MENJAGA MARWAH PERS, MERAWAT DEMOKRASI Yudha Kurnia Putra Islamy Tunjukkan Kepedulian, Dukung Semarak HUT RI ke-81 di RT 38 Atalanta PWI Provinsi Jambi Gelar Yasinan dan Tahlilan Tiga Hari Wafatnya Heri Farmansyah Babinsa Koramil Sebapo Pererat Kedekatan dengan Warga Desa Ujung Tanjung Melalui Komsos Babinsa Koramil Pasar Pererat Silaturahmi dengan Warga Sungai Asam Melalui Komsos

Home / Daerah / Opini

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:23 WIB

MENJAGA MARWAH PERS, MERAWAT DEMOKRASI

Menata Masa Depan PWI di Era Digital

Oleh: Letkol (Purn) Firdaus

Anggota Dewan Pakar PWI Provinsi Jambi

Pelantikan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Muaro Jambi masa bakti 2026–2029, Selasa (11/8/2026), bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi. Pelantikan yang berlangsung di Aula Rumah Dinas Bupati Muaro Jambi itu merupakan momentum untuk meneguhkan kembali peran pers sebagai penjaga ruang publik, pengawal demokrasi, sekaligus mitra kritis pemerintah dalam pembangunan daerah.

Pengurus PWI Kabupaten Muaro Jambi masa bakti 2026–2029 resmi dilantik oleh Ketua PWI Provinsi Jambi, H. R. Ridwan Agus, Dpt., dan dihadiri Bupati Muaro Jambi Bambang Bayu Suseno. Dalam kepengurusan baru tersebut, Mustopa Burhan kembali dipercaya memimpin PWI Kabupaten Muaro Jambi untuk periode kedua.

Prosesi pelantikan ditandai dengan pembacaan surat keputusan oleh Sekretaris PWI Provinsi Jambi, Drs. Arwani, dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara dan penyematan atribut PWI oleh Ketua PWI Provinsi Jambi.

Acara juga diisi orasi ilmiah oleh Dr. Alfarezi serta dihadiri Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Muaro Jambi, Faisal, unsur Forkopimda, para kepala OPD, ketua organisasi kewartawanan, dan rombongan PWI Sarolangun. Pelantikan kemudian ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama.

Namun, di balik seluruh rangkaian seremoni tersebut, terdapat amanah yang jauh lebih besar: bagaimana membawa PWI Muaro Jambi menjadi organisasi profesi yang semakin profesional, solid, mandiri, adaptif terhadap perubahan zaman, serta mampu menjaga kepercayaan masyarakat.

Sebagai Anggota Dewan Pakar PWI Provinsi Jambi, saya melihat pelantikan ini bukan sebagai garis akhir, melainkan titik awal sebuah perjalanan pengabdian.

Setelah prosesi pelantikan selesai, berita acara ditandatangani, atribut disematkan, dan para undangan kembali ke tempat masing-masing, pekerjaan baru justru dimulai.

Atribut organisasi yang disematkan bukan sekadar tanda jabatan. Ia adalah simbol tanggung jawab, kepercayaan, dan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada anggota PWI, tetapi juga kepada masyarakat dan dunia pers.

Di balik jabatan ketua dan jajaran pengurus terdapat harapan banyak pihak.

Ada harapan wartawan agar organisasi mampu menjadi tempat berlindung dan bertumbuh. Ada harapan masyarakat agar pers tetap menyampaikan informasi yang benar, berimbang, dan mencerdaskan. Ada pula harapan pemerintah agar media dapat menjadi mitra kritis dalam mengawal pembangunan.

Karena itu, kepemimpinan PWI Muaro Jambi periode 2026–2029 harus mampu menerjemahkan harapan tersebut menjadi program dan kerja nyata.

Ketua dan pengurus baru harus membuktikan bahwa PWI mampu hadir sebagai organisasi profesi yang berwibawa, profesional, mandiri, dan bermanfaat.

