Kapenrem dengan wartawan harus dibangun sebagai kemitraan profesional.

Kapenrem menyediakan informasi resmi yang dapat dipertanggungjawabkan. Wartawan menjalankan tugas jurnalistiknya secara independen.

Dalam hubungan tersebut, kedua pihak memiliki tanggung jawab masing-masing.

Kapenrem harus memberikan data yang benar.

Wartawan harus melakukan tugas jurnalistik sesuai ketentuan profesinya.

Tidak perlu ada hubungan yang terlalu formal sehingga komunikasi menjadi kaku. Tetapi juga jangan sampai hubungan kedekatan menghilangkan profesionalitas.

Saya meyakini, hubungan baik antara TNI dan media bukan berarti wartawan harus selalu memberitakan hal-hal yang menyenangkan bagi institusi.

Justru ketika terjadi persoalan, hubungan profesional yang baik akan membantu menciptakan komunikasi yang sehat.

Media dapat bertanya.

Kapenrem dapat menjelaskan.

Jika memang belum dapat dijelaskan, katakan belum dapat dijelaskan.

Jangan mengarang jawaban.

Kapenrem dan Kodim Jajaran

Kapenrem juga harus membangun sistem komunikasi yang baik dengan Kodim jajaran.

Banyak kegiatan penting justru berlangsung di tingkat Kodim dan Koramil. Karena itu, informasi dari wilayah harus dapat mengalir dengan cepat dan akurat ke Korem.

Kodim dapat mengirimkan bahan berupa:

data kegiatan, foto, video, nama pejabat, jumlah peserta, tujuan kegiatan, hasil kegiatan, dan keterangan pendukung.

Tetapi bahan tersebut tidak serta-merta menjadi berita.

Kapenrem harus memeriksa dan menyuntingnya.

Di sinilah pentingnya koordinasi.

Jangan sampai terjadi perbedaan data antara berita Kodim dengan informasi yang kemudian dipublikasikan Korem.

Baca :  Babinsa Kampung Pulau Hadiri Monev BUMDes, Dorong Tata Kelola Transparan dan Penguatan Ekonomi Desa

Satu informasi harus memiliki satu sumber data yang jelas.

Standar Berita: 5W + 1H

Berita kegiatan Korem harus memenuhi unsur dasar jurnalistik:

What, Who, When, Where, Why, dan How.

Apa kegiatannya?

Siapa yang melaksanakan?

Kapan?

Di mana?

Mengapa dilaksanakan?

Bagaimana pelaksanaannya?

Tetapi 5W + 1H saja belum cukup.

Berita juga harus menjawab pertanyaan yang lebih penting:

“Apa manfaat kegiatan tersebut bagi masyarakat?”

Inilah yang sering terlupakan dalam berita kegiatan instansi.

Jangan hanya menulis bahwa seorang pejabat menghadiri acara.

Yang lebih penting adalah menjelaskan apa yang dilakukan, apa hasilnya, dan apa manfaatnya.

Jangan Terjebak Berita Seremonial

Berita kegiatan pemerintah atau institusi sering terjebak pada pola yang sama:

pejabat datang, pejabat memberikan sambutan, pejabat membuka acara, kemudian foto bersama.

Berita pun selesai.

Menurut saya, pola tersebut perlu diperbaiki.

Masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi tentang siapa yang hadir.

Masyarakat membutuhkan informasi tentang apa yang terjadi dan mengapa hal tersebut penting bagi mereka.

Jika Korem mengadakan bakti sosial, berapa orang yang menerima manfaat?

Jika ada kegiatan kesehatan, berapa masyarakat yang dilayani?

Jika ada turnamen olahraga, berapa peserta yang mengikuti?

Jika ada kegiatan penanggulangan bencana, apa yang dilakukan dan bagaimana hasilnya?

Data konkret membuat berita lebih hidup.

Kutipan Harus Dipertanggungjawabkan

Ada satu prinsip yang tidak boleh dilupakan dalam membuat berita:

Jangan pernah membuat kutipan yang tidak pernah diucapkan.

Kutipan pejabat merupakan bagian penting dari berita karena membawa nama orang yang bersangkutan.

Jika ingin merangkum pernyataan, gunakan parafrasa.

Jika menggunakan tanda kutip, pastikan substansinya benar-benar berasal dari ucapan pejabat tersebut.

Kesalahan dalam kutipan dapat menimbulkan persoalan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Cepat, Tetapi Jangan Mengorbankan Ketepatan

Media sosial mengajarkan masyarakat untuk berlomba menjadi yang pertama.

Tetapi penerangan institusi tidak boleh terjebak pada perlombaan tersebut.

Prinsip yang harus dipegang:

Cepat boleh, tetapi salah jangan.

Nama, pangkat, jabatan, tanggal, lokasi, angka, dan kutipan harus diperiksa.

