Lampung Timur, sriwijayadaily.com – Konflik manusia dan gajah kembali mendapat perhatian serius dari Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, S.Sos., M.Si (Han). Sabtu (24/01/2026), ia menghadiri dialog “Gerakan Bersatu Dengan Alam” di Kantor Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kecamatan Labuhan Ratu Lama, Lampung Timur. Dialog ini menjadi tindak lanjut dari tuntutan warga dalam aksi unjuk rasa terkait konflik satwa dilindungi tersebut.
Dalam sambutannya, Mayjen Kristomei menekankan bahwa penanganan konflik gajah dan manusia tidak bisa dilakukan parsial. “Penanganan konflik memerlukan kolaborasi antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. Sekitar 34 persen dari 125.000 hektare TNWK sudah mengalami kerusakan. Dialog ini diharapkan menghasilkan langkah strategis jangka pendek, menengah, dan panjang,” ujarnya.
Pangdam juga menyinggung perhatian khusus Presiden RI Prabowo Subianto terhadap TNWK, termasuk pembangunan pembatas tunggal antara hutan dan permukiman, serta penambahan tenaga pengamanan dengan melibatkan masyarakat desa penyangga.
Sementara itu, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menekankan pentingnya keseimbangan hidup masyarakat dengan alam. “Sekitar 800.000 jiwa hidup berbatasan langsung dengan TNWK. Pemerintah berkomitmen melindungi warga sekaligus melakukan konservasi terhadap 34 persen kawasan TNWK yang rusak,” tegasnya.
Hadir dalam dialog tersebut Ketua DPRD Lampung, Bupati Lampung Timur, Kabinda Lampung, Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Lampung, jajaran Pangdam, para Asisten Kasdam XXI/RI, Kepala Balai TNWK, unsur Forkompinda, camat, kades, serta tokoh masyarakat desa penyangga.
Dialog ini diharapkan menjadi awal tercapainya solusi yang konkret, kolaboratif, dan berkelanjutan bagi konflik yang telah menimbulkan kerugian bagi masyarakat sekitar TNWK. (Penremgatam)