Berwibawa bukan karena kedudukan, melainkan karena integritas. Profesional bukan sekadar karena memiliki kartu pers atau mengikuti UKW, tetapi karena mampu menjalankan tugas jurnalistik berdasarkan kode etik dan kepentingan publik. Mandiri bukan berarti berjalan sendiri, melainkan mampu mengambil sikap tanpa kehilangan independensi. Dan bermanfaat bukan hanya bagi anggota, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Dalam sambutannya, Ketua PWI Provinsi Jambi, H. R. Ridwan Agus, menyampaikan pesan agar pengurus PWI Muaro Jambi menjaga marwah organisasi, meningkatkan profesionalisme, serta menjadi wadah pemersatu wartawan di Muaro Jambi.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan mengajak wartawan menjadi garda terdepan dalam melawan berita bohong.

Pesan tersebut sangat relevan dengan tantangan pers saat ini.

Wartawan tidak lagi hanya berhadapan dengan kompetisi antarmedia. Mereka juga berhadapan dengan arus informasi yang sangat deras dari media sosial, platform digital, dan berbagai sumber informasi yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Baca :  Babinsa Lingkar Selatan Dukung Peningkatan Kualitas Pendidikan Dasar

Dalam situasi seperti itu, wartawan harus menjadi penyaring informasi.

Masyarakat tidak membutuhkan media yang hanya cepat. Masyarakat membutuhkan media yang dapat dipercaya.

Kecepatan adalah keunggulan teknologi, tetapi kebenaran adalah keunggulan jurnalistik.

Karena itu, UKW harus dipandang sebagai bagian dari proses membangun profesionalisme, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif. Kompetensi wartawan harus terus diperbarui seiring perubahan zaman.

Dunia pers telah berubah secara fundamental. Masyarakat kini memperoleh informasi melalui portal berita, media sosial, video pendek, podcast, dan berbagai platform digital. Sebuah peristiwa dapat diketahui publik hanya dalam hitungan detik.

Perubahan tersebut memberikan peluang besar bagi pers untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas. Namun, di balik peluang itu terdapat ancaman.

Informasi yang belum diverifikasi dapat menyebar dengan sangat cepat. Foto dan video dapat dimanipulasi. Judul sensasional dapat menarik perhatian meskipun isinya tidak sesuai fakta. Bahkan, teknologi kecerdasan buatan memungkinkan pembuatan teks, suara, gambar, dan video yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan.

Karena itu, semakin maju teknologi, semakin besar pula tuntutan terhadap integritas wartawan.

Di tengah banjir informasi, pers profesional harus menjadi sumber rujukan yang dapat dipercaya.

Organisasi PWI harus menjadi rumah bersama bagi wartawan. Rumah untuk belajar, berdiskusi, meningkatkan kompetensi, memperjuangkan kepentingan profesi, dan menjaga etika jurnalistik.

Kepengurusan baru PWI Muaro Jambi perlu memperkuat konsolidasi internal. Komunikasi antara pengurus dan anggota harus dibangun secara terbuka.

Perbedaan pandangan tidak perlu menjadi sumber perpecahan.

Organisasi yang sehat bukan organisasi yang seluruh anggotanya selalu berpikir sama. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan.

Karena itu, kepemimpinan Mustopa Burhan pada periode kedua memiliki tantangan sekaligus peluang.

Pengalaman periode pertama tentu menjadi modal penting. Namun, periode kedua juga harus membawa energi baru, inovasi baru, dan target yang lebih terukur.

PWI Kabupaten Muaro Jambi tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari keluarga besar PWI Provinsi Jambi.

Karena itu, hubungan antara PWI Provinsi dan PWI Kabupaten/Kota perlu dibangun secara harmonis dan berkelanjutan. Hubungan tersebut jangan hanya muncul pada saat pelantikan, konferensi, rapat kerja, atau agenda organisasi lainnya.

