Magelang, SRIWIJAYADAILY – Kisah inspiratif datang dari Letda Inf Mugiyanto, sosok prajurit TNI yang dikenal luas dengan julukan “Jenderal Kelengkeng”. Julukan itu bukan tanpa alasan, sebab Mugiyanto dikenal karena keberhasilannya mengembangkan budidaya kelengkeng unggul di lahan tandus dan membuatnya berbuah di luar musim.
Kini, mantan Bintara Pembina Desa (Babinsa) itu resmi dilantik menjadi perwira TNI Angkatan Darat, menandai tonggak penting dalam perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan, dedikasi, dan semangat pantang menyerah.
Perjalanan hidup Mugiyanto tak selalu mudah. Ia pernah kehilangan satu kaki akibat ledakan granat saat bertugas di Ambon. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Setelah masa pemulihan, ia kembali berdinas di Kodim 0705/Magelang dan menemukan panggilan baru dalam dunia pertanian.
“Kekurangan bukan akhir dari segalanya. Justru keterbatasan menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, berinovasi, dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” ujar Mugiyanto.
Melalui kerja keras dan ketekunan, Mugiyanto berhasil menciptakan sistem budidaya kelengkeng yang menguntungkan secara ekonomi dan memberdayakan masyarakat desa. Inovasinya bahkan menarik perhatian Kementerian Pertanian, yang kerap mengundangnya sebagai narasumber pelatihan petani di berbagai daerah.
Atas kontribusinya, Mugiyanto telah menerima berbagai penghargaan dari Presiden RI, Kementerian Pertanian, dan TNI atas dedikasinya dalam mengembangkan pertanian nasional. Kini, dengan pangkat baru sebagai perwira, ia bertekad melanjutkan perjuangannya, tidak hanya di bidang militer, tetapi juga dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Ia juga menyatakan dukungan terhadap program swasembada pangan yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
“Program pemerintah ini, insya Allah, pasti berhasil. Kami siap mendukung penuh langkah nyata Pak Mentan Amran dalam memajukan pertanian Indonesia,” katanya dengan optimis.
Bagi Mugiyanto, julukan “Jenderal Kelengkeng” bukan sekadar penghormatan, tetapi simbol semangat juang tanpa batas, inovasi, dan cinta tanah air. Ia membuktikan bahwa seorang prajurit sejati tak hanya menjaga kedaulatan negara, tetapi juga berperan dalam membangun kesejahteraan rakyat.
“Saya terlalu mencintai negeri ini. Selama masih bernafas, saya akan terus mengabdi untuk Ibu Pertiwi dan kemajuan pertanian Indonesia,” tutupnya.**
Sumber: KABARIKA.ID










