Jembatan Beton Garuda Tahap III–IV Difungsikan, Akses Pendidikan di Senyerang Membaik Danrem 043/Gatam Hadiri Tradisi Satuan dan Sertijab Pejabat Kodam XXI/RI Babinsa Kasang Jaya Intensifkan Komsos, Pantau Situasi Wilayah Babinsa Bahar Utara Anjangsana ke Warga, Pantau Pembangunan Desa Danramil Jambi Selatan Jenguk Anggota Sakit di RS DKT, Tegaskan Solidaritas Internal

Home / Nasional

Kamis, 2 Juni 2022 - 21:55 WIB

Situ Bagendit, Riwayatmu Kini

SRIWIJAYADAILY.CO.ID – Selain terkenal dengan sebutan Kota Intan, Garut juga dikenal sebagai Swiss van Java, Garut Mooi (Garut yang indah), Kota Dodol, Garut Pangirutan, dan lain-lain. Daerah tujuan penting wisata di Jawa Barat itu juga punya kawasan wisata air yang disebut Situ Bagendit.

Julukan Kota Intan sendiri disematkan oleh Presiden Soekarno (yang akrab dipanggil Bung Karno) yang berkunjung ke Garut pada 1960-an. Intan merupakan kepanjangan dari indah, tertib, aman, dan nyaman. Dapat juga diartikan bahwa Garut pada waktu itu bagaikan intan yang memancarkan cahaya gemerlapan. Julukan tersebut sampai saat ini masih terkenal ke mana-mana.

Sebagai salah satu tujuan wisata di Jawa Barat, Garut sangat dikenal. Di masa kini, Garut juga punya satu lagi andalan, bahkan bisa dibilang ikon wisata Garut, yakni Situ Bagendit. Itulah situ yang telah selesai ditata ulang oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Barat Direktorat Jenderal Cipta Karya.

Revitalisasi Situ Bagendit itu merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Joko Widodo ke Kabupaten Garut pada 26 april 2019 silam.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, dalam keterangan tertulis, Kamis (2/7/2022) menjelaskan ketersediaan infrastruktur yang memadai akan mempercepat pengembangan destinasi wisata.

“Untuk pariwisata, pertama yang harus diperbaiki infrastrukturnya, kemudian amenities dan event baru promosi besar-besaran. Kalau hal itu tidak siap, wisatawan datang sekali dan tidak akan kembali lagi. Itu yang harus kita jaga betul,” kata Menteri Basuki.

Baca :  PB IPSI dan PERSINAS ASAD Bagikan 1.000 Takjil, Tegaskan Peran Sosial Pesilat

Penataan Situ Bagendit dimulai pada November 2020 dan selesai pada 2022. Anggaran penataan kawasan bersumber dari APBN Kementerian PUPR sebesar Rp87,73 miliar yang dilaksanakan secara Multi Years Contract (MYC) 2020-2021 dengan Kontraktor Pelaksana PT Adhi Karya.

Penataan Situ Bagendit dilakukan di atas lahan seluas 2,8 hektare yang terbagi dalam enam zona. Zona 1 untuk wisata publik, Zona 2 area kuliner, Zona 3 area green school, Zona 4 area komersil, Zona 5 area water sport dan Zona 6 area masjid serta konservasi. Ruang lingkup pekerjaan di antaranya meliputi pembangunan jogging track sepanjang 6 km, taman teratai, taman bermain, pusat kuliner, restoran, masjid terapung, dan jembatan swafoto.

Kepala BPPW Jawa Barat Oscar Siagian mengatakan revitalisasi Situ Bagendit merupakan kolaborasi antara Kementerian PUPR, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Kementerian Keuangan, Kementerian Perhubungan, Pemprov Jawa Barat dan Pemkab Garut.

“Dalam penataan kawasan itu, Kementerian PUPR juga melibatkan Ditjen Sumber Daya Air melalui Balai Besar WIlayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung,” ucap Oscar.

Oscar menambahkan BPPW Jawa Barat melakukan pembangunan di atas permukaan, yaitu penataan kawasan. Sedangkan, BBWS Cimanuk Cisanggarung melaksanakan pembangunan di badan air dan di batas sempadan guna menjaga keberlanjutan fungsi situ terhadap pelayanan SDA. Sementara Pemkab Garut sendiri berperan dalam menertibkan keramba apung yang menjamur di Situ Bagendit.