PWI Provinsi memiliki peran strategis dalam pembinaan, koordinasi, peningkatan kapasitas, dan penguatan kelembagaan. Sementara itu, PWI Kabupaten/Kota merupakan ujung tombak yang langsung berhadapan dengan dinamika kehidupan pers di daerah.

PWI Provinsi membutuhkan kekuatan PWI Kabupaten/Kota. Sebaliknya, PWI Kabupaten/Kota membutuhkan dukungan dan pembinaan PWI Provinsi.

Karena itu, komunikasi rutin perlu dibangun. Forum bersama dapat digunakan untuk mengevaluasi program, membahas persoalan wartawan, menyusun pelatihan, meningkatkan kompetensi, memperkuat perlindungan profesi, serta mengembangkan program kesejahteraan anggota.

PWI Kabupaten/Kota juga perlu saling belajar. Pengalaman Muaro Jambi dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain. Demikian pula, pengalaman daerah lain dapat menjadi inspirasi bagi Muaro Jambi.

Dengan demikian, seluruh PWI Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi dapat tumbuh dalam satu semangat kebersamaan.

Bupati Muaro Jambi Bambang Bayu Suseno dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada kepengurusan baru PWI Muaro Jambi. Ia berharap PWI dapat menjadi mitra strategis dan kritis pemerintah daerah dalam membangun Muaro Jambi.

Pernyataan tersebut penting karena hubungan pers dengan pemerintah memang harus berada dalam posisi yang sehat.

Pemerintah membutuhkan media yang berimbang dan mencerdaskan. Sebaliknya, media membutuhkan keterbukaan pemerintah agar dapat menjalankan fungsi jurnalistik dengan baik.

Baca :  Sambut Idul Adha 1447 H, Warga LDII Tambaksari Kompak Gotong Royong Siapkan Lokasi Kurban

Bupati bahkan membuka ruang bagi media untuk memberikan kritik berdasarkan data dan melakukan kontrol terhadap pemerintah daerah.

Sikap semacam ini perlu dipelihara dalam kehidupan demokrasi.

Pers bukan humas pemerintah. Tetapi pers juga bukan musuh pemerintah.

Pers adalah mitra kritis masyarakat sekaligus pengawas kekuasaan.

Ketika pemerintah berhasil menjalankan program pembangunan, media dapat memberikan apresiasi. Ketika terdapat kebijakan yang perlu dikritisi, media harus berani menyampaikannya.

Namun, kritik harus berdasarkan fakta.

Independensi bukan berarti selalu berseberangan dengan pemerintah. Independensi berarti mampu mengambil sikap berdasarkan fakta, kepentingan publik, dan etika jurnalistik.

Bupati juga menekankan pentingnya peran wartawan dalam menyukseskan program pembangunan daerah, mulai dari infrastruktur, pendidikan, hingga kesehatan.

Pernyataan tersebut harus dimaknai secara kritis.

Pers bukan hanya bertugas memberitakan keberhasilan pembangunan, tetapi juga harus melihat apakah pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Jika infrastruktur dibangun, bagaimana kualitasnya?

Jika program pendidikan dilaksanakan, apakah manfaatnya dirasakan masyarakat?

Jika pelayanan kesehatan diperbaiki, apakah masyarakat mendapatkan pelayanan yang layak?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan ruang kerja jurnalistik.

Wartawan harus turun ke lapangan, mendengar suara masyarakat, melakukan verifikasi, dan menyajikan informasi secara objektif.

Dengan demikian, pers dapat menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat.

Ketua PWI Muaro Jambi Mustopa Burhan menyatakan komitmennya untuk menjalankan roda organisasi secara amanah.

Program prioritas yang disiapkan antara lain konsolidasi anggota, pelatihan jurnalistik, dan diskusi publik bersama pemerintah daerah.

Program tersebut merupakan langkah awal yang patut diapresiasi.

Namun, yang lebih penting adalah konsistensi pelaksanaannya.

Konsolidasi harus menghasilkan organisasi yang lebih solid. Pelatihan harus menghasilkan wartawan yang lebih kompeten. Diskusi publik harus menghasilkan gagasan dan solusi bagi masyarakat.

