Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Babinsa Beliung Hadiri Ceramah Agama di Masjid Al Ikhlas Babinsa Koramil Mersam Gotong Royong Bantu Pembangunan Rumah Warga Safari Dakwah di Prabumulih, Ustaz Jarir dan Ustaz Rofiq Fatah Ajak Jamaah Perkuat Bekal Akhirat Irwansyah Kembali Pimpin PWI Kota Jambi, Tegaskan Komitmen pada Etika dan Profesionalisme Pers Ketum PWI Pusat Ajak Keluarga Besar PWI Provinsi Jambi Jaga Kekompakan

Home / Opini

Senin, 28 Juli 2025 - 07:48 WIB

Teori Bohlam Listrik: Sebuah Cermin bagi Pejabat Publik tentang Arti Jabatan, Kehormatan, dan Kehidupan Pasca Kekuasaan

Di sebuah kompleks perumahan yang asri dan tenang, Bapak Santoso—mantan Komisaris Polisi yang baru saja memasuki masa pensiun—tinggal di rumah pribadinya setelah bertahun-tahun hidup di rumah dinas yang megah. Dengan segala kebanggaan atas pangkat, kewenangan, dan prestasi yang diraihnya selama bertugas, Santoso kerap berjalan-jalan di taman kompleks setiap malam. Namun, sikapnya mencerminkan jarak yang ia ciptakan sendiri. Ia tidak pernah menyapa tetangganya, merasa bahwa statusnya membuatnya berbeda dan berada “di atas” mereka.

Pada suatu sore, ketika Santoso duduk di bangku taman, seorang pria tua yang ramah—Bapak Hadi—duduk di sampingnya dan memulai percakapan ringan. Namun, Santoso tidak begitu tertarik untuk mendengar. Sebaliknya, ia terus membicarakan dirinya sendiri: pangkatnya, kewenangannya, dan betapa ia memilih tinggal di kompleks itu karena memiliki properti tersebut, bukan karena kebutuhan.

Hari demi hari, rutinitas itu berulang. Santoso selalu berbicara mengenai kejayaannya di masa lalu, sementara Hadi hanya mendengarkan dengan tenang, tidak pernah menyela atau memberikan tanggapan yang berlebihan. Hingga pada suatu malam, suasana percakapan berubah.

Baca :  Babinsa Gelar Komsos di Olak Besar, Jalin Komunikasi dengan Warga

Dengan nada yang lembut, Hadi berkata,

“Pak Santoso, tahukah Bapak bahwa bohlam listrik hanya bernilai ketika menyala? Setelah padam, tidak ada lagi bedanya apakah bohlam itu 10 watt atau 100 watt. Semuanya sama—sunyi, tak bernyawa, dan terlupakan. Saya sudah tinggal di sini selama lima tahun, dan belum pernah saya menceritakan kepada siapa pun bahwa saya pernah menjabat sebagai Anggota DPR selama dua periode.”

Ucapan itu membuat Santoso terdiam.

Hadi kemudian menunjuk beberapa orang di taman itu:

“Lihat pria yang duduk di pojok sana? Itu Pak Rahman, pensiunan Direktur Utama PT KAI. Yang berbincang dengan beliau adalah Pak Surya, mantan Letnan Jenderal TNI AD. Dan pria yang berjalan santai dengan pakaian putih itu Pak Prasetyo, mantan Kepala Lembaga Antariksa Nasional. Tak satu pun dari mereka merasa perlu membicarakan jabatan mereka di masa lalu. Mereka sadar, jabatan hanyalah sementara.”

Baca :  Lebaran di Tengah Perbedaan: Memaknai Kedewasaan dan Persatuan

Hadi melanjutkan dengan penuh kebijaksanaan:

“Jabatan dan posisi hanyalah atribut duniawi yang akan hilang seiring waktu. Jika kita membiarkan jabatan mendefinisikan diri kita, maka saat jabatan itu hilang, kita akan kehilangan arah. Sama halnya seperti permainan catur—raja, menteri, kuda, bahkan pion—semua dikembalikan ke kotak yang sama setelah permainan selesai. Tidak ada lagi perbedaan.”

Hadi kemudian tersenyum, menambahkan pesan yang menusuk kesadaran:

“Seberapa banyak pun medali, sertifikat, dan penghargaan yang kita kumpulkan semasa hidup, pada akhirnya, setiap manusia hanya menerima satu lembar terakhir: Sertifikat Kematian. Karena itu, jangan pernah berpegang teguh pada status yang sudah berlalu. Yang lebih penting adalah apa yang kita wariskan: kebaikan, keteladanan, dan makna hidup bagi orang lain.”

Baca :  Babinsa Rajawali Hadiri Pelepasan Siswa SMPN 10 Kota Jambi, Berikan Motivasi Raih Masa Depan

Kisah sederhana ini menjadi refleksi mendalam bagi para pejabat publik maupun siapa saja yang pernah memegang kekuasaan. Kekuasaan, jabatan, dan kehormatan hanyalah titipan sementara yang harus digunakan untuk mengabdi, bukan untuk disombongkan. Seorang pemimpin sejati akan dikenang bukan karena gelarnya, tetapi karena kerendahan hati, integritas, dan pengabdiannya bagi masyarakat.

Pelajaran ini mengingatkan kita semua, terutama para pemegang jabatan, agar menyadari bahwa masa kejayaan akan berlalu. Dunia akan selalu tunduk pada “matahari terbit”, bukan “matahari terbenam”. Kehormatan sejati bukanlah ketika orang lain menghormati kita karena jabatan, tetapi ketika mereka tetap menghargai kita meski jabatan itu telah tiada.

“Teori Bohlam Listrik” bukan sekadar kisah ringan, tetapi sebuah perenungan tajam tentang kefanaan kekuasaan, pentingnya kerendahan hati, serta arti sejati dari sebuah kehidupan yang bermanfaat.

Oleh : Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.

Share :

Baca Juga

Opini

Satgas TMMD Rehabilitasi Madrasah di Desa Teluk Kuali, Bantu Akses Pendidikan Berkualitas

Opini

Panen Raya Oligarki: Saatnya Negara Kembali ke Pangkuan Rakyat..!

Opini

Puasa dan Ketajaman Fokus serta Intuisi: Rahasia Pencerahan Para Nabi dan Ilmuwan

Nasional

ATOM: Viralitas yang Mengguncang Peta Politik Indonesia Menuju Pilpres 2029

Opini

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Refleksi Hari Guru Nasional 2024

Daerah

Selamat HUT Kota Sejuk Yang Penuh Tumpukan Sampah

Opini

Ketika Langit Tidak Lagi Milik Siapa-Siapa

Opini

Dahulukan “BerBudi”, Sejahtera dan Bahagia Akan Mengikuti