Baca :  ISPO Didorong Jadi Standar Global, Sawit Indonesia Tembus USD 36,4 Miliar

Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung Ismail Widadi mengataan Situ Bagendit sebagai kawasan lindung yang dimanfaatkan pula sebagai kawasan wisata fungsinya harus berjalan beriringan antara fungsi untuk memelihara dan menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi ekonomi.

“BBWS Cimanuk Cisanggarung melakukan perlindungan dan pelestarian sebagai bentuk kegiatan konservasi melalui pengelolaan sarana dan prasarana di badan air di batas sempadan guna menjaga keberlanjutan fungsi situ terhadap pelayanan SDA,” ungkap Ismail.

Penataan Kawasan Situ Bagendit diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dan kembali menggiatkan pariwisata di Kabupaten Garut.

Kawasan Situ Bagendit sudah dibuka untuk masyarakat umum pada libur Lebaran 2022 lalu dan mendapatkan antusiasme yang besar dari masyarakat. Berdasarkan data Pemkab Garut, pada hari kedua libur Lebaran pengunjung Situ Bagendit mencapai 10 ribu wisatawan. Harga tiket dipatok Rp10 ribu untuk dewasa dan Rp5 ribu untuk anak-anak.

Legenda Si Kikir

Menurut warga Garut, Situ Bagendit terdiri dari dua kata, yaitu “Situ” yang berarti danau dan “Bagendit” yang berasal dari nama Nyai Endit.

Legenda itu, menceritakan sosok wanita yang memiliki kekayaan yang melimpah, tetapi sangat kikir dan tidak mau menolong sesama.

Konon, legenda itu menceritakan asal-usul Situ Bagendit, yakni destinasi wisata berupa danau di Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, yang banyak dikunjungi hingga kini.

Alkisah, di sebelah utara Kota Garut terdapat desa yang amat subur. Di tempat itulah hidup seorang janda kaya raya bernama Nyai Endit yang ditakuti oleh warga.

Baca :  Babinsa Ulu Gedong Ajak Anak-anak Bermain Edukatif, Bangun Karakter Sejak Dini

Warga sangat takut, karena dengan kekayaannya itu Nyai Endit bisa berbuat sesuai kehendak hatinya.

Di sisi lain, para penduduk juga bergantung dengan Nyai Endit untuk mendapat pinjaman uang, meski di setiap pinjaman akan dikenakan bunga yang tinggi.

Nyai Endit memiliki pengawal atau tukang pukul yang ditugaskan untuk menagih utang-utang yang dipinjam warga.

Apabila terlambat membayar atau tidak mampu melunasi utang berikut bunganya, Nyai Endit akan menyuruh tukang pukulnya untuk memberi hukuman.

Salah satu sumber kekayaan Nyai Endit adalah tanah garapan yang luas dengan hasil melimpah apabila waktu panen tiba.

Pendek cerita, suatu saat musim paceklik tiba. Saat itu datanglah seorang pengemis. Dia menegur kelakuan Nyai Endit.

Lalu dia menantang untuk mencabut ranting. Nyai Endit gagal mencabut ranting tersebut, namun si pengemis dengan mudah mencabutnya.

Dari lubang di tanah bekas ranting itulah keluar air yang sangat deras. Saat itu pula sang pengemis menghilang.

Di saat yang sama, hujan turun dengan sangat deras diselingi guncangan gempa bumi yang seakan-akan menelan desa itu.

Dengan sekejap, desa yang didiami oleh Nyai Endit terendam banjir dan berubah menjadi danau, yang kemudian dikenal dengan nama Situ Bagendit.

Konon di danau itu hidup lintah raksasa yang diyakini sebagai jelmaan Nyai Endit.(*)

Share :

Baca Juga

Nasional

Kasad Hadiri Pameran Pertahanan Internasional di Vietnam

Nasional

Pentingnya Disiplin dan Netralitas TNI Dalam Pilkada 2024

Nasional

The easiest method to Contact Oriental Women

Nasional

Peduli Lingkungan, Kodim Tanjab Gelar Baksos Wilayah 3T dan Kumuh Serta Pengobatan Massal

Nasional

Dukung Program Pemerintah ; TNI AD Optimalkan Program Ketahanan Pangan dan Ketersediaan Air

Nasional

Panglima TNI Cek Kesiapan Pasukan Elit TNI AL Di Cilandak

Nasional

Wujudkan Anak Sehat, Ini Aksi Satgas Yonif 511/DY Di Merauke

Nasional

Jaga Kerukunan Antar Umat Beragama, Babinsa Koramil Tor Jalin Komunikasi Bersama Tokoh Agama