Program kerja harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas.

Kepemimpinan tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari perubahan yang dihasilkan.

Di tengah persaingan media digital, etika jurnalistik harus menjadi fondasi.

Judul sensasional mungkin menghasilkan banyak pembaca, tetapi tidak otomatis menghasilkan kepercayaan.

Wartawan harus menyadari bahwa setiap berita memiliki konsekuensi.

Satu berita yang keliru dapat merusak nama baik seseorang. Satu informasi palsu dapat menimbulkan keresahan. Sebaliknya, satu karya jurnalistik yang berkualitas dapat mendorong perubahan kebijakan dan memperbaiki kehidupan masyarakat.

Karena itu, prinsip verifikasi, keberimbangan, independensi, dan kepentingan publik harus tetap dijaga.

Kritik boleh tajam, tetapi harus berbasis fakta. Pers boleh kritis, tetapi tetap beretika. Kebebasan harus selalu disertai tanggung jawab.

Tantangan berikutnya adalah meningkatkan kompetensi.

Wartawan masa kini tidak cukup hanya mampu menulis berita. Mereka perlu memahami jurnalistik digital, fotografi, videografi, jurnalistik data, investigasi, verifikasi informasi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan secara etis.

PWI Muaro Jambi perlu menjadi pusat pembelajaran.

Wartawan senior dapat berbagi pengalaman. Wartawan muda membawa energi dan kemampuan teknologi.

Keduanya harus berjalan bersama.

Regenerasi bukan berarti meninggalkan generasi lama. Regenerasi berarti memastikan nilai-nilai baik organisasi dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Profesionalisme juga tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan.

PWI perlu memperjuangkan agar wartawan dapat bekerja dalam lingkungan yang layak dan profesional.

Ketika wartawan menghadapi persoalan dalam menjalankan tugas jurnalistik, organisasi harus mampu memberikan pendampingan sesuai mekanisme yang berlaku.

Namun, perlindungan harus berjalan bersama tanggung jawab.

Organisasi tidak boleh membela kesalahan hanya karena seseorang merupakan anggota.

Wartawan harus dilindungi ketika bekerja secara profesional, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap karya jurnalistiknya.

Baca :  Idul Adha 2026, LDII Jambi Tebar Kurban 527 Sapi, 324 Kambing, dan 4 Kerbau untuk Masyarakat

Kepengurusan baru PWI Muaro Jambi perlu menyusun peta jalan organisasi selama masa bakti 2026–2029.

Sedikitnya terdapat lima agenda strategis yang dapat menjadi prioritas: penguatan organisasi, peningkatan kompetensi, perlindungan profesi, kesejahteraan anggota, dan penguatan hubungan dengan masyarakat.

Selain itu, transformasi digital harus menjadi bagian dari strategi organisasi.

Kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, tetapi tidak boleh menggantikan proses jurnalistik.

Teknologi harus digunakan untuk memperkuat kualitas, bukan menjadi jalan pintas untuk mengabaikan verifikasi.

Pada akhirnya, pelantikan di Aula Rumah Dinas Bupati Muaro Jambi bukan sekadar acara formal.

Ia adalah pelantikan yang mengandung harapan.

Harapan anggota terhadap organisasi. Harapan masyarakat terhadap pers. Harapan pemerintah terhadap media yang profesional dan kritis. Dan harapan dunia jurnalistik terhadap masa depan PWI.

Setelah prosesi selesai, pekerjaan baru dimulai.

Atribut organisasi yang disematkan bukan sekadar tanda jabatan. Ia adalah simbol tanggung jawab, kepercayaan, dan amanah.

Ketua dan pengurus baru harus membuktikan bahwa PWI mampu hadir sebagai organisasi profesi yang berwibawa, profesional, mandiri, dan bermanfaat.

Berwibawa karena integritas.

Profesional karena kompetensi.

Mandiri karena mampu menjaga independensi.

