Jambi, SRIWIJAYADAILY — Denting sejarah kembali bergema di Tugu Juang Simpang Tiga Sipin, Kota Jambi, Senin (29/12/2025) sore. Di tempat inilah, 77 tahun silam, rakyat dan pejuang Jambi mempertaruhkan nyawa menghadapi agresi militer Belanda. Pertempuran Simpang Tiga Sipin pada 29 Desember 1948 bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan pengingat bahwa kemerdekaan dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Gubernur Jambi Al Haris, yang bertindak sebagai inspektur upacara Peringatan Hari Pertempuran Simpang Tiga Sipin, menegaskan bahwa peristiwa heroik tersebut menjadi simbol keberanian rakyat Jambi—baik pejuang bersenjata maupun masyarakat sipil—dalam mempertahankan kehormatan daerah dan bangsa.
“Perjuangan itu dibayar mahal. Banyak pejuang dan rakyat sipil gugur. Hari ini kita hidup dari hasil pengorbanan mereka,” ujar Al Haris dalam amanatnya di hadapan para veteran, keluarga pejuang, pelajar, serta unsur TNI-Polri.
Upacara yang mengusung tema “Menapak Jejak Pejuang” itu berlangsung khidmat. Lagu Indonesia Raya mengawali rangkaian kegiatan, dilanjutkan dengan peletakan karangan bunga, mengheningkan cipta, doa bersama, serta peninjauan stan pameran foto dan senjata perjuangan. Sejumlah pelaku UMKM turut memeriahkan kegiatan sebagai simbol keberlanjutan perjuangan dalam bentuk ekonomi rakyat.
Menurut Al Haris, tantangan generasi masa kini berbeda dengan masa perjuangan fisik. Namun, esensi perjuangan tetap sama: menjaga persatuan, membangun daerah, dan mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata.
“Kita memperingati bukan hanya untuk mengenang, tetapi untuk menumbuhkan kembali semangat juang itu di hati kita masing-masing,” katanya.
Peringatan ini juga menjadi momentum penting bagi Persatuan Purnawirawan TNI/POLRI dan Warakawuri Republik Indonesia (PEPABRI) Provinsi Jambi untuk menegaskan perannya sebagai penjaga nilai-nilai kejuangan. Ketua DPD PEPABRI Provinsi Jambi Kolonel (Purn) Bunadi menyampaikan bahwa peringatan Pertempuran Simpang Tiga Sipin merupakan bagian dari tanggung jawab moral PEPABRI dalam merawat ingatan kolektif bangsa.
“Sejarah perjuangan daerah tidak boleh putus di satu generasi. Tugas kami adalah memastikan nilai pengorbanan para pejuang tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.
Upacara peringatan diikuti oleh unsur TNI dan Polri, para veteran dan anggota PEPABRI, organisasi keluarga besar TNI/POLRI seperti PPM dan FKPPI, anak-anak pejuang, pelajar, tokoh masyarakat, serta jajaran Pemerintah Provinsi dan Kota Jambi.
Di tengah derasnya arus zaman, Pertempuran Simpang Tiga Sipin kembali mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan warisan gratis. Ia adalah hasil keberanian, pengorbanan, dan darah rakyat—yang tanggung jawab menjaganya kini berada di tangan generasi penerus. (Firdaus)