Kesalahan kecil dalam berita dapat menyebar dengan sangat cepat dan sulit ditarik kembali.

Karena itu, sebelum publikasi harus ada verifikasi.

Lebih baik terlambat beberapa menit karena memeriksa fakta daripada menjadi yang pertama tetapi menyampaikan informasi yang keliru.

Penerangan Harus Humanis

Menurut saya, salah satu perkembangan penting dalam penerangan TNI adalah perlunya pendekatan yang semakin humanis.

Baca :  Perkuat Silaturahmi dan Kewaspadaan Wilayah, Babinsa Koramil 415-09/Telanaipura Aktif Jalin Komsos dengan Warga

TNI memang memiliki seragam, disiplin, hierarki, dan struktur komando. Tetapi di balik semua itu ada manusia yang bekerja untuk masyarakat.

Ketika seorang Babinsa membantu warga, sisi kemanusiaan tersebut layak diceritakan.

Ketika prajurit membantu korban bencana, perjuangan di lapangan layak disampaikan.

Ketika TNI melaksanakan pelayanan kesehatan, masyarakat yang menerima manfaat harus menjadi bagian dari cerita.

Dengan pendekatan seperti itu, berita tidak hanya berbicara tentang institusi.

Berita berbicara tentang manusia dan manfaat pengabdian.

Dari Publikasi Menuju Kepercayaan

Pada akhirnya, keberhasilan penerangan tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak berita yang terbit.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah masyarakat memperoleh informasi yang benar?

Apakah masyarakat memahami kegiatan TNI?

Apakah informasi tersebut memberikan manfaat?

Apakah kepercayaan publik terpelihara?

Karena itu, alur kerja Kapenrem idealnya bukan sekadar:

Kegiatan → Berita → Publikasi.

Tetapi:

Kegiatan → Pengumpulan fakta → Verifikasi → Analisis → Penulisan → Penyuntingan → Publikasi → Monitoring → Evaluasi.

Inilah penerangan sebagai sebuah sistem.

Penutup

Menjadi Kapenrem di era informasi bukan pekerjaan ringan.

Ia harus memahami organisasi, memahami media, memahami masyarakat, dan pada saat yang sama memahami batas kewenangan serta tanggung jawab informasi.

Pengalaman saya pernah mengemban tugas sebagai Kepala Penerangan Korem 042/Garuda Putih memberikan satu pelajaran penting: penerangan bukan hanya tentang bagaimana institusi ingin dilihat, tetapi bagaimana institusi mampu menjelaskan apa yang dikerjakannya secara jujur dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Sebab pada akhirnya, berita yang baik bukanlah berita yang paling banyak dipuji.

Berita yang baik adalah berita yang benar, jelas, proporsional, dan bermanfaat.

Dan penerangan yang baik bukanlah penerangan yang sekadar membuat institusi terlihat baik.

Penerangan yang baik adalah penerangan yang mampu membangun pemahaman dan kepercayaan melalui informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai seorang purnawirawan, saya memandang bahwa pengabdian memang tidak berhenti ketika seragam dilepas. Pengalaman selama berdinas tetap dapat menjadi bahan refleksi untuk memberikan sumbangsih pemikiran.

Karena itu, bagi generasi penerangan TNI hari ini, pesan saya sederhana:

Jadilah pengelola informasi yang jujur, wartawan internal yang disiplin terhadap fakta, mitra media yang profesional, dan staf pimpinan yang berani memberikan masukan.

Sebab di tengah derasnya arus informasi, kecepatan dapat memenangkan perhatian, tetapi kebenaranlah yang membangun kepercayaan.**

Share :

Baca Juga

Opini

Pengkhianatan yang Terulang: Dari Pengungsi Terusir Menjadi Penjajah Kejam

TNI-POLRI

Babinsa Pasir Panjang Dampingi Petani Cabai, Dukung Ketahanan Pangan Jelang Lebaran

TNI-POLRI

Danrem 042/Gapu Pimpin Rakor Karhutla di Tanjab Barat, Perkuat Sinergi Lintas Instansi

TNI-POLRI

Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Kodim 0416/Bute Bangun Sodetan Saluran Air

TNI-POLRI

Babinsa Hadiri Rakor Forum RT di Sijenjang, Dorong Sinergi untuk Pembangunan Lingkungan

TNI-POLRI

Pangdam XX/TIB Pimpin Serah Terima Jabatan Danrem 042/Gapu

TNI-POLRI

Sinergi TNI-Polri: Babinsa dan Bhabinkamtibmas Patroli ke PT Indofood, Kawal Keamanan Industri Strategis

TNI-POLRI

Pangdam XXI/Radin Inten Hadir di SMPN 5 Natar: Menyapa Siswa, Menebar Semangat Lewat Program Makan Bergizi Gratis