Dan bermanfaat karena kehadirannya dirasakan anggota serta masyarakat.

Marwah organisasi sesungguhnya tidak hanya berada di tangan ketua. Marwah organisasi berada di pundak seluruh anggota.

Setiap wartawan membawa nama PWI ketika menjalankan tugas di lapangan.

Karena itu, pelantikan harus menjadi janji untuk bekerja lebih baik.

Kini atribut telah disematkan. Amanah telah diterima. Seremoni telah selesai. Saatnya bekerja.

Pada akhirnya, masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh institusi politik. Pers memiliki peran penting dalam menjaga kualitas ruang publik.

Demokrasi membutuhkan informasi yang benar.

Masyarakat membutuhkan ruang untuk menyampaikan pendapat.

Pemerintah membutuhkan kontrol.

Dan kekuasaan membutuhkan kritik.

Semua itu membutuhkan pers yang independen, profesional, dan bertanggung jawab.

Karena itu, menjaga marwah pers bukan hanya menjaga nama baik PWI. Lebih jauh, hal itu merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas demokrasi.

Dari Muaro Jambi, pesan itu dapat dimulai.

Bahwa pers daerah memiliki posisi penting dalam kehidupan demokrasi Indonesia.

Bahwa wartawan daerah memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kualitas informasi.

Dan bahwa organisasi profesi harus mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Sebagai Anggota Dewan Pakar PWI Provinsi Jambi, saya berharap kepengurusan baru PWI Kabupaten Muaro Jambi mampu menjadi bagian dari gerakan memperkuat pers Indonesia dari daerah.

Bangun organisasi dengan kebersamaan.

Tingkatkan kompetensi dengan pembelajaran.

Perkuat hubungan dengan PWI Provinsi Jambi dan PWI Kabupaten/Kota lainnya.

Bangun kemitraan kritis dengan pemerintah.

Hadirkan karya jurnalistik yang berpihak kepada kepentingan publik.

Berikan ruang bagi generasi muda.

Dan jangan pernah lelah menjaga etika.

Sebab pers yang kuat bukan pers yang paling keras suaranya, melainkan pers yang paling dipercaya karena integritasnya.

Ketika wartawan menjaga profesionalisme, ia sedang menjaga nama baik organisasinya.

Ketika PWI menjaga marwahnya, ia sedang menjaga kepercayaan publik.

Dan ketika pers mampu menjaga kepercayaan publik, sesungguhnya pers sedang ikut merawat demokrasi Indonesia.

Selamat kepada Mustopa Burhan dan seluruh Pengurus PWI Kabupaten Muaro Jambi masa bakti 2026–2029.

Selamat mengemban amanah.

Semoga kepengurusan baru mampu membawa PWI Muaro Jambi semakin solid, profesional, mandiri, adaptif, dan bermartabat.

Jaga pers. Jaga etika. Jaga independensi. Jaga kepercayaan publik.

Share :

Baca Juga

Opini

Langkah Menuju Neraka Dunia: Kunjungan Menlu Iran ke Moskow Picu Konsolidasi Blok Timur Hadapi AS – Perang Dunia Ketiga Semakin Nyata

Daerah

Satu Unit Rumah Warga Desa Pematang Gajah Ludes Tebakar

Opini

Lahir dari Kehilangan, Tumbuh dalam Pengabdian

Opini

Ketika Kritik Disebut “Antek Asing” dan “Londo Ireng”

Daerah

RSUD Siti Fatimah Miliki Unit Kesehatan Hemodialisa dan Operasi Bedah Thoraks Kardiovaskuler

Opini

Penyamaan Sawit dengan Hutan Alami: Analisis Kritis terhadap Fungsi Ekologis dan Dampak Lingkungan

Opini

Pendekatan Hukum Islam dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba: Studi Kasus di Indonesia

Daerah

Minimalisir Dampak Lingkungan, Babinsa Koramil Telanaipura Sambut Program Pakar Kasih Bersama Warga